NEMATODA
CIRI-CIRI UMUM :
1. mempunyai saluran pencernaan dan rongga badan, rongga badan tersebut dilapisi oleh selaput seluler sehingga disebut SPEUDOSEL atau PSEDOSELOMA.
2. Potongan melintangnya berbentuk bulat, tidak bersegmen dan ditutupi oleh kutikula yang disekresi oleh lapisan hipodermis (lapisan sel yang ada dibawahnya).
STRUKTUR ANATOMI
SISTEM INTEGUMEN, permukaan luar tubuh cacing diselubungi oleh kutikula yang merupakan ikatan paling sedikit tersusun oleh 5 macam protein dan dapat dibedakan menjadi 3 lapis mulai dari permukaan secara berturutan adalah sebagai berikut : korteks, matriks dan basal. Dibawah integumen adalah hipodermis dan lapisan otot.
SISTEM DIGESTI, dimulai dari mulut pada ujung anterior tubuh yang dikelilingi oleh bibir, stoma atau rongga bukal/mulut (tidak selalu ada), esofagus, katup esofagointestina, intestinum atau mesonteron, sekum (ada/tidak), rektum (cacing betina) dan kloaka (cacing jantan) dan anus.
SISTEM SYARAF, sejumlah ganglia dan syaraf membentuk cincin yang mengelilingi ismus esofagus, dari cincin syaraf tersebut keluar 6 batang syaraf menuju ke anterior dan 4 ke posterior.
SISTEM REPRODUKSI, jenis kelamin kebanyakan nematoda adalah terpisah (uniseksual). Pada cacing jantan terdiri dari satu atau kadang-kadang dua testis tubuler. Secara berturutan setelah testis, vas eferens, vesikulum seminalis (sebagai tempat menyimpan sperma), vas deferens dan terakhir kloaka. Disebelah dorsal kloaka ditemukan kantung spikulum yang biasanya ditemukan 1atau 2 atau tidak spikula (alat untuk kopulasi).
Disekeliling anus ditemukan beberapa papila yang kadang-kadang bertangkai serta susunan berbeda pada setiap jenis cacing.
Ekor cacing jantan dapat dibedakan menjadi dua tipe , yaitu yang berupa sayap yang terbentuk dari kutikula sepanjang ekor cacing dan tidak terlalu melebar disebut ALA CAUDAL sedangkan yang melebar membentuk bentukan yang disebut BURSA (berfungsi untuk memegang cacing betina saat kopulasi).
Sistem reproduksi cacing betina terdiri dari 2 atau 1 ovarium tubuler, berikutnya masing-masing oviduks, uterus (bagian uterus ada yang meluas membentuk “” Reseptakulum Seminalis ” yaitu kantung sperma) , vagina dan terakhir vulva.
SIKLUS HIDUP
Siklus hidup cacing nematoda secara umum dapat dibagi menjadi dua :
A. secara langsung : 1. Melalui larva infektif : Ancylostoma sp.
2. melalui telur infektif : Ascaris sp., Trichuris sp.
Telur menetas (diluar tubuh hospes) menghasilkan L1, kemudian melewati dua kali ekdisis (ganti selubung) menjadi L2 dan L3. Stadium L3 disebut stadium infektif, karena kalau termakan oleh hospes akan berkembang menjadi cacing dewasa. Sedangkan L1 dan L2 walaupun sama-sama termakan tidak akan menjadi dewasa. Ada pula L3 yang selain infektif melalui mulut (termakan) bisa pula menembus kulit.
Telur berkembang diluar tubuh hospes, tetapi tidak menetas. Larva infektif (L2) tetap didalam telur . infeksi melalui mulut (termakan). contoh : Ascaris sp.
B. secara tidak langsung : melalui hospes Intermidier (HI) Dirofilaria sp., Thelazia sp.
1. Telur menetas atau cacing vivipar dan larvanya masuk kedalam hospes antara. Setelah hidup bebas sebentar, misalnya Metastrongylus sp. . Hospes intermidier termakan oleh hospes definitif.
2. Telur tidak menetas dan tertelan oleh hospes antara, misalnya Thelazia sp., acuaria sp. Hospes antara dimakan oleh hospes definitif.
3. Cacing vivipar dan larvanya masuk kedalam darah hospes, dan dihisap oleh hospes intermidier penghisap darah (nyamuk) tempat tumbuhnya larva infektif. Pada waktu hospes antara menghisap darah hospes definitif, larva infektif keluar dari probosis hospes antara menembus masuk kedalam hospes definitif melalui kulit . misal : dirofilaria sp.
Didalam siklus hidupnya larva cacing dalam tubuh hospes dapat mengalami :
1. Migrasi
a. migrasi melalui pembuluh darah
b. migrasi melalui pembuluh limpatic
2. tidak mengalami migrasi.
ORDO ASCARIDIDA
GENUS : ASCARIS
Ascaris adalah jenis cacing gilig yang besar. Bibirnya mempunyai peninggian bergigi, tetapi tidak ada interlabia atau sayap servikal. Ekor cacing jantan berbentuk kerucut, tanpa sayap kaudal tetapi terdapat sejumlah papila.
MORPOLOGI, cacing Ascaris suum berbentuk bulat panjang, memiliki kutikula yang tebal serta memiliki tiga buah bibir pada bagian mulutnya. Dua buah bibirnya terletak pada bagian dorsal. Masing-masing bibir dilengkapi dengan papillae dibagian lateral dan subventral dan dilengkapi pula dengan sederetan gigi pada permukaan sebelah dalam. Ukuran panjang tubuh cacing jantanberkisar antara 15-25 cm dengan diameter penampang lintang 3 mm. Sedangkan cacing betina dapat mencapai panjang 41 cm dengan diameter penampang lintangnya 5 mm.
SIKLUS HIDUP
Dalam perkembangannya, cacing A. suum melalui dua fase perkembangan yakni fase eksternal (diluar tubuh ternak) dan fase internal ( di dalam tubuh ternak)
Fase eksternal : dimulai sejak telur cacing Ascaris dikeluarkan bersama dengan faeses dari dalam tubuh ternak penderita saat defikasi. Di alam luar, pada kondisi lingkungan yang menunjang, telur akan berkembang sehingga didalam telur terbentuk larva stadium I. Bila kondisi tetap menunjang, larva stadium I akan menyilih menjadi larva stadium II yang bersifat infeksius (telur infektif) dan siap menulari ternak babi apabila telur tertelan.
Fase internal dimulai saat telur yang infektif tertelan oleh hospes definitif. Didalam usus halus, telur infektif tersebut dicerna oleh enzim pencernaan dan terbebaslah larva stadium II. Larva II akan menembus dinding usus halus menuju hati atau larva akan mengikuti peredaran darah vena porta menuju ke hati. Selanjutnya larva II tersebut menembus kapsul hati dan masuk melalui sel-sel parenkem hati untuk selanjutnya ikut peredaran darah dari hati menuju ke jantung, paru-paru, dan bahkan dapat menyebar seluruh organ tubuh. Jika babi bunting dapat terjadi infeksi prenatal. Juga larva dapat mencapai kelenjar susu, didalam kelenjar susu, larva cacing akan bersifat dorman (tidak berkembang lebih lanjut atau mengalami fase istirahat ) dan baru akan berkembang didalam tubuh keturunannya (anak) bila mana sudah lahir dan penularannya melalui air susu.
Didalam paru-paru larva stadium II berkembang menjadi larva III, kemudian keluar dari kapiler alveoli paru-paru menuju bronchioli, bronchi dan selanjutnyake trachea, pharing (iritasi terjadi proses batuk) akhirnya larva III tertelan dan sampailah kembali ke dalam usus halus. Di dalam usus halus larva III menyilih menjadi larva IV dan menyilih untuk menjadi larva V (dewasa).
Cacing betina dewasa dapat menghasilkan telur sebanyak 200.000 butir per har, dan diduga bahwa seekor cacing A. suum betina dewasa selama hidupnya dapat menghasilkan telur sebanyak 27 milyard butir. Telur berukuran 50-80 X 40-60 mikron, berdinding tebal, berwarna kuning kecoklatan serta pada bagian luarnya dilapisi oleh lapisan albumin yang tidak rata sehingga membentuk tonjolan yang bergerigi (ciri khas dari genus Ascaris ).
HOSPES DEFINITIF DAN PREDILEKSI, berparasit pada babi dan predeleksinya didalam usus halus.
GENUS : PARASCARIS
Merupakan cacing nematodadengan tubuh yang tebal dan bahkan lebih besar dari Ascaris. Ketiga bibir tampak jelas dipisahkan oleh alur horizontal menjadi bagian anterior dan posterior. Ujung posterior cacing jantan membulat atau berbentuk kerucut tumpul dengan sayap kaudal kecil. Tidak ada gubernakulum.
SPESIES, Parascaris equorum, berpredeleksi di dalam usus halus kuda termasuk zebra dan equidae. Cacing jantan panjangnya 15 – 28 cm dan diameternya 3-6 mm, spikulanya sama besar dengan panjang 2 – 2,5 mm. Cacing betina panjangnya 18 – 50 cm dengan diameter mencapai 8 mm. Vulva terletak 1/ 4 anterior tubuh, telurnya berbentuk agak bulat dengan diameter 9-10 mikron, kulit tebal berbintik-bintik halus.
SIKLUS HIDUP, sama dengan A. suum.
GENUS : TOXOCARA
Dikenal 3 spesies penting yaitu : Toxocara canis, T. cati dan T. Vitulorum
1. Toxocara canis, berpredeleksi dalam usus halus anjing dan rubah, lebih besar dari Toxascaris leonina. Cacing jantan panjangnya mencapai 10 cm dan yang betina 18 cm. Telurnya berbentuk agak bulat berukuran 85-90X75 mikron dengan dinding tebal dan berbintik-bintik halus.
2. Toxocara cati, berpredeleksi didalam usus halus kucing. Morfologinya hampir sama dengan T. canis, cacing jantan panjangnya 3 – 7 cm, spikulumnya tidak sama besar dan bersayap. Cacing betina panjangnya 4-12 cm. Telur berukuran 65 – 75 mikron.
3. Toxocara vitolurum, berpredeleksi didalam usus halus sapi, kerbau, domba dan kambing. Bibirnya lebar pada pangkalnya dan semakin keujung menyempit. Cacing jantan panjangnya mencapai 25 cm dengan diameter 5 mm. Ujung posteriornya meruncing dan sering disebut berujung paku. Cacing betina panjangnya 30 cm dengan diameter 6 mm. Vulva cacing terletak 1/8 ujung anterior tubuh. Telurnya berukuran 75-95 X 60 – 75 mikron. SIKLUS HIDUP, sama dengan A. suum
GENUS : TOXASCARIS
Cacing dari genus ini hampir sama dengan Toxocara sp., perbedaannya bibir lobulus anterior terpisah oleh sebuah alur yang dalam dan lobulus tersebut melebar dan pada ujungnya berlobus dua.
SPESIES, Toxascaris leonina, berpredeleksi didalam usus halus anjing, kucing, rubah dan berbagai filidae. Ujung anterior cacing dewasa membengkok ke dorsal, cacing jantang panjangnya 2 – 7 cm dengan diameter1,5 – 2 mm. Sedangkan cacing betina panjangnya 2 – 10 cm, vulvanya berada 1/3 anterior tubuh. Telur mempunyai kulit yang tebal dan halus dengan ukuran 5 – 85 X 60 –75 mikron.
SIKLUS HIDUP, larva II infektif menetas didalam usus halus, kemudian masuk kedalam mukosa usus untuk beberapa saat dan akhirnya kembali lagi kedalam usus dan mengalami perkembangan lebih lanjut menjadi dewasa.
GENUS : OXYURIS
SPESIES : O. equi., dijumpai didalam usus besar dari bangsa kuda di seluruh dunia. Cacing jantan Panjang 9 – 12 mm dan betina sampai 150 mm.
MORPOLOGI, Oesofagus sempit ditengah. Yang jantan mempunyai spikulum 120 – 150 mikron. Ekor memiliki 2 pasang papilla besar dan beberapa papilla kecil. Cacing betina muda berwarna hampir putih, agak melengkung dan memiliki ekor pendek dengna ujung membulat runcing. Cacing berwarna keabuan atau kecoklatan dengan ekor langsing. Telur bulat panjang, agak mendatar pada ujungnya dengan sumbat pada satu ujungnya. Ukuran telur 90 X 42 mikron.
SIKLUS HIDUP
Cacing betina dan betina muda hidup di caecum dan colon crasum. Setelah pembuahan, betina yang dewasa kelamin mengembara ke rectum dan merayap ke luar melalui anus. Telur dilepaskan dalam gerombolan-gerombolan di kulit daerah perianal. Perkembangan telur cepat dan menjadi stadium infektif dalam 3-5 hari. Telur infektif dapat mencapai daerah perianal dan menetas disitu, namun biasanya telur-telur terjatuh ditanah. Pada keadaan lembab telur dapat hidup dalam beberapa minggu, tetapi pada kondisi kurang menunjang telur akan mati. Infeksi terjadi karena menelan telur infektif. Larva infektif terbebas di dalam usus halus dan larva stadium III akan dijumpai didalam mukosa cryptus dari colon dan caecum. Larva stadium 4 akan dijumpai sekitar 8 – 10 hari setelah menelan telur. Dewasa kelamin akan dicapai sekitar 4-5 bulan setelah infeksi.
GENUS : ASCARIDIA
SPESIES : Ascaridia galli, A. columbae, A. dissimilis yang predeleksinya di dalam usus halus ternak unggas seperti ayam, mentog, kalkun, itik dan berbagai burung liar di seluruh dunia.
MORFOLOGI : Ascaridia galli merupakan cacing berbentuk silinder, berukuran paling besar pada unggas. Cacingberwarna putih kekuning-kuningan, memiliki tiga buah bibir yang berukuran sama, esofagus berbentuk alat pemukul dan tidak dijumpai adanya bulbus posterior.
Cacing jantan panjangnya 5-6 cm dan ekornya mempunyai alae kecil yang dilengkapi dengan sepuluh pasang papillae yang sebagian besar pendek dan tebal. Mempunyai sucker (batil isap ) precloaka dan berbentuk bundar dengan tepi cutikuler yang tebal. Spikulum tidak sama besarnya, tetapi sama panjang berukuran 1-2,4 mm dan tidak ada gubernakulum.
Cacing betina dewasa berukuran 7,2 – 11,6 cm, bagian ekornya memipih kebagian ujung, sedangkan lubang kelamin terletak lebih kearah depan (pertengahan tubuh).
Telur cacing A. galli berbentuk oval dengan dinding yang halus, licin, tidak bersegmen dan belum berkembang saat dikeluarkan. Telur cacing berukuran 73 – 92 X 45-57 mikron. Cacing betina dewasa mengeluarkan telur sebanyak 250.000 butir setiap hari.
SIKLUS HIDUP
Telur cacing keluar bersama tinja hospes definitif terinfeksi pada saat defikasi. Di alam luar telur akan mengalami perkembangan yaitu di dalam telur akan terbentuk larva, telur infeksius (telur dengan larva stadium II) akan dicapai setelah kira-kira 10 hari dan sangat tahan terhadap pengaruh luar, dan bahkan dapat bertahan selama tiga bulan pada tempat yang teduh tetapi cepat terbunuh dalam kekeringan, kepanasan dan terkena sinar matahari langsung.
Unggas terinfeksi bila makan/minum yang tercemar telur infektif atau termakannya cacing tanah yang sebelumnya menelan telur cacing infektif, transmisi dapat terjadi secara mekanik langsung ke dalam usus hospes definif. Setelah telur infeksius tertelan, didalam saluran pencernaan hospes definitif , karena pengaruh enzem pencernaan telur akan menetas dan terbebaslah larva stadium II. Setelah menetas, larva II akan menetapdidalam lumen usus selama 8 hari dan mengalami ekdisis ( menyilih) menjadi larva III, setelah itu larva III akan masuk kedalam mukosa usus halus sampai hari ke-17 menyilih menjadi larva IV dan akhirnya masuk ke lumen usus dan menjadi dewasa ( 6-8 minggu ).
GENUS : HETERAKIS
Spesies yang penting adalah heterakis gallinarum, dijumpai didalam caecum dari ternak unggas, bebek, mentog, angsa dan bangsa burung.
Cacing jantan berukuran panjang 7-13 mm. Cacing betina 10-15 mm. Memiliki alae lateralis yang besar, dengan esofagusbulbus yang kuat. Ekor cacing jantan diperlengkapi alae yang besar, sebuah sucker precloaca yang menonjol dan membulat serta 12 pasang papillae. Spikula tidak sama, yang kanan langsing 2 mm, yang kiri memiliki sayap lebar 0,65 –0,7 mm. Vulva ditengah-tengah tubuh cacing betina. Telur berdinding tebal, halus dengan ukuran 65-80 u X 35 – 46 mikron.
SIKLUS HIDUP
Telur cacing keluar bersama tinja saat defikasi, kemudian telur cacing diluar tubuh hospes berkembang menjadi stadium II yang infektif setelah 14 hari (270 C), tetapi perkembangan biasanya lebih lama sampai beberapa minggu pada suhu yang lebih rendah. Telur sangat tahan terhadap kondisi lingkungan dan tahan sampai berbulan-bulan.
Bila hospes menelan telur infektif, larva menetas dalam usus halus setelah 1-2 jam. Sekitar 4 hari kemudian cacing-cacing muda tersebut berada dalam mukosa caecum dan dapat merusak kelenjar disitu. Didalam kelenjar larva stadium II berada selama 2-5 hari sebelum melanjutkan perkembangan di dalam lumen. Pada 6 hari setelah infeksi menyilih menjadi stadium III, kemudia pada hari ke-10 menyilih menjadi stadium IV dan pada hari ke-15 menjadi dewasa. Periode prepaten adalah 24-30 hari setelah infeksi.
Cacing tanah dapat membantu sebagai reservoir (inang paretenik), dimana dalam tubuh cacing tanah parasit berada sebagai larva stadium II. Infeksi terjadi karena memakan cacing tanah yang mengandung larva stadium II.
ORDO RABDITIDA
GENUS : STRONGYLOIDES
Cacing ini disebut cacing benang, terdapat bentuk bebas di alam dan bentuk parasitik didalam intestinum vertebrata. Bentuk parasitik adalah PARTHENOGENETIK dan telur dapat berkembang diluar tubuh hospes, langsung menjadi larva infektif yang bersifat parasitik atau dapat menjadi bentuk larva bebas yang jantan dan betina. Cacing ini esofagus panjang dan bentuk selindris, vulva terletak pada bagian pertengahan tubuh posterior, ekor pendek dan telur telah berembrio.
Bentuk bebas : adanya cacing jantan dan betina dengan esofagus rabditiform, ujung posterior cacing betina meruncing ke ujung vulva terletak di pertengahan tubuh.
Bentuk parasitik : esofagus filariform tanpa bulbus posterior, larva infektif dari generasi parasitik mampu menembus kulit dan ikut aliran darah.
SIKLUS HIDUP
Terjadi bentuk parasitik sempurna dan non parasitik sempurna dan terjadi kombinasi dari kedua bentuk. Betina parthenogenetik dijumpai terbenam di dalam mukosa usus halus. Bentuk ini memproduksi telur transparan berdinding tipis yang dikeluarkan bersama tinja. (kecuali S. stercoralis, telur ini menetas didalam tinja dan larva stadium I dijumpai didalam tinja).
Larva stadium I dapat berkembang langsung menjadi larva stadium 3 yang infektif (siklus Homogenik), atau berkembang menjadi bentuk jantan dan betina bebas yang akan dapat memproduksi larva infektif (siklus heterogenik). Bila kondisi lingkungan menunjang siklus heterogenik yang dominant dan bila tidak menunjang siklus homogenik yang dominant.
Pada siklus heterogenik larva stadium I ditransformasikan secara cepat sehingga dalam 48 jam terbentuk cacing jantan dan betina bebas yang dewasa kelamin. Melalui kopulasi, betina bebas memproduksi telur yang akan menetas dalam beberapa jam dan kemudian mengalami metamorposa menjadi larva infektif. Hanya satu generasi larva yang diproduksi oleh betina bebas.
Pada siklus homogenik larva stadium I cepat mengalami perubahan menjadi larva III (infektif) yakni sekitar 24 jam pada suhu 27 0C. infeksi pada hospes vertebrata terjadi dengan menembus kulit, tetapi dapat juga secara oral dan menembus mukosa mulut/esofagus dan dibawa bersama darah ke paru-paru, memecah alveoli – bronchiole – bronchus – trachea – pharing dan tertelan. Periode prepaten 5 – 7 hari. Infeksi prenatal terjadi pada S. ransomi, pada babi dan S. papillosus pada sapi. Dan juga melalui air susu.
ORDO : STRONGYLIDA
GENUS : STRONGYLUS
Terdapat capsulla buccalis bentuk globoid yang berkembang sempurna pada dinding dorsal. Tetapi anterior capsulla buccalis biasanya memiliki alat kutikuler berbentuk daun yang disebut corona radiata. Terdapat corona radiata external pada lubang mulut dan corona radiata internal pada dinding sebelah dalam capsulla buccalis. Bursa pada cacing jantan berkembang sempurna dan kuat yang memiliki cabang-cabang (alur) yang tipik didalamnya.
Strongylus equinus, dijumpai didalam sekum dan colon bangsa kuda , termasuk zebra. Warna cacing abu-abu hitam. Kadang-kadang kemerahan karena darah dalam saluran pencernaan yang tampak. Cacing jantan panjangnya 26-35 mm, yang betina 38-47 mm, dengan penampang 2 mm. Capsulla buccalis oval dan memiliki corona radiata external dan internal. Pada pangkal dari capsula buccalis terdapat gigi dorsal yang besar dan dua gigi subventral yang lebih kecil. Cacing jantan memiliki dua spikula. Vulva dari cacing betina terletak sekitar 12-14 mm dari bagian posterior tubuh.
Bentuk telur oval, dinding tipis dan telah mengalami awal segmentasi pada saat dilepaskan dari tubuh, ukuran telur 70 – 85 u X 40-75 mikron.
Spesies lain : S. edentatus, S. vulgaris, S. asini.
SIKLUS HIDUP
Telur –telur keluar bersama tinja dan telah mengalami awal segmentasi. Dinding telur tipis, terdiri dari lapisan dinding sebelah luar yang terdiri dari bahan chitin dan membrana vitellinus di dalamnya. Pada suhu 26 C terbentuk larva stadium I dalam waktu 20-24 jam yang menetas dari telur dan menjadi larva stadium bebas. Setelah menetas, larva berada pada stadium I, yaitu bentuk rhabditiform. Makanan larva adalah bakteri , kemudian terus bertumbuh dan menyilih menjadi larva stadium II. Bentuk rhabditiform esofagus berkurang, kemudian tumbuh menjadi larva yang kutikulanya masih tetap berasal dari stadium sebelumnya dan bersifat infeksius. Larva stadium infeksius tidak makan bakteri dari alam sekitarnya, tetapi memperoleh makanannya dari granula makanan yang tersimpan didalam sel-sel intestinum.
Larva infeksius tidak aktif masuk kedalam tubuh hospes, tetapi tertelan bersama makanan.
Larva stadium infeksius bersifat :
1. geotrofik negatif : selalu merayap keatas ke daun-daun rumput dan lain-lain.
2. Phototropic pada sinar lemah, tapi takut pada sinar kuat, sehingga larva merayap naik pada pagi hari dan sore hari atau pada cuaca mendung.
3. Migrasi terjadi lebih aktif pada keadaan panas dibanding dingin.
Kemampuan hidup larva pada pasture tergantung pada kondisi lingkungan yaitu, kelembaban, suhu dan sinar matahari. Karena persedian makanan terbatas, kondisi yang mendukung pergerakan maka larva lebih cepat mati. Pada musim panas, larva tidak dapat hidup lebih dari 3 bulan, tetapi pada musim dingin dapat hidup setahun atau lebih.
Infeksi terjadi karena memakan larva infeksius dan perkembangan larva stadium infektifselanjutnya yaitu pelepasan dan pergantian kulit yang terjadi didalam usus halus hospes.
Pada Strongylus equinus, larva yang telah berganti kulit, menembus masuk mukosa sekum dan kolon dan masuk ke sub serosa untuk membentuk nodule disitu. Sebelas hari setelah infeksi, terbentuk larva didalam nodule. Larva stadium 4 migrasi ke rongga peritonium, terus ke hati yang berlangsung selama 6-8 minggu. Antara 2-4 bulan setelah infeksi, larva meninggalkan hati melalui ligamentum hepatika dan pergi ke rongga peritonium melalui pankreas. Setelah 118 hari dari saat infeksi, terbentuk larva stadium 5 dan menuju ke sekum dan kolon. Periode prepaten adalah 260 hari.
GENUS : HAEMONCHUS
MORFOLOGI : Cacing Haemonchus contortus merupakan cacing lambung yang besar, sehingga disebut juga cacing ” Barberpole” , cacing lambung berpilin atau cacing kawat pada ruminansia. Cacing H. contortus berpredeleksi didalam abomasum kambing, sapi, kambing dan ruminansia lain.
Cacing jantan panjangnya 10-20 mm diameter 400 mikron, berwarna merah terang serta memiliki spikula dan bursa. Bursanya ditemukan di bagian posterior tubuh tersusun oleh dua lobus lateral yang simetris dan satu lobus dorsal yang tidak simetris, sehingga membentuk percabangan seperti huruf Y dan berwarna mengkilat.
Cacing betina mempunyai ukuran lebih panjang dari cacing jantan yaitu 18-30 mm dengan diameter 500 mikron, nampak adanya anyaman-anyaman yang membentuk spiral antara organ genital (Ovarium) yang berwarna putih dengan usus yang berwarna merah karena penuh berisi darah, sehingga akan nampak berwarna merah puti secara berselang seling. Mempunyai ” Flaf anterior” yang menutupi permukaan vulva yang umumnya besar dan menonjol. Cacing betina dewasa mampu bertelur sebanyak 5.000 – 10.000 butir setiap hari. Telur berbentuk lonjong dan berukuran 70-85 X 41 –48 mikron yang pada saat keluar bersama tinja, perkembangan telur telah mengalami stadium morula (didalam telur telah mengandung 16-32 sel).
SIKLUS HIDUP
Telur cacing dikeluarkan bersama faeses dari hewan penderita ke alam bebas, setelah 24 jam pada lingkungan yang mendukung (suhu dan kelembaban) akan segera menetas dan terbebaslah larva stadium I. Pada kondisi yang tetap mendukung larva I akan ekdisis menjadi larva II, kemudian akan menjadi larva III yang infektif. Larva III akan merayap keatas daun atau rumput-rumputan serta dapat bertahan hidup untuk beberapa minggu – bulan jika kondisi tetap menunjang.
Jika larva infektif dimakan hospes definitif melalui rumput yang tercemar, maka selanjutnya menyilih menjadi larva IV dan menempel pada mukosa abomasum untuk menghisap darah. Larva IV akan mengalami penyilihan yang terakhir menjadi cacing muda yang berpredeleksi didalam abomasum serta menghisap darah. Cacing betina sudah dapat bertelur dalam waktu 18 – 21 hari setelah infeksi.
Spesies lain :
1. H. placei , berpredeksi didalam lambung sapi, tetapi juga menginfeksi domba dan ruminansia lain. Morfologi sangat mirip dengan H. contortus hanya spikulum cacing jantan lebih panjang dengan kait-kait terminal panjang juga, sedang cuping vulva cacing betina bentuknya mengecil seperti bintil.
2. H. similis, menginfeksi lambung sapi dan kadang-kadang domba.
GENUS : OESOPHAGUSTOMUM
MORFOLOGI, Cacing ini memiliki capsula buccalis silindris dan sempit. Memiliki corona radiata. Mempunyai bursa terdiri 3 lobi dan ada spikula. Merupakan parasit pada caecum dan colon pada ternak sapi, kambing, domba, babi dan kera. Sering disebut cacing nodular, sebab larva cacing membentuk nodular pada intestinum.
O. columbionum : dijumpai pada colon domba, kambing, unta. Cacing jantan Panjang 12-16,5 mm. Dan betina sekitar 15-21,5 mm, dengan penampang sekitar 0,45 mm. Ukuran telur berkisar 73-39 U X 34-45 mikron.
O. radiatum : dijumpai didalam colon sapi, kerbau dan zebu. Cacing jantan panjang 14-17mm dan betina 16-22 mm.
O. dentatum : dijumpai di dalam usus besar babi.
SIKLUS HIDUP
Telur keluar bersama tinja hospes . di luar tubuh perkembangan stadium bebas sama dengan Strongylus sp. Stadium infektif dicapai pada kondisi optimum dalam waktu 6-7 hari. Setelah ditelan larva infektif mengalami pergantian kulit dalam usus halus dan sehari setelah infeksi larva menembus dinding usus yakni pylorus sampai ke rectum. Kondisi selanjutnya terjadi didalam muskularis mukosa yaitu 4-5 hari setelah infeksi dan larva tumbuh sampai sekitar 1,5 –2,5 mm setelah 5-7 hari, larva kembali masuk kedalam lumen intestinum dan migrasi kecolon. Disitu mengalami ekdisis ke empat dan berubah menjadi cacing dewasa. Telur tampak pertama pada tinja penderita setelah 41 hari infeksi. Sebagian larva dapat tinggal menetap dalam mukosa dalam waktu yang lebih lama pada anak domba.
GENUS : STEPHUNURUS
MORFOLOGI
Cacing in memilki capsul bukalis berbentuk cawan, berisi gigi-gigi. Spesies yang penting yaitu Stephurus dentatus yang merupakan cacing ginjal pada babi. Dijumpai didalam jaringan lemak perirenal, Pars pelvina dari ginjal dan dinding ureter. Kadang-kadang sebagai parasit eratika pada hati dan alat-alat abdomen lainnya serta alat-alat di rongga thorak. Parasit ini tersebar di wilayah tropis dan sub tropis. Cacing jantan panjangnya 20-30 mm, cacing betina 30-45 mm. Yang betina 2 mm lebarnya. Capsula bukalis berbentuk cawan dengan dinding tebal dengan 6 gigi tebal pada dasarnya. Bursa pada jantan kecil dengan alur yang pendek. Kedua buah spikula sama panjang. Vulva terletak dekat dengan anus. Telur berbentuk elips berdinding tipis dengan ukuran 90-120 u X 43-70 mikron.
SIKLUS HIDUP
Cacing dewasa biasanya hidup berkumpul didalam atau dekat ginjal di tempat [perhubungan dengan ureter dan telur dikeluarkan bersama urine hospes. Pada stadium ini embrio didalam telur terdiri sekitar 32-64 sel. Perkembangan larva stadium preinfektif sama dengan Strongylus sp. Pada suhu optimal 26 C, telur menetas setelah 24-36 hari dan larva mencapai stadium infektif 4 hari setelah mengalami dua kali ekdisis.
Infeksi terjadi per-os atau melalui kulit. Cacing tanah dapat bertindak sebagai pembawa penyakit. Larva infektif dapat berkumpul dalam masa emoebocyte dari cacing tanah dan dapat hidup disini selama beberapa minggu atau bulan. Kulit pembungkus larva infektif segera akan lepas setelah infeksi dan ecdisis ketiga terjadi setelah 72 jam kemudian, yaitu pada dinding lambung atau kulit atau otot-otot abdominal setelah infeksi perkutan.
Dari kedua jalan infeksi, larva menuju ke hati. Bila infeksi per oral melalui pembuluh darah porta dan dicapai sekitar 3 hari, dan bila perkutan melalui paru-paru dan sistem sirkulasi dalam 40 hari. Dari hati mengembara dibawah kapsul hati dan menembus kapsul hati mencapai rongga peritonium. Kemudian mencapai jaringan perirenal dan menembus dinding ureter, serta membentuk cyste yang melanjut menghubungkan diri dengan ureter.
GENUS : BONUSTOMUM
MORFOLOGI
Merupakan cacing kait yang dijumpai didalam usus halus domba, kambing, sapi dan kerbau diseluruh dunia. Ujung anterior cacing melengkung kearah dorsal, sehingga capsula bukalis membuka kearah antero dorsal dan memiliki sepasang papan chitine pada tepi ventral. Di dekat dasarnya terdapat sepasang gigi sub ventral yang kecil. Tidak mempunyai gigi dorsal didalam capsula bukalis. Bursa berkembang dengan baik dan memiliki lobus dorsalis yang asimetris. Ujung telur tumpul membulat dan sel-sel embrional tampak sebagai granula yang berwarna gelap.
SPESIES : B. trigonocephalum dijumpai didalam usus halus domba dan kambing
B. phlebotomum dijumpai didalam usus halus sapi.
SIKLUS HIDUP
Perkembangan telur sama seperti Strongylus sp. Infeksi terjadi melalui makanan atau minuman yang tercemar larva infektif (larva stadium 3) dan dapat juga melalui kulit. Setelah infeksi melalui kulit, larva melanjut mengikuti peredaran darah menuju ke paru-paru dan disini terjadi ekdisis yang ketiga. Larva stadium keempat, memiliki capsula bukalis dan mencapai usus halus setelah 11 hari. Periode prepaten 30-56 hari.
Larva infektif tidak tahan terhadap kering. Infeksi umumnya dijumpai didalam pasture yang terus menerus basah.
GENUS : SYNGAMUS
MORFOLOGI
Speies yang penting Syngamus trachea, dijumpai di dalam trachea mentog, ayam, bebek, angsa dan berbagai burung diseluruh dunia. Berwarna merah tua dan selalu berada dalam keadaan kopulasi. Cacing jantan panjang 2-6 mm, yang betina 5-20 mm. Lubang mulut lebar, tanpa corona radiata. Capsula bucalis bentuk cawan berisi 6-10 gigi-gigi kecil pada dasarnya. Bursa cacing jantan memiliki alur pendek dan kuat. Telur ukurannya 70-100 U X 43-48 mikron, memiliki operculum tebal pada kedua ujung.
SIKLUS HIDUP
Telur cacing pada umumnya dibatukkan keatas dan ditelan masuk alat pencernaan, kemudian keluar tubuh bersama tinja. Larva infeksius terbentuk didalam telur setelah keluar dari dalam tubuh. Pada kondisi optimal yaitu kelembaban tinggi dan suhu optimal dibutuhkan waktu 3 hari, pada kondisi lapangan dibutuhkan waktu 1 sampai 2 minggu. Didalam telur larva ekdisis dua kali dan larva infektif dapat menetas dari telur, namun pada umumnya infeksi terjadi dengan menelan telur yang mengandung larva infektif. Larva yang menetas dapat tertelan oleh cacing tanah, siput, kumbang, kutu dan arthropoda lainnya dan mengkista disitu. Arthropoda dan cacing tanah dapat sebagai inang paratenik.
Larva yang menetas dari telur, didalam usus akan menembus dinding usus, ikut aliran darah sampai ke paru-paru, dicapai selama 6 jam. Ecdisis berikut terjadi 3 hari setelah infeksi . ecdisis terakhir terjadi hari keempat atau kelima dan cacing muda migrasi dari alveoli ke bronchioli yang lebih besar dan copulasi disini. Trachea dicapai setelah 7 hari dan periode prepaten 17 – 20 hari setelah infeksi.
GENUS : ANCYLOSTOMA
MORFOLOGI
Cacing Ancylostoma sp. Juga dikenal dengan cacing tambang. Cacing dewasa berukuran relatif kecil, berbentuk silinder, kaku, berwarna putih kelabu atau kemerahan tergantung banyaknya darah yang ada didalam saluran pencernaannya. Ujung anterior cacing melengkung kearah dorsal dan celah mulut mengarah ke antero dorsal. Capsul buccalisnya dalam dengan 1-3 pasang gigi pada tepinya dan lancet segitiga ” Trianguler ” atau gigi dorsal yang berada didalamnya.
Cacing jantan berukuran panjang 9-12 mm, mempunyai alat kelamin tunggal, dimana bursa cacing jantan mempunyai kerangka yang bentuknya sempurna dan sepasang spikulum sama besar yang panjangnya sekitar 0,9 mm, terdapat gubernakulum bermuara pada kloaka yang terletak pada bursa tersebut. Testis terdapat hanya satu, berbentuk seperti tubulus yang dimulai kira-kira disebelah anterior dari kelenjar air mani yang berjalan ke anterior sampai sebatas kelenjar cervicalis anterior, kemudian berbalik kebelakang membentuk saluran yang berkelok-kelok sampai dipertengahan tubuh cacingdan kemudian tubulus melebar membentuk vesicula seminalis. Saluran reproduksi ini kemudian dilanjutkan dengan duktus ejakulatorius. Ada sepasang spikula yang juga bermuara pada kloaka berfungsi untuk mengarahkan pancaran air mani kedalam saluran reproduksi cacing betina, sedangkan bursa kopulatrik berfungsi untuk memegang tubuh cacing betina pada saat kopulasi.
Cacing betina berukuran panjang 15-18 mm, alat kelaminnya berpasangan, dimana vulvanya terletak kira-kira di 1/3 posterior tubuhnya. Uterus dan ovarium cacing betina mempunyai bentuk yang berkelak-kelok dan dilanjutkan dengan oviduct. Sel telur yang dibuahi akan mengalami perkembangan dengan jalan pembelahan sel, selanjutnya akan dikeluarkan dari tubuh cacing setelah memiliki 2-8 selbersama tinja saat defikasi. Telur cacing berbentuk ovoid dengan ujung membulat atau tumpul, terbungkus dari dinding telur yang tipis dengan ukuran 56-75 X 34-47 mikron.
SIKLUS HIDUP
Cacing Ancylostoma sp. Mengeluarkan telur bersama feses saat defikasi, pada lingkungan yang mendukung (suhu 23 – 30 0C tanah berpasir dan basah, kelembaban tinggi).didalam telur akan terbentuk larva I. Setelah 12-36 jam, telur yang mengandung larva I akan segera menetas dan terbebaslah larva I yang mempunyai bentuk esofagus yang rhabditiform berukuran 275 mikron serta memanfaatkan sisa organik dan bakteri sebagai bahan makanan.
Larva I akan segera memasuki fase lethargi (istirahat) dan selanjutnya menyilih menjadi larva II yang esofagusnya sudah kelihatan lebih langsing, setelah 5-8 hari akan mengalami penyilihan lagi dan menjadi larva III (infektif) dengan esofagus filariform. Baik larva II dan larva III sumber makanan sama dengan Larva I.
Cara penularan cacing ini dengan larva infektif melalui :
1. Per –oral. Infeksi terjadi karena tertelannya larva III bersama makanan atau minuman. Setelah berada didalam saluran pencernaan, larva III akan segera memasuki kelenjar lambung atau krypta liberkun dan setelah 3 hari larva III akan mengalami penyilihan menjadi IV dan kembali bermigrasi ke lumen usus. Setelah beberapa hari larva IV akan mengalami penyilihan sekali lagi dan berkembang menjadi cacing muda.
2. Per-kutan (penetrasi kulit), larva infektif (L3) yang aktif akan menembus kulit atau mukosa rongga mulut, selanjutnya bersama aliran darah mencapai jantung dan selanjutnya masuk ke paru-paru. Di dalam paru-paru sebagian besar larva 3 akan tertahan kapiler paru-paru, selanjutnya menembus kapiler dan masuk ke dalam alveoli. setelah berada di alveoli larva 3 menyilih menjadi larva 4, selanjutnya bermigrasi ke bronchiolus, bronchus, trachea, pharing dan akhirnya karena batuk larva 4 tertelan dan sampai di usus halus. Di dalam usus halus mengalami ekdisis menjadi cacing muda. Cacing dewasa akan ditemukan setelah 17 hari setelah infeksi.
3. Pre-natal. Pada hospes definif bunting infeksi terjadi karena larva 3 yang berada pada aliran darah dapat melehati placenta dan akhirnya menginfeksi foetus. Larva 3 akan mengalami fase istirahat didalam usus foetus sampai dilahirkan. Setelah anak lahir larva 3 baru melanjutkan perkembangannya menjadi cacing dewasa.
4. Laktogenik. Infeksi pada anak terjadi karena anak menyusu pada induknyadan larva yang berada di dalam kelenjar susuakan keluar bersama air susu. Perkembangan selanjutnya akan terjadi didalam usus anaknya.
Beberapa spesies cacing Ancylostoma yang menginfeksi anjing antara lain : A. caninum, A. braziliense dan A. ceylanicum. Adapun identifikasi cacing tambang dapat dilakukan berdasarkan perbedaan morfologi (ukuran cacing, susunan gigi (alat pemotong) pada kapsul bukalis dan panjang spikulum pada bursa cacing jantan ) dan ukuran telur cacing.
Ada beberapa spesies lain :
1. A. tubaeforme, predeleksi pada usus halus kucing.
2. A. duodenale, berparasit pada manusia.
GENUS : METASTRONGYLUS
MORFOLOGI
Cacing ini merupakan cacing paru-paru pada babi. Terdapat dua bibir lateral berlobus tiga dan tersebar adalah lobus yang ditengah. Kapsul bukal sangat kecil, dengan spikula pada yang jantan panjang dan lembut, dengan sayap garis melintang. Ekor berbentuk kerucut. Vulva dekat dengan anus. Uterus paralel. Cacing ini oviparosa. Cacing jantan panjang 11-26mm dan cacing betina 28-60 mm. Telur berukuran 45-57 X 38-41 mikron dan telur berembrio ketika dikeluarkan.
Spesies yang penting : M. apri, M. salmi yang predeleksi pada trakea, bonki dan bronkiola pada babi.
SIKLUS HIDUP
Siklus hidup cacing ini secara tidak langsung yaitu melalui induk semang antara. Telur dikeluarkan pada bronkhus dan bronkhiolus, dibatukkan kemudian ditelan dan dikelurkan bersama tinja. Telur ini harus dimakan cacing tanah untuk perkembangan lebih lanjut. Cacing tanah yang dapat berperan sebagai hospes intermidier antara lain : Allobophora chloritica, Denroboena rubida, Eisenia austriaca, E. foitida dan Lumbricus terrestris. Babi terinfeksi dengan jalan memakan cacing tanah yang mengandung larva stadium 3, kemudian larva dibebaskan didalam usus halus babi, menembus usus halus menuju limfaglandula mesenterika melalui sistem limfe. Di tempat tersebut larva menyilih menyilih menjadi larva stadium 4, kemudian melalui sistem limfa dan peredaran darah menuju jantung dan paru-paru, menyilih menjadi stadium dewasa.
GENUS : DYCTYOCAULUS
MORFOLOGI
Dyctiocaulus viviparus merupakan cacing paru pada sapi. Predeleksinya pada trakea, bronki dan bronkiola pada sapi, zebu, unta dan berbagai ruminansia. Terdapat 4 bibir, yang dorsal dan ventral agak sedikit lebih besar dibanding yang lateral. Kapsul bukal sangat kecil dan terdapat cincin tebal, keras disekeliling bagian posterior. Spikula sama besar, pendek dan kuat. Vulva cacing betina dekat dengan pertengahan tubuh dan uterus arahnya berlawanan. Cacing jantan panjang 17-50 mm, dengan telur berukuran 82-88 X 33-38 mikron.
SIKLUS HIDUP
Cacing dewasa berada didalam paru-paru kemudian mereka mengeluarkan telurnya. Beberapa telur menetas, kemudian telur/larva dibatukkan sehingga dapat tertelan dan keluar melalui tinja atau lendir dari hidung atau mulut. Larva menyilih menjadi larva stadium 3 infektif yang berselubung. Larva termakan oleh sapi bersama makanan/rumput kemudian larva ini menuju limfoglandula mesenterika menyilih menjadi stadium keempat dan kemudian melalui pembuluh darah menuju paru-paru dan menjadi dewasa. Periode prepaten 3-8 minggu.
ORDO SPIRURIDA
GENUS : DIROFILARIA
MORFOLOGI
Cacing Dirofilaria immitis merupakan cacing jantung pada anjing yang berpredeleksi pada ventrikel kanan jantung, arteri pulmonalis dan vena cava. Hewan yang peka dari cacing ini anjing, kucing, serigala dan rubah. Infeksi pada manusia juga pernah dilaporkan.
Cacing jantan berbentuk langsing, berwarna putih dan berukuran panjang12-20 cm dengan diameter 0,7 –0,9 mm. Ujung posterior cacing jantan berbentuk kumparan spiral dan ekornya memiliki 4-6 pasang papilla ovoid, dimana satu pasang papilla terdapat pot kloakal, 2 pasang papilla berbentuk jari terdapat pada bagian lateral dan posterior dari lubang kloaka dan 3-4 pasang papilla berbentuk kerucut terdapat didekat ujung ekornya. Spikula kiri berukuran 0,324-0,375 mm, sedangkan yang sebelah kanan berukuran 0,19-0,229 mm dan tidak memiliki gubernakulum.
Cacing betina berbentuk langsing berwarna putih berukuran panjang 25-30 cm dengan diameter 1 mm. Vulva cacing betina tempatnya persis dibelakang ujung esofagus. Cacing Dirofilaria immitis dapat menghisap makanan lewat mulut (peroral) dan juga lewat kutikula (trans kutikular) dan sering ditemukan adanya eritrosit didalam saluran pencernaannya.
Larva cacing (mikrofilaria) berukuran 286 –300 X 6,1 –7,2 mikron dan bagian yang lebih pipih dibagian anterior, mikrofilaria menghisap sari-sari makanan berupa glukosa dan asam amino (uresil, uredin dan adenosin) lewat kutikulanya.
SIKLUS HIDUP
Cacing betina dewasa mengeluarkan mikrofilaria kedalam aliran darah. Mikrofilaria akan aktif selama 1-3 tahun, akan tetapi tidak mengalami perkembangan lebih lanjut, sampai terhisap oleh hospes intermidier (HI) yaitu berbagai jenis nyamuk (Aedes aegypti, Aedes sollicitans, culex salinarius). Pada saat hospes definitif digigit oleh hospes intermidier, mikrofilaria akan ikut terhisap bersama darah , kemudian berkembang menjadi larva II pada tubulus malphigi HI selama 10-11 hari. Pada hari ke-11 larva II bermigrasi menuju probosis melewati thorak serta mengalami penyilihan menjadi larva III yang bersifat infektif. Pada saat HI menghisap darah hospes definitif, maka larva III akan ikut bermigrasi kedalam tubuh hospes. Larva III selanjutnya akan berpredeleksi didalam jaringan subkutan, sub-serosa atau fascia intermuskuler serta mengalami 2 kali menyilih yaitu pada hari ke-9 - ke-12 dan pada hari ke-16 – ke-17 semenjak infeksi dan masih dibutuhkan waktu selama 2-3 bulan lagi untuk menjadi dewasa, sehingga mikrofilaria pertama akan muncul pada aliran darah tepi 6 bulan setelah infeksi.
Spesies lain : Dirofilaria repens, berpredeleksi pada jaringan ikat anjing, kucing
Dirofilaria tenuis, berpredeleksi pada jaringan sub kutan racoon.
GENUS : HABRONEMA
MORFOLOGI
Habronema muscae merupakan cacing lambung pada kuda dan sebangsanya. Cacing ini kecil berwarna putih , buccal kapsul berkembang baik dan bentuk ekor cacing jantan berupa kumparan. Vulva cacing betina dekat dengan pertengahan tubuh. Panjang cacing jantan 22 mm dan betina 35 mm. Telur kecil dan berembrio ketika dikeluarkan. Ukuran telur 40 – 50 X 10-12 mikron.
SIKLUS HIDUP
Cacing dewasa hidup pada lambung dan telur keluarbersama feses saat defikasi atau dapat menetads dalam usus, kemudian ditelan oleh hospes intermidier dari larva lalat (musca dan stomoxys ) dan parasit berkembang menjadi larva 3 stadium infektif. Larva akan berpindah ke probosis dari lalat dan menginfeksi host ketika lalat makan pada luka sekitar mulut atau lalat terjatuh pada minuman dan makanan. Larva menjadi dewasa dan bermigrasi ke lambung. Periode prepaten 2 bulan.
GENUS : THELAZIA
MORFOLOGI
Thelazia sp. Merupakan cacing berwarna putih yang jantan memiliki 14 pasang papilla prekloaka dan 3 pasang papilla kloaka. Panjang tubuh yang jantan 7-13 mm, yang betina adalah 12-18 mm dan bersifat ovovivipar (bertelur dan mengeluarkan larva). Cacing tidak memiliki memiliki bibir, tetapi tepi anterior rongga mulut terbalik keluar dan terbagi menjadi 6 lekukan (feston). Ekor cacing jantan tumpul dan membelok, sedangkan spikulumnya tidak sama panjang. Cacing Thelazia rodisii dan T. gulosa berpredeleksi didalam kantung konjungtiva dan saluran air mata sapi , domba, kambing dan kerbau.
SIKLUS HIDUP
Siklus hidup Thelasia sp. Adalah tidak langsung yaitu memerlukan induk semang antara lalat musca larvipara dan musca confexifrons. Lalat ini tercemar oleh larva saat menghisap air mata sapi penderita. Larva ini kemudian masuk kedalam perut lalat, menembus folikel ovarium lalat, disini larva berkembang menjadi larva 2 dengan panjang badan 3,6 –4 mm. Selanjutnya berkembang menjadi larva 3 yang merupakan larva infektif. Perkembangan dalam tubuh lalat memerlukan waktu 15-20 hari. Larva 3 selanjutnya meninggalkan folikel ovarium menuju bagian mulut lalat dan akhirnya pindah kepada induk semang definitif dan cacing dewasa akan timbul dalam waktu 20-25 hari.
GENUS : OXYSPIRURA
MORFOLOGI
Cacing Oxyspirura mansoni berpredeleksi pada membrana nictitan dari bangsa unggas. Tidak terdapat bibir, ekor yang jantan melengkung. Mempunyai 4 pasang papil dan 2 pasang setelah kloaka. Vulva terletak bagian posterior dari badan dan ukuran telur 50 –65 X 45 mikron. Panjang cacing jantan 10-16 mm dan betina 12-19 mm.
SIKLUS HIDUP
Telur cacing dikeluarkan melalui feses, kemudian telur ini akan termakan oleh coro (Pycnoscelus surinemensis). Apabila hospes intermidier ini termakan oleh unggas maka larva infektif akan keluar dan mengembara dari esofagus, paring dan ductus lacrimalis dari mata. Larva dapat ditemukan pada mata 20 menit setelah coro infekti termakan.
GENUS : ACUARIA
Host : Unggas
Habitat : empedal, proventrikulus dan esofagus
Spesies : A. hamulosa ------- empedal
A. spiralis --------- proventrikulus dan esofagus
MORFOLOGI
Mulutnya mempunyai dua pseudolabia lateral, terdapat empat kordon yang membentuk bukit yang berjalan ke posterior tidak membalik kedepan. Ujung posterior jantan bergulung, vulva terletak sepertiga posterior tubuh. Ukuran telur 40-45 X 24-75 mikron. Panjang jantan 10-14 mm dan betina 16-29 mm.
SIKLUS HIDUP
Telur dikeluarkan bersama tinja dan tertelan oleh hospes intermidier (A. hamulosa ----- belalang (melanoplus) dan A. spiralis ------- Isopoda) larva akan berkembang dalam hospes intermidier. Host terinfeksi bila memakan host intermidier infektif.
ORDO ENOPLIDA
GENUS : TRICHINELLA
HOST : Babi , tikus, manusia dan mamalia lain (peka), sapi, domba dan kambing (kurang peka). Larva cacing akan mengkista pada urat daging bergaris melintang.
HABITAT : Cacing dewasa pada usus halus sedangkan larvanya pada urat daging
SPESIES : Trichinella spiralis
MORFOLOGI
Cacing dewasa kecil , tetapi sering muncul dalam jumlah besar, larva cacing menyebabkan efek yang serius dengan mengkista pada urat daging. Cacing betina panjangnya 1,4 –1,6 mm dan jantan 3-4 mm, ukuran telur 40 x 30 mikron, telur akan menetas dalam uterus cacing betina (viviparosa). Larva ditemukan dalam kista mikroskopis pada urat daging bergaris melintang . yang jantan mempunyai anus yang ditonjolkan dan sembulan berbentuk kerucut disetiap sisi. Tidak mempunyai spikulum dan selubung. Vulva terletak pertengahan esofagus.
SIKLUS HIDUP
Apabila kista yang infektif termakan oleh induk semang, maka daging yang mengandung kista tercerna oleh pengaruh enzim pencernaan dan larva cacing akan terbebas. Larva akan masuk kedalam usus halus dan menjadi dewasa kelamin.. kemudian cacing jantan dan betina kawin , setelah kawin dacacing jantan segera mati. Cacing betina akan menembus kedalam mukosa usus melalui glandula liberkhun kedalam ruang limfe, disini cacing betina bertelur dan menetas didalam saluran uterus dari cacing. Larva yang dihasilkan masuk saluran limpe, menembus ductus thoracicus, vena cava superior kiri dan kanan jantung, kemudian keperedaran darah yang disebarkan keseluruh tubuh. Penyebaran larva terutama pada urat daging bergaris melintang dan selanjutnya berkembang pada otot maseter, diafragma, inter costae, lidah, larinx dan mata. Kadang-kadang ditemukan pada hati, pankreas dan ginjal. Larva tumbuh sampai berukuran panjang 0,8 – 1 mm dan diameter 30 mikron (16 hari). Dinding kiste terbentuk setelah 3 bulan dan mulai melingkar dalam kista yang dibentuk oleh jaringan sekitarnya. Otot disekitar mengalami degenerasi dan pengapuran setelah 6-9 bulan, tetapi larva dalam kista tetap hidup untuk beberapa tahun (sampai 11 tahun). Kista akan tumbuh menjadi cacing dewasa dalam usus induk semang berikutnya bila termakan oleh induk semang tersebut. Daur hidup cacing ini tertutup.
GENUS : TRICHURIS
HOST : sapi, domba, kambing, babi dan anjing
HABITAT : Caecum
SPESIES :
- T. ovis pada caecum kambing dan domba
- T. discolor pada caecum dari sapi
- T. vulvis pada anjing
- T. suis pada babi
- T. trichiura pada manusia
MORFOLOGI
Cacing ini disebut dengan cacing cambuk dengan salah satu satu ujung tebal dan ujung lainnya panjang dan tipis. Bagian anterior panjang dan tipis kira-kira dua kali bagian posterior, ujung posterior cacing jantan bergulung kedorsal dalam bentuk spiral. Vulva terletak antara batas anterior dan posterior. Cacing jantan panjangnya 30-80 mm dan betina 35 – 75 mm, telur mempunyai kulit tebal kecoklatan dengan dua sumbat dikedua ujungnya. Ukukran telur 50-80 x 21-42 u.
SIKLUS HIDUP
Penularan terjadi secara langsung melalui telur infektif (L2), telur sangat resisten, perkembangan didalam induk semang berlangsung didalam lumen usus dan massa prepaten 2-3 bulan. Cacing ini melekat pada caecum
GENUS : CAPILLARIA
Host : mamalia dan unggas
Habitat : tergantung spesies
Siklus hidup : secara langsung melalui telur infektif dan tidak langsung melalui hospes
intermidier.
Spesies pada mamalia :
1. C. bovis pada usus halus dari sapi, domba dan kambing yang penularannya secara langsung.
2. C. aerophila pada trachea dan bronchi anjing dan kucing dengan penularan secara langsung.
3. C. plica pada kandung kemih, ginjal anjing dan kucing, penularan melalui hospes intermidier cacing tanah.
4. C. plica pada hati dan ginjal tikus dan kelinci ( langsung ).
Spesies pada unggas :
1. C. caudinflata dan C. columbae pada usus halus ------- cacing tanah (HI)
2. C. annulata pada tombolok dan esofagus ----------- cacing tanah
3. C. contorta pada tombolok dan esofagus ---------- langsung.
MORFOLOGI
Mirip dengan Trichuris, tetapi ramping keseluruhan. Tubuhnya kapiler dan mempunyai mulut sederhana. Vulva cacing betina dekat dengan ujung esofagus. Kadang cacing ini mempunyai sebuah spikulum yang selalau ada selubungnya. Panjang cacing jantan 11 – 15 mm, betina 10-25 mm. Telur ini mempunyai dua sumbat pada kedua ujungnya dan ukuran telur 43-70 X 21-30 mikron.
Kuliah Keperawatan
Kamis, 10 Maret 2011
Selasa, 08 Maret 2011
Patofis: Flu Babi
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di tahun 1957, sebuah pandemi flu Asia terinfeksi beberapa 45 juta orang Amerika tewas dan 70.000. Itu disebabkan sekitar 2 juta kematian secara global. Sebelas tahun kemudian, selama 1968-1969, Hong Kong pandemi flu Amerika menderita 50 juta dan 33.000 menyebabkan kematian, biaya sekitar $ 3,9 miliar. Pada tahun 1976, sekitar 500 prajurit menjadi babi terinfeksi flu selama beberapa minggu. Namun, pada akhir bulan penyidik menemukan bahwa virus itu “mysteriously hilang.” Di USA rata-rata selama satu tahun, ada sekitar 50 juta kasus “normal” yang mengarah ke flu sekitar 36.000 kematian, sebagian besar ke sangat muda, tua, atau orang lemah, dengan persentase yang besar akibat komplikasi seperti radang paru-paru. Peneliti medis di seluruh dunia, mengakui bahwa babi virus flu mungkin lagi mengubah menjadi sesuatu sebagai maut sebagai flu Spanyol, yang hati-hati menonton terbaru 2009 wabah flu babi dan membuat rencana untuk kemungkinan kemungkinan pandemi global. Beberapa negara telah mengambil langkah-langkah pencegahan untuk mengurangi kemungkinan untuk pandemi global dari penyakit.
1.2 Tujuan
1. Mengetahui konsep mengenai virus H1N1
2. Memamahami cara kerja virus H1N1 menginfeksi tubuh
3. Mengetahui dan mempu memberikan intervensi keperawatan pada penderita flu babi
1.3 Manfaat
1. Manfaat bagi masyarakat
Dapat melakukan pencegahan terinfeksinya virus H1N1
2. Manfaat bagi mahasiswa keperawatan
a. Memberikan pengetahuan tentang flu babi
b. Menentukan intervensi keperawatan yang tepat
c. Melakukan pencegahan terinfeksinya virus H1N1
BAB 2 KONSEP PENYAKIT
2.1 Definisi
Swine Influenza (flu babi) adalah penyakit saluran pernafasan akut pada babi yang disebabkan oleh virus influensa tipe A. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), secara umum penyakit ini mirip influenza dengan gejala demam, batuk, pilek, sesak nafas, nyeri tenggorokan, lesu, letih dan mungkin disertai mual, muntah dan diare. Penyakit ini dengan sangat cepat menyebar ke dalam kelompok ternak dalam waktu 1 minggu, umumnya penyakit ini dapat sembuh dengan cepat kecuali bila terjadi komplikasi dengan bronchopneumonia (radang paru-paru), akan berakibat pada kematian.
2.2 Etiologi
Penyebab influenza yang ditemukan pada babi, bersamaan dengan penyakit yang langsung menyerang manusia. Pertama kali, virus influenza babi diisolasi tahun 1930, sudah banyak aspek dari penyakit tersebut yang diungkapkan, antara lain meliputi tanda klinis, lesi (luka pada saluran pernafasan), imunitas, transmisi, adaptasi virus terhadap hewan percobaan dan hubungan antigenik dengan virus influenza lainnya serta kejadian penyakit di alam.
Flu babi merupakan penyakit yang disebabkan virus influenza Famili Orthomyxoviridae tipe A subtipe H1N1 yang dapat ditularkan oleh binatang, terutama babi, dan ada kemungkinan menular antarmanusia.
Virus ini erat kaitannya dengan penyebab swine influenza, equine influenza dan avian influenza (fowl plaque). Ukuran virus tersebut berdiameter 80- 120 nm. Selain influenza A, terdapat influenza B dan C yang juga sudah dapat diisolasi dari babi. Sedangkan 2 tipevirus influenza pada manusia adalah tipe A dan B. Kedua tipe ini diketahui sangat progresif dalam perubahan antigenik yang sangat dramatik sekali (antigenik shift).
Pergeseran antigenik tersebut sangat berhubungan dengan sifat penularan secara pandemik dan keganasan penyakit. Hal ini dapat terjadi seperti adanya genetic reassortment antara bangsa burung dan manusia.
Ketiga tipe virus yaitu influensa A, B, C adalah virus yang mempunyai bentuk yang sama dibawah mikroskop elektron dan hanya berbeda dalam hal kekebalannya saja. Ketiga tipe virus tersebut mempunyai RNA dengan sumbu protein dan permukaan virionnya diselubungi oleh semacam paku yang mengandung antigen haemagglutinin (H) dan enzim neuraminidase (N).
Peranan haemagglutinin adalah sebagai alat melekat virion pada sel dan menyebabkan terjadinya aglutinasi sel darah merah, sedangkan enzim neurominidase bertanggung jawab terhadap elusi, terlepasnyavirus dari sel darah merah dan juga mempunyai peranan dalam melepaskan virus dari sel yang terinfeksi. Antibodi terhadap haemaglutinin berperan dalam mencegah infeksi ulang oleh virus yang mengandung haemaglutinin yang sama. Antibodi juga terbentuk terhadap antigen neurominidase, tetapi tidak berperan dalam pencegahan infeksi. Influensa babi yang terjadi di Amerika Serikat disebabkan oleh influensa A H1N1, sedangkan di banyak negara Eropa termasuk Inggris, Jepang dan Asia Tenggara disebabkan oleh influensa A H3N2. Banyak isolat babi H3N2 dari Eropa yang mempunyai hubungan antigenik sangat dekat dengan A/Port Chalmers/1/73 strain asal manusia. Peristiwa rekombinan dapat terjadi, seperti H1N2 yang dilaporkan di Jepang kemungkinan berasal dari rekombinasi H1N1 dan H3N2. Peristiwa semacam ini juga dilaporkan di Italy, Jepang, Hongaria, Cekoslowakia dan Perancis. BEVERIDGE (1977) melaporkan bahwa pada tahun 1935, WILSON MITH menemukanvirus influenza yang dapat ditumbuhkan dengan cara menginokulasikannya pada telor ayam berembrio umur 10 hari. Setelah diuji dalam 2 hari, cairan alantoisnya mengandungvirus sebanyak 10.000 juta (1010) partikel karena virus tersebut dapat menyebabkan aglutinasi sel darah merah, maka dari kejadian tersebut dikembangkan uji HA dan HI. Teknik ini kemudian digunakan sebagai cara yang termudah untuk digunakan di laboratorium. Setelah penemuan tersebut banyak para peneliti tertarik untuk mempelajarivirus influenza. Oleh sebab itu, sekarang banyak ilmu pengetahuan mengenai virus influeza telah diungkapkan dibandingkan dengan virus lainnya yang menyerang manusia. Virus influenza selain dapat ditumbuhkan dalam telur berembrio juga dapat ditumbuhkan pada sejumlah biakan jaringan (sel lestari) seperti chicken embryo fibroblast (CEF), canine kidney (CK), Madin-Darby canine kidney (MDCK).
2.3 Epidemologi
Penyebaran virus influenza dari babi ke babi dapat melalui kontak moncong babi, melalui udara atau droplet. Faktor cuaca dan stres akan mempercepat penularan.Virus tidak akan tahan lama di udara terbuka. Penyakit bisa saja bertahan lama pada babi breeder atau babi anakan. Kekebalan maternal dapat terlihat sampai 4 bulan tetapi mungkin tidak dapat mencegah infeksi, kekebalan tersebut dapat menghalangi timbulnya kekebalan aktif. Transmisi inter spesies dapat terjadi, sub tipe H1N1 mempunyai kesanggupan menulari antara spesies terutama babi, bebek, kalkun dan manusia, demikian juga sub tipe H3N2 yang merupakan sub tipe lain dari influensa A. H1N1, H1N2 dan H3N2 merupakan ke 3 subtipevirus influenza yang umum ditemukan pada babi yang mewabah di Amerika Utara, tetapi pernah juga sub tipe H4N6 diisolasi dari babi yang terkena pneumonia di. Manusia dapat terkena penyakit influenza secara klinis dan menularkannya pada babi. Kasus infeksi sudah dilaporkan pada pekerja di kandang babi di Eropa dan di Amerika. Beberapa kasus infeksi juga terbukti disebabkan oleh sero tipe asal manusia. Penyakit pada manusia umumnya terjadi pada kondisi musim dingin. Transmisi kepada babi yang dikandangkan atau hampir diruangan terbuka dapat melalui udara seperti pada kejadian di Perancis dan beberapa wabah penyakit di Inggris. Babi sebagai karier penyakit klasik di Denmark, Jepang, Italy dan kemungkinan Inggris telah dilaporkan.
2.4 Patogenesis/ Patofisiologi
Pada penyakit influensa babi klasik, virus masuk melalui saluran pernafasan atas kemungkinan lewat udara. Virus menempel pada trachea dan bronchi dan berkembang secara cepat yaitu dari 2 jam dalam sel epithel bronchial hingga 24 jam pos infeksi. Hampir seluruh sel terinfeksi virus dan menimbulkan eksudat pada bronchiol. Infeksi dengan cepat menghilang pada hari ke 9 (ANON., 1991). Lesi akibat infeksi sekunder dapat terjadi pada paruparu karena aliran eksudat yang berlebihan dari bronkhi. Lesi ini akan hilang secara cepat tanpa meninggalkan adanya kerusakan. Kontradiksi ini berbeda dengan lesi pneumonia enzootica babi yang dapat bertahan lama. Pneumonia sekunder biasanya karena serbuan Pasteurella multocida, terjadi pada beberapa kasus dan merupakan penyebab kematian.
2.5 Manifestasi Klinis (tanda dan gejala)
Mulai tanpa gejala sampai ada gejala. Bila ada, gejala influenza A (H1N1) sama dengan infeksi virus influenza secara umum. Gejalanya seperti demam, batuk, nyeri tenggorok, nyeri otot, sakit kepala, menggigil dan lemas. Pada suatu outbreak dilaporkan bertambahnya gejala diare dan muntah-muntah. Gejala menurut organ yang terkena adalah:
• Sistemik : demam
• Nasofaring : hidung berlendir, nyeri tenggorokan
• Respirasi : batuk, sakit tenggorokan
• Gastrointestinal : diare, mual dan muntah
• Muskuloskeletal : nyeri sendi
• Psikologis : letargi, tidak nafsu makan
Secara klinis kasus dibagi menjadi:
Kriteria ringan:
Tanpa gejala
Demam tanpa sesak
Tanpa pneumonia
Tidak ada komorbid (misalnya asma, DM, PPOK, obesiti, kurang gizi)
Usia muda
Catatan: rawat jalan dengan KIE dan pengawasan
Kriteria sedang:
ILI dengan komorbid
Sesak napas
Pneumonia
Keluhan mengganggu: diare, muntah-muntah
Catatan: rawat di ruang isolasi
Kriteria berat:
Pneumonia luas
Gagal napas
Sepsis
Syok
Kesadaran menurun
Gagal multi organ
Catatan: rawat di ICU
2.6 Komplikasi
2.6.1 Karena penyakit
Gagal napas
Ventilator associated pneumonia (VAP)
Sepsis
ARDS
Gagal multi organ
2.6.2 Karena tindakan
Pneumotoraks
2.7 Pencegahan Primer, Sekunder, dan Tersier
1. Primer: healthy promotion dan spesifik protection.
Healthy promotion: promosi kesehatan dengan melakukan penyuluhan
Spesfik protection: melakukan Vaksin
2. Sekunder: early diagnosis trethment dan disability
Early diagnosis trethment: diagnosis lebih awal dan penangan yang tepat.
Disability: mengurangi ketidakmampuan pasien.
3. Tersier: rehabilitasi pasien yang sudah sembuh.
2.8 Penatalaksanaan
Uji laboratorium telah menemukan bahwa virus babi influenza A (H1N1) rentan terhadap obat antivirus oseltamivir dan zanamivir, dan CDC telah mengeluarkan petunjuk untuk penggunaan dari obat ini untuk mengobati dan menghambat infeksi virus flu babi.
Vaksin yang biasa digunakan untuk influenza pada permulaan flu musiman tidak efektif untuk strain virus ini. Antivirus lain (misal, amantadine, rimantadine) tidak direkomendasikan oleh karena saat ini resistensi pada influenza lainnya telah terjadi pada beberapa tahun lalu.
Terapi suportif dasar (misal, terapi cairan, analgesik, penekan batuk) perlu diberikan. Pengobatan antivirus secara empiris perlu diperhatikan untuk kasus flu babi, baik yang sudah pasti, masih dalam kemungkinan, ataupun kecurigaan terhadap kasus ini. Pengobatan pasien rawat inap dan pasien dengan resiko tinggi untuk komplikasi influenza perlu sebagai prioritas.
Penggunaan antivirus dalam 48 jam sejak onset gejala sangat penting dalam hubungannya dengan efektivitas melawan virus influenza. Pada penelitian mengenai flu musiman, bukti akan manfaat pengobatan lebih baik jika pengobatan dimulai sebelum 48 jam sejak onset penyakit. Walau begitu, beberapa penelitian mengenai pengobatan flu mengindikasikan banyak manfaat, termasuk mengurangi kematian atau durasi rawat inap, bahkan pada pasien yang mendapat pengobatan lebih dari 48 jam setelah onset penyakit. Lama pengobatan yang direkomendasikan adalah selama 5 hari.
Oseltamivir (Tamiflu) dan Zanamivir (Relenza) bekerja dengan menghambat neuraminidase, suatu glikoprotein pada permukaan virus influenza yang merusak reseptor sel terinfeksi untuk hemagglutinin virus. Dengan menghambat neuraminidase virus, pelepasan virus dari sel terinfeksi dan penyebaran virus akan berkurang. Oseltamivir dan Zanamivir merupakan terapi yang efektif untuk influenzavirus A atau B dan diminum dalam 48 jam sejak onset gejala.
2.9 Prognosis
Penjelasan di bawah masih merupakan spekulasi dalam hal prognosis flu babi karena penyakit ini hanya baru saja telah terdiagnosa dan data pada April 2009 akan berubah setiap harinya. Bagian ini didasarkan pada informasi terbaru yang tersedia.
Pada umumnya, mayoritas (sekitar 90%-95%) orang yang menderita penyakit ini merasa ngeri (lihat gejala) tetapi sembuh dengan tanpa masalah, seperti yang tampak pada pasien baik di Meksiko dan USA. Peringatan harus dilakukan karena flu babi (H1N1) masih menyebar dan mungkin akan menjadi pandemi. Sejauh ini, kaum dewasa muda tidak melakukannya dengan baik, dan di Meksiko, kelompok ini saat ini mempunyai angka kematian yang paling tinggi, tetapi data ini dapat berubah dengan cepat. Kasus pertama di Meksiko yang dapat ditelusuri, diistilahkan dengan “patient zero” adalah anak usia 5 tahun di Veracruz yang sembuh total. Para peneliti mencatat bahwa peternakan babi yang luas terletak di dekat rumah anak itu. Pasien pertama di USA yang meninggal terjadi pada anak usia 23 bulan yang berkunjung ke Texas dari Mexico tetapi tampaknya mendapatkan penyakitnya di Mexico.
Orang dengan sistem imun yang menurun akan mengalami keadaan yang lebih jelek dibandingkan individu dengan sistem imun yang baik; para peneliti menduga flu babi menyebar dan angka kematian meningkat dan tinggi pada populasi ini. Sayangnya, masalah prognosis masih tetap belum jelas. Jika angka kematiannya seperti flu biasa yang menyebabkan angka kematian sekitar 0,1%, hasilnya akan sekitar 35.000 kematian per tahun karena besarnya jumlah orang yang terinfeksi. Jika flu babi di Mexico berakhir dengan angka kematian sekitar 6% dan menginfeksi dengan jumlah yang sama atas jutaan orang seperti virus flu biasa, proyeksi jumlah dapat cukup tinggi yaitu 2 juta kematian hanya di USA saja. Ini merupakan prognosis yang buruk untuk 2 juta orang dan keluarganya; angka potensial kematian ini lah yang merupakan alasan utama departemen kesehatan menaruh perhatian besar terhadap penyebaran virus baru ini.
Masalah lain yang membingungkan tentang prognosis flu babi (H1N1) adalah bahwa penyakit ini terjadi dan menyebar dalam jumlah besar pada akhir musim flu biasa. Kebanyakan flu terjadi antara Nopember sampai April (di USA), dengan puncaknya antara Desember sampai Maret. Kemunculan wabah flu babi tidak mengikuti pola flu biasa. Beberapa ilmuwan menduga bahwa flu babi (H1N1) akan dengan cepat mati pada musim panas dan mungkin tidak akan pernah kembali, ilmuwan lain menduga mungkin akan mati tapi akan kembali lagi dengan kasus lebih banyak lagi pada musim gugur, dan masih ada spekulasi lain akan terjadinya pandemi yang akan menyerupai keadaan pandemi influenza tahun 1918. Beberapa menduga akan menyerupai wabah SARS (severe acute respiratory syndrome disebabkan oleh strain coronavirus) pada tahun 2002-2003 dimana penyakit ini menyebar ke sekitar 10 negara dengan lebih dari 7.000 kasus, dan lebih dari 700 orang meninggal, dengan angka kematian 10%. Isolasi yang efektif terhadap pasien telah dilakukan pada kasus ini, dan banyak peneliti menduga wabah berhenti karena cara ini. Karena flu babi (H1N1) merupakan suatu virus baru dan tidak tampak mengikuti pola penyakit flu biasa, banyak terdapat spekulasi prognosis.
BAB 3 PATHWAY
BAB 4 IMPLIKASI DALAM BIDANG KEPERAWATAN
4.1 Implikasi Patofisiologi Penyakit dalam Bidang Keperawatan
Identifikasi Kasus
Tn. A (35 tahun) masuk rumah sakit dengan keluhan suhu tubuhnya meningkat disertai batuk dan nyeri tenggorokan 2 hari sebelum masuk rumah sakit. Dari hasil pengkajian Perawat X didapatkan suhu tubuh 390, tekanan darah 110/80 mmHg, RR 24x/menit dan pasien mengeluh myalgia, rinorhea, muntah-muntah, lemas dan diare. Dari hasil pemeriksaan laboratorium dari apus tenggorokan PCR dinyatakan (+) flu babi. Hasil foto rontgen didapatkan adanya pneumonia. Terapi :(-) oselatamivir (tamiflu) icapsul (75 mg) x3 perhari. Riwayat kesehatan : pasien 5 hari yang lalu pergi ke luar negeri untuk menengok teman bisnisnya yang dirawat di rumah sakit karena menderita flu.
a. Pengkajian
Pengumpulan Data
Biodata
Nama : Tn. A
Usia : 35 tahun
Alamat : Jl. Werkudara 9T Jakarta
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pendidikan : Sarjana Ekonomi
Agama : Islam
Suku Bangsa : Jawa
Tanggal pengkajian : 20 Nopember 2010
Diagnosa Medis : Flu Babi
Riwayat Kesehatan
1) Keluhan Utama : Suhu tubuh meningkat
2) Riwayat Kesehatan Sekarang (PQRST)
P :
Q :
R :
S :
T :
3) Riwayat Kesehatan Dahulu : Pasien 5 hari yang lalu pergi ke luar negeri untuk menengok teman bisnisnya yang di rawat di RS karena menderita flu.
4) Obat-Obatan : Tamiflu (1kapsulx3kali/hari)
Tanda-tanda vital
Suhu : 39oC
RR : 24x/menit
TD : 110/80 mmHg
Keluhan : suhu tubuh meningkat, batuk, nyeri tenggorokan, myalgia, rhinorhea, muntahmuntah, lemas, diare.
b. Diagnosa Keperawatan
1. Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan inflamasi ditandai dengan rhinorhea
2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan tidak seimbangnya cairan tubuh dengan kebutuhan ditandai dengan diare
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan inadekuat absorbs nutrient oleh tubuh akibat reaksi inflamasi ditandai dengan anoreksia, sulit menelan
4. Hipertermi berhubungan dengan perubahan pada regulasi temperatur ditandai dengan peningkatan temperatur tubuh
5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakmampuan melaksanankan aktivitas sehari-hari ditandai dengan adanya nyeri
6. Resiko pola napas tak efektif berhubungan dengan penurunan kapasitas pembawa oksigen
c. Intervensi Keperawatan
Diagnosa Keperawatan Tujuan Intervensi Rasional
Bersihan jalan
napas tak efektif
berhubungan
dengan inflamasi
ditandai dengan
rhinorhea Jalan nafas efektif Bebaskan jalan nafas
dengan mengatur posisi
kepala ekstensi
Pemeriksaan fisik
dengan cara auskultasi
mendengarkan suara
nafas (adakah ronchi)
Bersihkan saluran nafas
dari sekret dan lendir Secara anatomi posisi
kepala ekstensi
merupakan cara untuk
meluruskan rongga
pernafasan sehingga
proses respiransi tetap
berjalan lancar dengan
menyingkirkan
pembuntuan jalan nafas
Ronchi menunjukkan
adanya gangguan
pernafasan akibat atas
cairan atau sekret yang
menutupi sebagian dari
saluran pernafasan
sehingga perlu
dikeluarkan untuk
mengoptimalkan jalan
nafas
Tindakan bantuan
untuk mengeluarkan
sekret, sehingga
mempermudah proses
respirasi
Kekurangan
volume cairan
berhubungan
dengan tidak
seimbangnya cairan tubuh
dengan kebutuhan
ditandai dengan
diare Volume cairan
seimbang dengan
kebutuhan tubuh
klien Rencanakan target
Pemberian asupan cairan
Kaji pemahaman klien tentang alasan
mempertahankan hidrasi
yang adekuat
Catat intake dan output cairan
Pantau intake per oral
Pantau output cairan Mempermudah
memantauan kondisi
klien
Pemahaman tentang alasan tersebut
membantu klien dalam
mengatasi gangguan
Mengetahui
perkembangan status cairan klien
Mengontrol
intake cairan klien
Mengetahui perkembangan status cairan klien
Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan
berhubungan
dengan inadekuat
absorbsi nutrient
oleh tubuh akibat
reaksi inflamasi
ditandai dengan
anoreksia, sulit
menelan Kebutuhan nutrisi
terpenuhi secara
adekuat Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai
Observasi dan catat masukan makanan pasien
Berikan makan sedikit dan frekuensi sering
dan/atau makan di antara waktu makan
Berikan dan bantu higiene mulut yang baik;
sebelum dan sesudah makan, gunakan sikat
gigi halus untuk
penyikatan yang lembut
Kolaborasi
Konsul pada ahli gizi
Pantau pemeriksaan
laboratorium seperti Hb, Hct, BUN, Albumin,
Protein,Transferin, Besi Serim, B12, Asam Folat, TIBC, Elektrolit Serum Mengidentifikasi
defisiensi, menduga
kemungkinan intervensi
Mengawasi masukan
kalori atau kualitas
kekurangan konsumsi
makanan
Makan sedikit dapat
menurunkan kelemahan
dan meningkatkan
pemasukan
Meningkatkan nafsu makan dan pemasukan oral, menurunkan
Pertumbuhan bakteri,
meminimalkan
kemampuan infeksi
Membantu dalam
membuat rencana diet untuk memenuhi
kebutuhan individual
Meningkatkan
efektivitas program
pengobatan, termasuk
sumber diet nutrisi yang dibutuhkan
Hipertermi
berhubungan
dengan perubahan
pada regulasi
temperatur ditandai
dengan
peningkatan
temperatur tubuh Hipertermi dapat
Teratasi Observasi tanda-tanda vital terutama suhu
Tubuh
Pantau suhu lingkungan
Jelaskan kepada klien pentingnya
mempertahankan intake cairan adekuat
Pantau intake dan output cairan
Kolaborasi
Berikan antipireutik
seperti aspirin atau
asetaminoven Menentukan langkah intervensi selanjutnya
Suhu ruangan harus diubah untuk mempertahankan suhu normal
Pemahaman tentang alasan tersebut
membantu klien dalam mengatasi gangguan
Mengetahui
perkembangan status cairan klien
Digunakan untuk
mengurangi demam dengan aksisentralnya
pada hipotalamus
meskipun demam dapat berguna untuk mengatasi
pertumbuhan
organisme dan
meningkatkan
autoimun dari sel-sel yang terinfeksi
Intoleransi aktivitas
Berhubungan dengan
ketidakmampuan
melaksanankan
aktivitas sehari-hari
ditandai dengan
adanya nyeri Setelah dilakukan
perawatan klien dapat melakukan
aktivitas
maksimal sesuai
kemampuan Kaji kemampuan pasien untuk melakukan tugas
normal, catat laporan kelelahan, keletihan, dan
kesulitan menyelesaikan
tugas
Berikan lingkungan tenang. Pertahankan
tirah baring bila
diindikasikan. Pantau dan batasi pengunjung,
telepon, dan gangguan
berulang tindakan yang
tak direncanakan
Prioritaskan jadwal asuhan keperawatan untuk meningkatkan
istirahat. Pilih periode istirahat dengan periode
aktivitas
Berikan bantuan dalam aktivitas bila perlu,
memungkinkan pasien untuk melakukannya
sebanyak mungkin
Rencanakan
kemampuan aktivitas dengan pasien, termasuk aktivitas yang pasien pandang perlu. Tingkatkan tingkat aktivitas sesuai toleransi
Gunakan teknik
penghematan energy
Anjurkan pasien untuk menghentikan aktivitas bila palpitasi, nyeri dada, napas pendek, kelemahan, atau pusing terjadi
Kaji kesiapan untuk
meningkatkan aktivitas, contoh: penurunan kelemahan/ kelelahan, TD stabil, frekuensi
nadi, peningkatan
perhatian pada
aktivitas dan perawatan diri Mempengaruhi pilihan
intervensi/ bantuan
Meningkatkan istirahat untuk menurunkan
kebutuhan oksigen tubuh dan menurunkan
regangan jantung dan paru
Mempertahankan
tingkat energy dan
meningkatkan regangan
pada sistem jantung dan
pernapasan
Membantu bila perlu, harga diri ditingkatkan
bila pasien melakukan
sesuatu sendiri
Meningkatkan secara
bertahap tingkat
aktivitas sampai normal
dan memperbaiki
stamina tanpa
kelemahan
Mendorong pasien melakukan banyak dengan membatasi penyimpangan energy dan mencegah
Kelemahan
Regangan/stres
kardiopulmonal
berlebihan/stres dapat menimbulkan
dekompensasi
/kegagalan
Stabilitas fisiologis pada istirahat penting untuk memajukan tingkat aktivitas individual
Resiko pola napas tak efektif
berhubungan
dengan penurunan
kapasitas pembawa
oksigen Meningkatkan efektivitas pola napas Evaluasi frekuensi pernapasan, catat upaya pernapasan, catat adanya dispnea
Auskultasi bunyi napas, catat area yang menurun, ada tidaknya
bunyi napas, dan adanya bunyi tambahan
Tinggikan kepala tempat
tidur, letakkan posisi duduk semi fowler,
bantu peningkatan
waktu tidur
Catat respon pada pelatihan napas dalam
atau pengobatan
pernapasan lain, catat
bunyi napas sebelum atau sesudah pengobatan Kecepatan upaya mungkin meningkatkan
nyeri, takut, demam,
menurunkan volume respirasi, akumulasi secret dan hipoksia,
penurunan kecepatan
dapat terjadi dri
penggunaan analgesic
berlebihan
Bunyi napas sering menurun pada dasar paru berhubungan dengan terjadinya
atelektasis. Bunyi tambahan seperti crackels/ ronchi dapat
menunjukkan
akumulasi cairan atau
obstruksi jalan napas parsial
Merangsang fungsi
pernapasan atau ekspansi paru, efektif
pada pencegahan dan kongesti paru
Catat keefektifan terapi atas kebutuhan untuk
pemilihan intervensi
lebih agresif
d. Implementasi
Membebaskan jalan nafas dengan mengatur posisi kepala ekstensi
Melakukan pemeriksaan fisik dengan cara auskultasi mendengarkan suara nafas (adakah ronchi)
Membersihkan saluran nafas dari sekret dan lendir.
Merencanakan target pemberian asupan cairan
Mengkaji pemahaman klien tentang alasan mempertahankan hidrasi yang adekuat
Mencatat intake dan output cairan
Memantau intake per oral
Memantau output cairan
Mengkaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai
Mengobservasi dan catat masukan makanan pasien
Memberikan makan sedikit dan frekuensi sering dan/atau makan di antara waktu makan
Berikan dan bantu higiene mulut yang baik; sebelum dan sesudah makan, gunakan sikat gigi halus untuk penyikatan yang lembut
Pantau pemeriksaan laboratorium seperti Hb, Hct, BUN, Albumin Protein,Transferin, Besi Serim, B12, Asam Folat, TIBC, Elektrolit Serum
Mengobservasi tanda-tanda vital terutama suhu tubuh
Memantau suhu lingkungan
Menjelaskan kepada klien pentingnya mempertahankan intake cairan adekuat
Memantau intake dan output cairan
Memberikan antipireutik seperti aspirin atau asetaminoven
Mengkaji kemampuan pasien untuk melakukan tugas normal, catat laporan kelelahan, keletihan, dan kesulitan menyelesaikan tugas
Memberikan lingkungan tenang. Pertahankan tirah baring bila diindikasikan. Pantau dan batasi pengunjung, telepon, dan gangguan berulang tindakan yang tak direncanakan
Memprioritaskan jadwal asuhan keperawatan untuk meningkatkan istirahat. Pilih periode istirahat dengan periode aktivitas
Memberikan bantuan dalam aktivitas bila perlu, memungkinkan pasien untuk melakukannya sebanyak mungkin
Merencanakan kemampuan aktivitas dengan pasien, termasuk aktivitas yang pasien pandang perlu. Tingkatkan tingkat aktivitas sesuai toleransi
Menggunakan teknik penghematan energy
Anjurkan pasien untuk menghentikan aktivitas bila palpitasi, nyeri dada, napas pendek, kelemahan, atau pusing terjadi
Mengkaji kesiapan untuk meningkatkan aktivitas, contoh: penurunan kelemahan/ kelelahan, TD stabil, frekuensi nadi, peningkatan perhatian pada aktivitas dan perawatan diri
Mengevaluasi frekuensi pernapasan, mencatat upaya pernapasan, mencatat adanya dispnea
Auskultasi bunyi napas, mencatat area yang menurun, ada tidaknya bunyi napas, dan adanya bunyi tambahan
Tinggikan kepala tempat tidur, letakkan posisi duduk semi fowler, bantu peningkatan waktu tidur
Mencatat respon pada pelatihan napas dalam atau pengobatan pernapasan lain, mencatat bunyi napas sebelum atau sesudah pengobatan
e. Evaluasi
S : “Saya sudah mulai bisa bernapas tanpa alat bantu, makan juga mulai banyak”
O : Suhu pasien belum turun
A : Tindakan telah dilaksanakan, dan pasien terlihat kooperatif, sehingga memudahkan perawat untuk melakukan tindakan
P : Melakukan pengkajian ulang, agar dapat menentukan intervensi selanjutnya terkait dengan suhu pasien
4.2 Peran Keperawatan
1. Pemberi Perawatan
Perawat membantu pasien mendapatkan kembali kesehatannya melalui proses kesembuhan.
2. Pembuat Keputusan Klinis
Perawat sebelum melakukan tindakan, terlebih dahulu menentukan intervensi yang terbaik untuk pasien dengan flu babi berdasarkan diagnose yang ada.
3. Pelindung dan Advokat Pasien
Perawat mempertahankan lingkungan yang aman bagi pasien, menghargai hak-hak pasien, memberikan informasi tambahan kepada pasien.
4. Manager Kasus
Perawat mengkoordinasikan dan mendelegasikan tanggung jawab asuhan dan mengawasi tenaga kesehatan lainnya.
5. Pemberi Kenyamanan
Selama melakukan tindakan keperawatan, perawat mempertahankan kenyamanan pasien, mengurangi nyeri yang dirasakan pasien
6. Komunikator
Perawat dalam menjalankan proses keperawatan tidak terlepas dari adanya komunikasi, baik komunikasi dengan pasien, keluarga pasien, antar perawat ataupun dengan tenaga medis lainnya.
7. Penyuluh
Perawat menjelaskan kepada pasien konsep dan data-data tentang kesehatan, mendemontrasikan prosedur seperti aktivitas perawatan diri. Perawat memberikan pengetahuan kepada pasien dan keluarga pasien tentang perawatan penderita flu babi, penularan, beserta pencegahannya. Perawat menggunakan metode pengajaran yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan pasien.
BAB 5 PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Flu babi adalah penyakit saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus influenza tipe A termasuk family orthomyxoviridae. Penyakit ini menyerang saluran pernapasan atas manusia. Meskipun gejalanya tidak separah virus flu babi namun penyakit ini mempunyai tingkat kematian yang tinggi.
Virus ini pertama kali muncul dan diisolasi dari seekot babi pada tahun 1930 di amerika serikat. Pada perkemangannya penyakit ini berpindah kemanusia terutama menyerang mereka yang kontak dengan babi. Lama tak terdengar, virus ini muncul kembali ditahun 2009 dan sudah sampai di Indonesia. Sebenarnya untuk penanganan penyakit ini hanya terletak pada pencegahannya. Apabila upaya pencegahan yang dilakukan para petugas kesehatan di Indonesia ini dapat dilakukan dengan maksimal, virus ini dapat diminimalisir penularannya.
Diagnosa keperawatan yang muncul pada penderita swine influenza ini antara lain:
a. Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan inflamasi ditandai dengan rhinorhea.
b. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan tidak seimbangnya cairan tubuh dengan kebutuhan ditandai dengan diare.
c. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan inadekuat absorbs nutrient oleh tubuh akibat reaksi inflamasi ditandai dengan anoreksia, sulit menelan.
d. Hipertermi berhubungan dengan perubahan pada regulasi temperatur ditandai dengan peningkatan temperatur tubuh.
e. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakmampuan melaksanankan aktivitas sehari-hari ditandai dengan adanya nyeri.
f. Resiko pola napas tak efektif berhubungan dengan penurunan kapasitas pembawa oksigen.
5.2 Saran
Untuk Masyarakat
Menggunakan masker ketika berada di tempat umum
Untuk Perawat
Selalu menggunakan APD ketika kontak dengan pasien
Untuk Tenaga Kesehatan Lain
Melakukan penyuluhan kesehatan, mendemonstrasikan vaksinasi
Untuk Pasien
Bersikap kooperatif, sehingga tindakan dapat berjalan lancer sesuai yang diharapkan
Untuk Keluarga Pasien
Menggunakan masker ketika kontak dengan pasien
1.1 Latar Belakang
Di tahun 1957, sebuah pandemi flu Asia terinfeksi beberapa 45 juta orang Amerika tewas dan 70.000. Itu disebabkan sekitar 2 juta kematian secara global. Sebelas tahun kemudian, selama 1968-1969, Hong Kong pandemi flu Amerika menderita 50 juta dan 33.000 menyebabkan kematian, biaya sekitar $ 3,9 miliar. Pada tahun 1976, sekitar 500 prajurit menjadi babi terinfeksi flu selama beberapa minggu. Namun, pada akhir bulan penyidik menemukan bahwa virus itu “mysteriously hilang.” Di USA rata-rata selama satu tahun, ada sekitar 50 juta kasus “normal” yang mengarah ke flu sekitar 36.000 kematian, sebagian besar ke sangat muda, tua, atau orang lemah, dengan persentase yang besar akibat komplikasi seperti radang paru-paru. Peneliti medis di seluruh dunia, mengakui bahwa babi virus flu mungkin lagi mengubah menjadi sesuatu sebagai maut sebagai flu Spanyol, yang hati-hati menonton terbaru 2009 wabah flu babi dan membuat rencana untuk kemungkinan kemungkinan pandemi global. Beberapa negara telah mengambil langkah-langkah pencegahan untuk mengurangi kemungkinan untuk pandemi global dari penyakit.
1.2 Tujuan
1. Mengetahui konsep mengenai virus H1N1
2. Memamahami cara kerja virus H1N1 menginfeksi tubuh
3. Mengetahui dan mempu memberikan intervensi keperawatan pada penderita flu babi
1.3 Manfaat
1. Manfaat bagi masyarakat
Dapat melakukan pencegahan terinfeksinya virus H1N1
2. Manfaat bagi mahasiswa keperawatan
a. Memberikan pengetahuan tentang flu babi
b. Menentukan intervensi keperawatan yang tepat
c. Melakukan pencegahan terinfeksinya virus H1N1
BAB 2 KONSEP PENYAKIT
2.1 Definisi
Swine Influenza (flu babi) adalah penyakit saluran pernafasan akut pada babi yang disebabkan oleh virus influensa tipe A. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), secara umum penyakit ini mirip influenza dengan gejala demam, batuk, pilek, sesak nafas, nyeri tenggorokan, lesu, letih dan mungkin disertai mual, muntah dan diare. Penyakit ini dengan sangat cepat menyebar ke dalam kelompok ternak dalam waktu 1 minggu, umumnya penyakit ini dapat sembuh dengan cepat kecuali bila terjadi komplikasi dengan bronchopneumonia (radang paru-paru), akan berakibat pada kematian.
2.2 Etiologi
Penyebab influenza yang ditemukan pada babi, bersamaan dengan penyakit yang langsung menyerang manusia. Pertama kali, virus influenza babi diisolasi tahun 1930, sudah banyak aspek dari penyakit tersebut yang diungkapkan, antara lain meliputi tanda klinis, lesi (luka pada saluran pernafasan), imunitas, transmisi, adaptasi virus terhadap hewan percobaan dan hubungan antigenik dengan virus influenza lainnya serta kejadian penyakit di alam.
Flu babi merupakan penyakit yang disebabkan virus influenza Famili Orthomyxoviridae tipe A subtipe H1N1 yang dapat ditularkan oleh binatang, terutama babi, dan ada kemungkinan menular antarmanusia.
Virus ini erat kaitannya dengan penyebab swine influenza, equine influenza dan avian influenza (fowl plaque). Ukuran virus tersebut berdiameter 80- 120 nm. Selain influenza A, terdapat influenza B dan C yang juga sudah dapat diisolasi dari babi. Sedangkan 2 tipevirus influenza pada manusia adalah tipe A dan B. Kedua tipe ini diketahui sangat progresif dalam perubahan antigenik yang sangat dramatik sekali (antigenik shift).
Pergeseran antigenik tersebut sangat berhubungan dengan sifat penularan secara pandemik dan keganasan penyakit. Hal ini dapat terjadi seperti adanya genetic reassortment antara bangsa burung dan manusia.
Ketiga tipe virus yaitu influensa A, B, C adalah virus yang mempunyai bentuk yang sama dibawah mikroskop elektron dan hanya berbeda dalam hal kekebalannya saja. Ketiga tipe virus tersebut mempunyai RNA dengan sumbu protein dan permukaan virionnya diselubungi oleh semacam paku yang mengandung antigen haemagglutinin (H) dan enzim neuraminidase (N).
Peranan haemagglutinin adalah sebagai alat melekat virion pada sel dan menyebabkan terjadinya aglutinasi sel darah merah, sedangkan enzim neurominidase bertanggung jawab terhadap elusi, terlepasnyavirus dari sel darah merah dan juga mempunyai peranan dalam melepaskan virus dari sel yang terinfeksi. Antibodi terhadap haemaglutinin berperan dalam mencegah infeksi ulang oleh virus yang mengandung haemaglutinin yang sama. Antibodi juga terbentuk terhadap antigen neurominidase, tetapi tidak berperan dalam pencegahan infeksi. Influensa babi yang terjadi di Amerika Serikat disebabkan oleh influensa A H1N1, sedangkan di banyak negara Eropa termasuk Inggris, Jepang dan Asia Tenggara disebabkan oleh influensa A H3N2. Banyak isolat babi H3N2 dari Eropa yang mempunyai hubungan antigenik sangat dekat dengan A/Port Chalmers/1/73 strain asal manusia. Peristiwa rekombinan dapat terjadi, seperti H1N2 yang dilaporkan di Jepang kemungkinan berasal dari rekombinasi H1N1 dan H3N2. Peristiwa semacam ini juga dilaporkan di Italy, Jepang, Hongaria, Cekoslowakia dan Perancis. BEVERIDGE (1977) melaporkan bahwa pada tahun 1935, WILSON MITH menemukanvirus influenza yang dapat ditumbuhkan dengan cara menginokulasikannya pada telor ayam berembrio umur 10 hari. Setelah diuji dalam 2 hari, cairan alantoisnya mengandungvirus sebanyak 10.000 juta (1010) partikel karena virus tersebut dapat menyebabkan aglutinasi sel darah merah, maka dari kejadian tersebut dikembangkan uji HA dan HI. Teknik ini kemudian digunakan sebagai cara yang termudah untuk digunakan di laboratorium. Setelah penemuan tersebut banyak para peneliti tertarik untuk mempelajarivirus influenza. Oleh sebab itu, sekarang banyak ilmu pengetahuan mengenai virus influeza telah diungkapkan dibandingkan dengan virus lainnya yang menyerang manusia. Virus influenza selain dapat ditumbuhkan dalam telur berembrio juga dapat ditumbuhkan pada sejumlah biakan jaringan (sel lestari) seperti chicken embryo fibroblast (CEF), canine kidney (CK), Madin-Darby canine kidney (MDCK).
2.3 Epidemologi
Penyebaran virus influenza dari babi ke babi dapat melalui kontak moncong babi, melalui udara atau droplet. Faktor cuaca dan stres akan mempercepat penularan.Virus tidak akan tahan lama di udara terbuka. Penyakit bisa saja bertahan lama pada babi breeder atau babi anakan. Kekebalan maternal dapat terlihat sampai 4 bulan tetapi mungkin tidak dapat mencegah infeksi, kekebalan tersebut dapat menghalangi timbulnya kekebalan aktif. Transmisi inter spesies dapat terjadi, sub tipe H1N1 mempunyai kesanggupan menulari antara spesies terutama babi, bebek, kalkun dan manusia, demikian juga sub tipe H3N2 yang merupakan sub tipe lain dari influensa A. H1N1, H1N2 dan H3N2 merupakan ke 3 subtipevirus influenza yang umum ditemukan pada babi yang mewabah di Amerika Utara, tetapi pernah juga sub tipe H4N6 diisolasi dari babi yang terkena pneumonia di. Manusia dapat terkena penyakit influenza secara klinis dan menularkannya pada babi. Kasus infeksi sudah dilaporkan pada pekerja di kandang babi di Eropa dan di Amerika. Beberapa kasus infeksi juga terbukti disebabkan oleh sero tipe asal manusia. Penyakit pada manusia umumnya terjadi pada kondisi musim dingin. Transmisi kepada babi yang dikandangkan atau hampir diruangan terbuka dapat melalui udara seperti pada kejadian di Perancis dan beberapa wabah penyakit di Inggris. Babi sebagai karier penyakit klasik di Denmark, Jepang, Italy dan kemungkinan Inggris telah dilaporkan.
2.4 Patogenesis/ Patofisiologi
Pada penyakit influensa babi klasik, virus masuk melalui saluran pernafasan atas kemungkinan lewat udara. Virus menempel pada trachea dan bronchi dan berkembang secara cepat yaitu dari 2 jam dalam sel epithel bronchial hingga 24 jam pos infeksi. Hampir seluruh sel terinfeksi virus dan menimbulkan eksudat pada bronchiol. Infeksi dengan cepat menghilang pada hari ke 9 (ANON., 1991). Lesi akibat infeksi sekunder dapat terjadi pada paruparu karena aliran eksudat yang berlebihan dari bronkhi. Lesi ini akan hilang secara cepat tanpa meninggalkan adanya kerusakan. Kontradiksi ini berbeda dengan lesi pneumonia enzootica babi yang dapat bertahan lama. Pneumonia sekunder biasanya karena serbuan Pasteurella multocida, terjadi pada beberapa kasus dan merupakan penyebab kematian.
2.5 Manifestasi Klinis (tanda dan gejala)
Mulai tanpa gejala sampai ada gejala. Bila ada, gejala influenza A (H1N1) sama dengan infeksi virus influenza secara umum. Gejalanya seperti demam, batuk, nyeri tenggorok, nyeri otot, sakit kepala, menggigil dan lemas. Pada suatu outbreak dilaporkan bertambahnya gejala diare dan muntah-muntah. Gejala menurut organ yang terkena adalah:
• Sistemik : demam
• Nasofaring : hidung berlendir, nyeri tenggorokan
• Respirasi : batuk, sakit tenggorokan
• Gastrointestinal : diare, mual dan muntah
• Muskuloskeletal : nyeri sendi
• Psikologis : letargi, tidak nafsu makan
Secara klinis kasus dibagi menjadi:
Kriteria ringan:
Tanpa gejala
Demam tanpa sesak
Tanpa pneumonia
Tidak ada komorbid (misalnya asma, DM, PPOK, obesiti, kurang gizi)
Usia muda
Catatan: rawat jalan dengan KIE dan pengawasan
Kriteria sedang:
ILI dengan komorbid
Sesak napas
Pneumonia
Keluhan mengganggu: diare, muntah-muntah
Catatan: rawat di ruang isolasi
Kriteria berat:
Pneumonia luas
Gagal napas
Sepsis
Syok
Kesadaran menurun
Gagal multi organ
Catatan: rawat di ICU
2.6 Komplikasi
2.6.1 Karena penyakit
Gagal napas
Ventilator associated pneumonia (VAP)
Sepsis
ARDS
Gagal multi organ
2.6.2 Karena tindakan
Pneumotoraks
2.7 Pencegahan Primer, Sekunder, dan Tersier
1. Primer: healthy promotion dan spesifik protection.
Healthy promotion: promosi kesehatan dengan melakukan penyuluhan
Spesfik protection: melakukan Vaksin
2. Sekunder: early diagnosis trethment dan disability
Early diagnosis trethment: diagnosis lebih awal dan penangan yang tepat.
Disability: mengurangi ketidakmampuan pasien.
3. Tersier: rehabilitasi pasien yang sudah sembuh.
2.8 Penatalaksanaan
Uji laboratorium telah menemukan bahwa virus babi influenza A (H1N1) rentan terhadap obat antivirus oseltamivir dan zanamivir, dan CDC telah mengeluarkan petunjuk untuk penggunaan dari obat ini untuk mengobati dan menghambat infeksi virus flu babi.
Vaksin yang biasa digunakan untuk influenza pada permulaan flu musiman tidak efektif untuk strain virus ini. Antivirus lain (misal, amantadine, rimantadine) tidak direkomendasikan oleh karena saat ini resistensi pada influenza lainnya telah terjadi pada beberapa tahun lalu.
Terapi suportif dasar (misal, terapi cairan, analgesik, penekan batuk) perlu diberikan. Pengobatan antivirus secara empiris perlu diperhatikan untuk kasus flu babi, baik yang sudah pasti, masih dalam kemungkinan, ataupun kecurigaan terhadap kasus ini. Pengobatan pasien rawat inap dan pasien dengan resiko tinggi untuk komplikasi influenza perlu sebagai prioritas.
Penggunaan antivirus dalam 48 jam sejak onset gejala sangat penting dalam hubungannya dengan efektivitas melawan virus influenza. Pada penelitian mengenai flu musiman, bukti akan manfaat pengobatan lebih baik jika pengobatan dimulai sebelum 48 jam sejak onset penyakit. Walau begitu, beberapa penelitian mengenai pengobatan flu mengindikasikan banyak manfaat, termasuk mengurangi kematian atau durasi rawat inap, bahkan pada pasien yang mendapat pengobatan lebih dari 48 jam setelah onset penyakit. Lama pengobatan yang direkomendasikan adalah selama 5 hari.
Oseltamivir (Tamiflu) dan Zanamivir (Relenza) bekerja dengan menghambat neuraminidase, suatu glikoprotein pada permukaan virus influenza yang merusak reseptor sel terinfeksi untuk hemagglutinin virus. Dengan menghambat neuraminidase virus, pelepasan virus dari sel terinfeksi dan penyebaran virus akan berkurang. Oseltamivir dan Zanamivir merupakan terapi yang efektif untuk influenzavirus A atau B dan diminum dalam 48 jam sejak onset gejala.
2.9 Prognosis
Penjelasan di bawah masih merupakan spekulasi dalam hal prognosis flu babi karena penyakit ini hanya baru saja telah terdiagnosa dan data pada April 2009 akan berubah setiap harinya. Bagian ini didasarkan pada informasi terbaru yang tersedia.
Pada umumnya, mayoritas (sekitar 90%-95%) orang yang menderita penyakit ini merasa ngeri (lihat gejala) tetapi sembuh dengan tanpa masalah, seperti yang tampak pada pasien baik di Meksiko dan USA. Peringatan harus dilakukan karena flu babi (H1N1) masih menyebar dan mungkin akan menjadi pandemi. Sejauh ini, kaum dewasa muda tidak melakukannya dengan baik, dan di Meksiko, kelompok ini saat ini mempunyai angka kematian yang paling tinggi, tetapi data ini dapat berubah dengan cepat. Kasus pertama di Meksiko yang dapat ditelusuri, diistilahkan dengan “patient zero” adalah anak usia 5 tahun di Veracruz yang sembuh total. Para peneliti mencatat bahwa peternakan babi yang luas terletak di dekat rumah anak itu. Pasien pertama di USA yang meninggal terjadi pada anak usia 23 bulan yang berkunjung ke Texas dari Mexico tetapi tampaknya mendapatkan penyakitnya di Mexico.
Orang dengan sistem imun yang menurun akan mengalami keadaan yang lebih jelek dibandingkan individu dengan sistem imun yang baik; para peneliti menduga flu babi menyebar dan angka kematian meningkat dan tinggi pada populasi ini. Sayangnya, masalah prognosis masih tetap belum jelas. Jika angka kematiannya seperti flu biasa yang menyebabkan angka kematian sekitar 0,1%, hasilnya akan sekitar 35.000 kematian per tahun karena besarnya jumlah orang yang terinfeksi. Jika flu babi di Mexico berakhir dengan angka kematian sekitar 6% dan menginfeksi dengan jumlah yang sama atas jutaan orang seperti virus flu biasa, proyeksi jumlah dapat cukup tinggi yaitu 2 juta kematian hanya di USA saja. Ini merupakan prognosis yang buruk untuk 2 juta orang dan keluarganya; angka potensial kematian ini lah yang merupakan alasan utama departemen kesehatan menaruh perhatian besar terhadap penyebaran virus baru ini.
Masalah lain yang membingungkan tentang prognosis flu babi (H1N1) adalah bahwa penyakit ini terjadi dan menyebar dalam jumlah besar pada akhir musim flu biasa. Kebanyakan flu terjadi antara Nopember sampai April (di USA), dengan puncaknya antara Desember sampai Maret. Kemunculan wabah flu babi tidak mengikuti pola flu biasa. Beberapa ilmuwan menduga bahwa flu babi (H1N1) akan dengan cepat mati pada musim panas dan mungkin tidak akan pernah kembali, ilmuwan lain menduga mungkin akan mati tapi akan kembali lagi dengan kasus lebih banyak lagi pada musim gugur, dan masih ada spekulasi lain akan terjadinya pandemi yang akan menyerupai keadaan pandemi influenza tahun 1918. Beberapa menduga akan menyerupai wabah SARS (severe acute respiratory syndrome disebabkan oleh strain coronavirus) pada tahun 2002-2003 dimana penyakit ini menyebar ke sekitar 10 negara dengan lebih dari 7.000 kasus, dan lebih dari 700 orang meninggal, dengan angka kematian 10%. Isolasi yang efektif terhadap pasien telah dilakukan pada kasus ini, dan banyak peneliti menduga wabah berhenti karena cara ini. Karena flu babi (H1N1) merupakan suatu virus baru dan tidak tampak mengikuti pola penyakit flu biasa, banyak terdapat spekulasi prognosis.
BAB 3 PATHWAY
BAB 4 IMPLIKASI DALAM BIDANG KEPERAWATAN
4.1 Implikasi Patofisiologi Penyakit dalam Bidang Keperawatan
Identifikasi Kasus
Tn. A (35 tahun) masuk rumah sakit dengan keluhan suhu tubuhnya meningkat disertai batuk dan nyeri tenggorokan 2 hari sebelum masuk rumah sakit. Dari hasil pengkajian Perawat X didapatkan suhu tubuh 390, tekanan darah 110/80 mmHg, RR 24x/menit dan pasien mengeluh myalgia, rinorhea, muntah-muntah, lemas dan diare. Dari hasil pemeriksaan laboratorium dari apus tenggorokan PCR dinyatakan (+) flu babi. Hasil foto rontgen didapatkan adanya pneumonia. Terapi :(-) oselatamivir (tamiflu) icapsul (75 mg) x3 perhari. Riwayat kesehatan : pasien 5 hari yang lalu pergi ke luar negeri untuk menengok teman bisnisnya yang dirawat di rumah sakit karena menderita flu.
a. Pengkajian
Pengumpulan Data
Biodata
Nama : Tn. A
Usia : 35 tahun
Alamat : Jl. Werkudara 9T Jakarta
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pendidikan : Sarjana Ekonomi
Agama : Islam
Suku Bangsa : Jawa
Tanggal pengkajian : 20 Nopember 2010
Diagnosa Medis : Flu Babi
Riwayat Kesehatan
1) Keluhan Utama : Suhu tubuh meningkat
2) Riwayat Kesehatan Sekarang (PQRST)
P :
Q :
R :
S :
T :
3) Riwayat Kesehatan Dahulu : Pasien 5 hari yang lalu pergi ke luar negeri untuk menengok teman bisnisnya yang di rawat di RS karena menderita flu.
4) Obat-Obatan : Tamiflu (1kapsulx3kali/hari)
Tanda-tanda vital
Suhu : 39oC
RR : 24x/menit
TD : 110/80 mmHg
Keluhan : suhu tubuh meningkat, batuk, nyeri tenggorokan, myalgia, rhinorhea, muntahmuntah, lemas, diare.
b. Diagnosa Keperawatan
1. Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan inflamasi ditandai dengan rhinorhea
2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan tidak seimbangnya cairan tubuh dengan kebutuhan ditandai dengan diare
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan inadekuat absorbs nutrient oleh tubuh akibat reaksi inflamasi ditandai dengan anoreksia, sulit menelan
4. Hipertermi berhubungan dengan perubahan pada regulasi temperatur ditandai dengan peningkatan temperatur tubuh
5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakmampuan melaksanankan aktivitas sehari-hari ditandai dengan adanya nyeri
6. Resiko pola napas tak efektif berhubungan dengan penurunan kapasitas pembawa oksigen
c. Intervensi Keperawatan
Diagnosa Keperawatan Tujuan Intervensi Rasional
Bersihan jalan
napas tak efektif
berhubungan
dengan inflamasi
ditandai dengan
rhinorhea Jalan nafas efektif Bebaskan jalan nafas
dengan mengatur posisi
kepala ekstensi
Pemeriksaan fisik
dengan cara auskultasi
mendengarkan suara
nafas (adakah ronchi)
Bersihkan saluran nafas
dari sekret dan lendir Secara anatomi posisi
kepala ekstensi
merupakan cara untuk
meluruskan rongga
pernafasan sehingga
proses respiransi tetap
berjalan lancar dengan
menyingkirkan
pembuntuan jalan nafas
Ronchi menunjukkan
adanya gangguan
pernafasan akibat atas
cairan atau sekret yang
menutupi sebagian dari
saluran pernafasan
sehingga perlu
dikeluarkan untuk
mengoptimalkan jalan
nafas
Tindakan bantuan
untuk mengeluarkan
sekret, sehingga
mempermudah proses
respirasi
Kekurangan
volume cairan
berhubungan
dengan tidak
seimbangnya cairan tubuh
dengan kebutuhan
ditandai dengan
diare Volume cairan
seimbang dengan
kebutuhan tubuh
klien Rencanakan target
Pemberian asupan cairan
Kaji pemahaman klien tentang alasan
mempertahankan hidrasi
yang adekuat
Catat intake dan output cairan
Pantau intake per oral
Pantau output cairan Mempermudah
memantauan kondisi
klien
Pemahaman tentang alasan tersebut
membantu klien dalam
mengatasi gangguan
Mengetahui
perkembangan status cairan klien
Mengontrol
intake cairan klien
Mengetahui perkembangan status cairan klien
Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan
berhubungan
dengan inadekuat
absorbsi nutrient
oleh tubuh akibat
reaksi inflamasi
ditandai dengan
anoreksia, sulit
menelan Kebutuhan nutrisi
terpenuhi secara
adekuat Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai
Observasi dan catat masukan makanan pasien
Berikan makan sedikit dan frekuensi sering
dan/atau makan di antara waktu makan
Berikan dan bantu higiene mulut yang baik;
sebelum dan sesudah makan, gunakan sikat
gigi halus untuk
penyikatan yang lembut
Kolaborasi
Konsul pada ahli gizi
Pantau pemeriksaan
laboratorium seperti Hb, Hct, BUN, Albumin,
Protein,Transferin, Besi Serim, B12, Asam Folat, TIBC, Elektrolit Serum Mengidentifikasi
defisiensi, menduga
kemungkinan intervensi
Mengawasi masukan
kalori atau kualitas
kekurangan konsumsi
makanan
Makan sedikit dapat
menurunkan kelemahan
dan meningkatkan
pemasukan
Meningkatkan nafsu makan dan pemasukan oral, menurunkan
Pertumbuhan bakteri,
meminimalkan
kemampuan infeksi
Membantu dalam
membuat rencana diet untuk memenuhi
kebutuhan individual
Meningkatkan
efektivitas program
pengobatan, termasuk
sumber diet nutrisi yang dibutuhkan
Hipertermi
berhubungan
dengan perubahan
pada regulasi
temperatur ditandai
dengan
peningkatan
temperatur tubuh Hipertermi dapat
Teratasi Observasi tanda-tanda vital terutama suhu
Tubuh
Pantau suhu lingkungan
Jelaskan kepada klien pentingnya
mempertahankan intake cairan adekuat
Pantau intake dan output cairan
Kolaborasi
Berikan antipireutik
seperti aspirin atau
asetaminoven Menentukan langkah intervensi selanjutnya
Suhu ruangan harus diubah untuk mempertahankan suhu normal
Pemahaman tentang alasan tersebut
membantu klien dalam mengatasi gangguan
Mengetahui
perkembangan status cairan klien
Digunakan untuk
mengurangi demam dengan aksisentralnya
pada hipotalamus
meskipun demam dapat berguna untuk mengatasi
pertumbuhan
organisme dan
meningkatkan
autoimun dari sel-sel yang terinfeksi
Intoleransi aktivitas
Berhubungan dengan
ketidakmampuan
melaksanankan
aktivitas sehari-hari
ditandai dengan
adanya nyeri Setelah dilakukan
perawatan klien dapat melakukan
aktivitas
maksimal sesuai
kemampuan Kaji kemampuan pasien untuk melakukan tugas
normal, catat laporan kelelahan, keletihan, dan
kesulitan menyelesaikan
tugas
Berikan lingkungan tenang. Pertahankan
tirah baring bila
diindikasikan. Pantau dan batasi pengunjung,
telepon, dan gangguan
berulang tindakan yang
tak direncanakan
Prioritaskan jadwal asuhan keperawatan untuk meningkatkan
istirahat. Pilih periode istirahat dengan periode
aktivitas
Berikan bantuan dalam aktivitas bila perlu,
memungkinkan pasien untuk melakukannya
sebanyak mungkin
Rencanakan
kemampuan aktivitas dengan pasien, termasuk aktivitas yang pasien pandang perlu. Tingkatkan tingkat aktivitas sesuai toleransi
Gunakan teknik
penghematan energy
Anjurkan pasien untuk menghentikan aktivitas bila palpitasi, nyeri dada, napas pendek, kelemahan, atau pusing terjadi
Kaji kesiapan untuk
meningkatkan aktivitas, contoh: penurunan kelemahan/ kelelahan, TD stabil, frekuensi
nadi, peningkatan
perhatian pada
aktivitas dan perawatan diri Mempengaruhi pilihan
intervensi/ bantuan
Meningkatkan istirahat untuk menurunkan
kebutuhan oksigen tubuh dan menurunkan
regangan jantung dan paru
Mempertahankan
tingkat energy dan
meningkatkan regangan
pada sistem jantung dan
pernapasan
Membantu bila perlu, harga diri ditingkatkan
bila pasien melakukan
sesuatu sendiri
Meningkatkan secara
bertahap tingkat
aktivitas sampai normal
dan memperbaiki
stamina tanpa
kelemahan
Mendorong pasien melakukan banyak dengan membatasi penyimpangan energy dan mencegah
Kelemahan
Regangan/stres
kardiopulmonal
berlebihan/stres dapat menimbulkan
dekompensasi
/kegagalan
Stabilitas fisiologis pada istirahat penting untuk memajukan tingkat aktivitas individual
Resiko pola napas tak efektif
berhubungan
dengan penurunan
kapasitas pembawa
oksigen Meningkatkan efektivitas pola napas Evaluasi frekuensi pernapasan, catat upaya pernapasan, catat adanya dispnea
Auskultasi bunyi napas, catat area yang menurun, ada tidaknya
bunyi napas, dan adanya bunyi tambahan
Tinggikan kepala tempat
tidur, letakkan posisi duduk semi fowler,
bantu peningkatan
waktu tidur
Catat respon pada pelatihan napas dalam
atau pengobatan
pernapasan lain, catat
bunyi napas sebelum atau sesudah pengobatan Kecepatan upaya mungkin meningkatkan
nyeri, takut, demam,
menurunkan volume respirasi, akumulasi secret dan hipoksia,
penurunan kecepatan
dapat terjadi dri
penggunaan analgesic
berlebihan
Bunyi napas sering menurun pada dasar paru berhubungan dengan terjadinya
atelektasis. Bunyi tambahan seperti crackels/ ronchi dapat
menunjukkan
akumulasi cairan atau
obstruksi jalan napas parsial
Merangsang fungsi
pernapasan atau ekspansi paru, efektif
pada pencegahan dan kongesti paru
Catat keefektifan terapi atas kebutuhan untuk
pemilihan intervensi
lebih agresif
d. Implementasi
Membebaskan jalan nafas dengan mengatur posisi kepala ekstensi
Melakukan pemeriksaan fisik dengan cara auskultasi mendengarkan suara nafas (adakah ronchi)
Membersihkan saluran nafas dari sekret dan lendir.
Merencanakan target pemberian asupan cairan
Mengkaji pemahaman klien tentang alasan mempertahankan hidrasi yang adekuat
Mencatat intake dan output cairan
Memantau intake per oral
Memantau output cairan
Mengkaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai
Mengobservasi dan catat masukan makanan pasien
Memberikan makan sedikit dan frekuensi sering dan/atau makan di antara waktu makan
Berikan dan bantu higiene mulut yang baik; sebelum dan sesudah makan, gunakan sikat gigi halus untuk penyikatan yang lembut
Pantau pemeriksaan laboratorium seperti Hb, Hct, BUN, Albumin Protein,Transferin, Besi Serim, B12, Asam Folat, TIBC, Elektrolit Serum
Mengobservasi tanda-tanda vital terutama suhu tubuh
Memantau suhu lingkungan
Menjelaskan kepada klien pentingnya mempertahankan intake cairan adekuat
Memantau intake dan output cairan
Memberikan antipireutik seperti aspirin atau asetaminoven
Mengkaji kemampuan pasien untuk melakukan tugas normal, catat laporan kelelahan, keletihan, dan kesulitan menyelesaikan tugas
Memberikan lingkungan tenang. Pertahankan tirah baring bila diindikasikan. Pantau dan batasi pengunjung, telepon, dan gangguan berulang tindakan yang tak direncanakan
Memprioritaskan jadwal asuhan keperawatan untuk meningkatkan istirahat. Pilih periode istirahat dengan periode aktivitas
Memberikan bantuan dalam aktivitas bila perlu, memungkinkan pasien untuk melakukannya sebanyak mungkin
Merencanakan kemampuan aktivitas dengan pasien, termasuk aktivitas yang pasien pandang perlu. Tingkatkan tingkat aktivitas sesuai toleransi
Menggunakan teknik penghematan energy
Anjurkan pasien untuk menghentikan aktivitas bila palpitasi, nyeri dada, napas pendek, kelemahan, atau pusing terjadi
Mengkaji kesiapan untuk meningkatkan aktivitas, contoh: penurunan kelemahan/ kelelahan, TD stabil, frekuensi nadi, peningkatan perhatian pada aktivitas dan perawatan diri
Mengevaluasi frekuensi pernapasan, mencatat upaya pernapasan, mencatat adanya dispnea
Auskultasi bunyi napas, mencatat area yang menurun, ada tidaknya bunyi napas, dan adanya bunyi tambahan
Tinggikan kepala tempat tidur, letakkan posisi duduk semi fowler, bantu peningkatan waktu tidur
Mencatat respon pada pelatihan napas dalam atau pengobatan pernapasan lain, mencatat bunyi napas sebelum atau sesudah pengobatan
e. Evaluasi
S : “Saya sudah mulai bisa bernapas tanpa alat bantu, makan juga mulai banyak”
O : Suhu pasien belum turun
A : Tindakan telah dilaksanakan, dan pasien terlihat kooperatif, sehingga memudahkan perawat untuk melakukan tindakan
P : Melakukan pengkajian ulang, agar dapat menentukan intervensi selanjutnya terkait dengan suhu pasien
4.2 Peran Keperawatan
1. Pemberi Perawatan
Perawat membantu pasien mendapatkan kembali kesehatannya melalui proses kesembuhan.
2. Pembuat Keputusan Klinis
Perawat sebelum melakukan tindakan, terlebih dahulu menentukan intervensi yang terbaik untuk pasien dengan flu babi berdasarkan diagnose yang ada.
3. Pelindung dan Advokat Pasien
Perawat mempertahankan lingkungan yang aman bagi pasien, menghargai hak-hak pasien, memberikan informasi tambahan kepada pasien.
4. Manager Kasus
Perawat mengkoordinasikan dan mendelegasikan tanggung jawab asuhan dan mengawasi tenaga kesehatan lainnya.
5. Pemberi Kenyamanan
Selama melakukan tindakan keperawatan, perawat mempertahankan kenyamanan pasien, mengurangi nyeri yang dirasakan pasien
6. Komunikator
Perawat dalam menjalankan proses keperawatan tidak terlepas dari adanya komunikasi, baik komunikasi dengan pasien, keluarga pasien, antar perawat ataupun dengan tenaga medis lainnya.
7. Penyuluh
Perawat menjelaskan kepada pasien konsep dan data-data tentang kesehatan, mendemontrasikan prosedur seperti aktivitas perawatan diri. Perawat memberikan pengetahuan kepada pasien dan keluarga pasien tentang perawatan penderita flu babi, penularan, beserta pencegahannya. Perawat menggunakan metode pengajaran yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan pasien.
BAB 5 PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Flu babi adalah penyakit saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus influenza tipe A termasuk family orthomyxoviridae. Penyakit ini menyerang saluran pernapasan atas manusia. Meskipun gejalanya tidak separah virus flu babi namun penyakit ini mempunyai tingkat kematian yang tinggi.
Virus ini pertama kali muncul dan diisolasi dari seekot babi pada tahun 1930 di amerika serikat. Pada perkemangannya penyakit ini berpindah kemanusia terutama menyerang mereka yang kontak dengan babi. Lama tak terdengar, virus ini muncul kembali ditahun 2009 dan sudah sampai di Indonesia. Sebenarnya untuk penanganan penyakit ini hanya terletak pada pencegahannya. Apabila upaya pencegahan yang dilakukan para petugas kesehatan di Indonesia ini dapat dilakukan dengan maksimal, virus ini dapat diminimalisir penularannya.
Diagnosa keperawatan yang muncul pada penderita swine influenza ini antara lain:
a. Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan inflamasi ditandai dengan rhinorhea.
b. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan tidak seimbangnya cairan tubuh dengan kebutuhan ditandai dengan diare.
c. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan inadekuat absorbs nutrient oleh tubuh akibat reaksi inflamasi ditandai dengan anoreksia, sulit menelan.
d. Hipertermi berhubungan dengan perubahan pada regulasi temperatur ditandai dengan peningkatan temperatur tubuh.
e. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakmampuan melaksanankan aktivitas sehari-hari ditandai dengan adanya nyeri.
f. Resiko pola napas tak efektif berhubungan dengan penurunan kapasitas pembawa oksigen.
5.2 Saran
Untuk Masyarakat
Menggunakan masker ketika berada di tempat umum
Untuk Perawat
Selalu menggunakan APD ketika kontak dengan pasien
Untuk Tenaga Kesehatan Lain
Melakukan penyuluhan kesehatan, mendemonstrasikan vaksinasi
Untuk Pasien
Bersikap kooperatif, sehingga tindakan dapat berjalan lancer sesuai yang diharapkan
Untuk Keluarga Pasien
Menggunakan masker ketika kontak dengan pasien
Kontrol Infeksi
TUGAS MATA KULIAH KEBUTUHAN DASAR MANUSIA 1
“INFECTION CONTROL”
OLEH :
KELOMPOK IVB
1. LAKSMI WARDANI A. (092310101006)
2. SEPERZEKI Z.F (092310101022)
3. RIZA FIRMAN S. (092310101027)
4. SETYO ADI SUNANTO (092310101039)
5. YOHANDANI FRINDA P (092310101058)
6. LIELYS INAYATUL F (092310101063)
7. CLARA SINTHA RIANES (092310101067)
8. ANDRIYANI DWI W (092310101075)
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2010
PERTANYAAN :
1. Sebutkan cara pengendalian INOS diruang perawatan anak, ruang perawatan penyakit menular, ruang perawatan khusus, ruang rawat intensif !
2. Jelaskan tindakan yang harus dilakukan perawat ketika merawat klien dengan :
a. Flu babi/H1N1
b. SARS
3. Jelaskan perbedaan antiseptik, desinfektan, dan sterilisasi serta berikan masing-masing 3 contoh produk/caranya !
JAWABAN :
1. Secara garis besar pencegahan dan pengendalian infeksi nosokomial dilakukan melalui dua cara. Yang pertama adalah dengan membunuh penyebab dan menghindari terjadinya luka yang dikenal dengan istilah tindakan aseptik- atraumatik. Cara yang kedua adalah concomitant atau tindakan –tindakan yang relevan dan perlu untuk mencegah timbul dan menularnya kuman. Berikut adalah cara pengendalian INOS untuk masing-masing ruang perawatan :
A. Ruang perawatan anak
1. Selalu menjaga daya tahan alami anak yang memang masih lemah agar selalu stabil.
2. Mencuci tangan
Oleh karena cara penularan infeksi yang utama di ruang anak adalah melalui tangan petugas (bakteri transien), maka mencuci tangan merupakan satu cara yang efektif untuk melaksanakan program pengontrol infeksi. Dengan mencuci tangan, maka mikroba yang berada di tangan petugas akan hilang. Mencuci tangan dengan memakai sabun selama 15 detik akan menghilangkan mikroba. Sedangkan untuk membersihkan bakteri residen diperlukan waktu yang lebih lama dan harus memakai detergen antibakteri.
3. Pengunjung harus dibatasi untuk masuk ke bangsal perawatan anak untuk mencegah timbulnya infeksi, terutama terhadap pengunjung yang sakit.
4. Meminimalisirkan mobilitas anak / penderita.
5. Makanan siap saji, harus dibersihkan paling lama 4 jam setelah wadah dibuka. Makanan yang disimpan di lemari pendingin harus dibuang bila sudah lebih dari 24 jam. Susu formula harus diberikan dalam wadah yang dijamin steril dengan memanaskannya pada air mendidih paling tidak selama 5 menit.
6. Melakukan tindakan invasif sesuai dengan prosedur yang ada dan dilakukan dengan tepat.
7. Mengubah perilaku dari petugas, dokter, ko.as, dan perawat dalam mengatasi INOS, seperti: menggunakan handscoon dalam melakukan tindakan, menggunakan master, menggunakan alat yang steril, melakukan tindakan sesuai dengan protap dari Rumah Sakit yang baik.
B. Ruang perawatan penyakit menular
1. Para petugas kesehatan harus aktif dalam melakukan penyuluhan kesehatan bagi penderita maupun keluarga.
2. Dalam penanganan produk infeksius, harus sesuai dengan prosedur dan dilakukan dengan tepat.
3. Alat-alat yang digunakan di ruang tempat perawatan pasien penderita penyakit menular harus dipisahkan dengan alat-alat yang digunakan di ruang perawatan lain.
4. Petugas kebersihan harus benar-benar dilatih tentang cara membersihkan yang benar.
5. Sampah yang berasal dari ruang perawatan penyakit menular sebaiknya ditempatkan pada bak sampah tersendiri.
C. Ruang perawatan khusus
1. Meminimalisirkan pasien untuk terkena penyakit penyerta.
2. Petugas kesehatan selalu melakukan tindakan perawatan sesuai dengan prosedur yang ada dan dilakukan dengan benar.
3. Membantu pasien mengurangi/ menghilangkan beban mental/ psikologinya (melakukan tindakan menghibur pasien).
4. Selalu meningkatkan atau menjaga imunitas pasien agar selalu stabil.
5. Alat medis yang digunakan untuk perawatan harus benar-benar steril.
6. Dalam satu ruangan hendaknya pasien yang dirawat tak terlalu padat/ banyak.
7. Membatasi jumlah pengunjung.
8. Meningkatkan status gizi pasien.
D. Ruangan perawatan intensif
1. Manajemen RS harus meningkatkan pengetahuan petugas kesehatan khususnya dokter dan perawat, melalui sosialisasi Standart Operating Procedure ruang rawat intensif secara terus-menerus dan berkelanjutan terutama tentang pentingnya kesehatan dan kebersihan tangan, langkah mencuci tangan dan menggosok tangan yang benar serta pembenahan fasilitas cuci yang ada.
2. Peralatan invasif yang digunakan harus sudah dipastikan benar-benar steril.
3. Prosedur invasif dilakukan dengan benar.
4. Meminimalisirkan penggunaan antibiotik yang berspektrum luas.
5. Petugas kesehatan hendaknya melakukan monitoring secara terus-menerus.
2. Tindakan yang harus dilakukan perawat ketika merawat klien :
A. Gejala flu babi seperti influensa biasa. Penderita biasanya mengalami demam 39-40 derajat celcius selama 1-2 hari, tenggorokan sakit dan pilek yang tak kunjung sembuh. Penderita diperiksa apakah memiliki riwayat kontak dengan hewan babi atau penderita yang terinveksi virus H1N1 penyebab flu babi. Untuk mendiagnosis infeksi swine influenza, dibutuhkan koleksi spesimen dari saluran nafas dalam 4-5 hari pertama. Spesimen ini kemudian diperiksakan di Laboratorium. Kemudian pasien dengan gejala flu burung akan ditempatkan di ruang karantina atau Triage. Sebelum 48 jam sejak gejala timbul, pasien biasanya diberi obat antivirus tamiflu. Setelah hasil laboratorium menunjukkan positif flu babi, pasien harus diisolasi di ruang Intensive Care Unit atau ICU. Kamar isolasi ini dilengkapi fasilitas medis seperti tempat tidur, ventilator, dan mobile X-ray. Ini penanganan standar untuk penyakit menular seperti flu babi.
Selama kontak dengan pasien, perawat harus menggunakan alat pelindung diri (APD).APD itu antara lain berupa sepatu bot, baju tiga lapis, sarung tangan, sarung tangan, kacamata google, penutup rambut. Setelah keluar dari ruangan pasien, perawat diharuskan mandi.
B. Tindakan pada pasien dengan SARS:
a. Kasus dengan gejala SARS melewati triase(petugas sudah memakai masker N95). Mempersiapkan ke ruang pemeriksaan atau bangsal yang sudah disiapkan.
b. Memberikan masker bedah pada penderita
c. Jika ada pasien SARS, pada dasarnya sama dengan merawat pasien dengan flu burung, dan ketika memasuki ruangan dan kontak dengan pasien, harus menggunakan alat pelindung diri (APD).APD itu antara lain berupa sepatu bot, baju tiga lapis, sarung tangan, sarung tangan, kacamata google, penutup rambut. Setelah keluar dari ruangan pasien, perawat diharuskan mandi.
d. Mencatat untuk mendapatkan keterangan rinci mengenai tanda klinis, riwayat perjalanan, riwayat kontak, termasuk riwayat munculnya gangguan pernafasan pada kontak sepuluh hari sebelumnya.
e. Melakukan pemeriksaan fisis.
f. Melakukan pemeriksaan foto toraks dan darah tepi lengkap.
g. Bila foto toraks normal lihat indikasi rawat atau tetap di rumah, menganjurkan untuk melakukan kebersihan diri, tidak masuk kantor/ sekolah dan hindari menggunakan angkutan umum selama belum sembuh.
h. Pengobatan di rumah, simtomatik, antibiotik bila ada indikasi, vitamin dan makanan bergizi;
i. Apabila keadaan memburuk segera hubungi dokter
j. Bila doto toraks menunjukkan gambaran infiltrat satu sisi atau dua sisi paru dengan atau tanpa infiltrat interstial lihat penatalaksanaan kasus probable.
Penatalaksanaan Kasus Probable:
a. Merawat di Rumah Sakit dalam ruang isolasi dengan kasus sejenis;
b. Pengambilan darah dengan darah tepi lengkap, fungsi hati, fosfokinase , urea, elektrolit, C reaktif protein;
c. Pengambilan sampel untuk membedakan dari kasus pneumonia tipikal/ atipikal lainnya:
1. Pemeriksaan usap hidung dan tenggorokan
2. Biakan darah, serologi
3. Urine
d. Pemantauan darah 2 hari sekali
e. Foto toraks sesuai indikasi klinis
f. Pemberiaan pengobatan lihat penatalaksanaan terapi kasus SARS.
3.A. Antiseptik (germisida) adalah senyawa kimia yang digunakan untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme khusus pada jaringan yang hidup seperti pada permukaan kulit dan membran mukosa. Penggunaan antiseptik sangat direkomendasikan ketika terjadi epidemi penyakit karena dapat memperlambat penyebaran penyakit.
Efektivitas antiseptik dalam membunuh mikroorganisme bergantung pada beberapa faktor, misalnya konsentrasi dan lama paparan.
Konsentrasi mempengaruhi adsorpsi atau penyerapan komponen antiseptik. Pada konsentrasi rendah, beberapa antiseptik menghambat fungsi biokimia membran bakteri, namun tidak akan membunuh bakteri tersebut. Ketika konsentrasi antiseptik tersebut tinggi, komponen antiseptik akan berpenetrasi ke dalam sel dan mengganggu fungsi normal seluler secara luas,termasuk menghambat biosintesis(pembuatan) makromolekul dan persipitasi protein intraseluler dan asam nukleat (DNA atau RNA}.
Sedangkan lama paparan antiseptik dengan banyaknya kerusakan pada sel mikroorganisme berbanding lurus.
Contoh:
- Triclosan, adalah antiseptik yang efektif dan populer, bisa ditemui dalam sabun, obat kumur, deodoran, dan lain-lain.Triclosan mempunyai daya antimikroba dengan spektrum luas (dapat melawan berbagai macam bakteri) dan mempunyai sifat toksisitas minim.
Mekanisme kerja triclosan adalah dengan menghambat biosintesis lipid sehingga membran mikroba kehilangan kekuatan dan fungsinya.
Contoh produknya: sabun, obat kumur, deodorant.
Cara penggunaannya: dipakai berdasarkan kegunaannya, seperti untuk mandi (sabun), dikumur(obat kumur), dioleskan ke permukaan tubuh seperti ketiak (deodorant).
- Garam merkuri, merupakan senyawa antiseptik yang paling kuat.
Merkuri klorida (HgCl) dapat digunakan untuk mencuci tangan dengan perbandingan dalam air 1:1000. Senyawa ini dapat membunuh hampir semua jenis bakteri dalam beberapa menit. Kelemahan dari senyawa ini adalah berkemungkinan besar mengiritasi jaringan karena daya kerja antimikrobanya yang sangat kuat.
Contoh produknya: bubuk tumbuh gigi, obat cacing serta obat pencahar
Cara penggunaannya: dipakai berdasarkan kegunaannya:
- Asam Borat, merupakan antiseptik lemah, tidak mengiritasi jaringan. Zat ini dapat digunakan secara optimum saat dilarutkan dalam air dengan perbandingan 1:20.
Contoh produknya: salep, bedak, larutan kompres, obat oles mulut, dan obat pencuci mata.
Cara pengunaannya: dipakai berdasarkan kegunaannya.
B. Desinfektan adalah senyawa kimia yang digunakan untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada benda mati. Banyak bahan kimia yang dapat berfungsi sebagai desinfektan, tetapi umumnya dikelompokkan ke dalam golongan aldehid atau golongan pereduksi, yaitu bahan kimia yang mengandung gugus -COH; golongan alkohol, yaitu senyawa kimia yang mengandung gugus -OH; golongan halogen atau senyawa terhalogenasi, yaitu senyawa kimia golongan halogen atau yang mengandung gugus -X; golongan fenol dan fenol terhalogenasi, golongan garam amonium kuarterner, golongan pengoksidasi, dan golongan biguanida.
Contoh dari senyawa disinfektan bermacam-macam, miasalnya:
- Senyawa halogen. Hipoklorit dan povidon-iodin adalah zat oksidasi dan melepaskan ion halide. Walaupun murah dan efektif, zat ini dapat menyebabkan karat pada logam dan cepat diinaktifkan oleh bahan organik
Contoh produknya: Chloros, Domestos, dan Betadine.
- Klorsilenol
Klorsilenol merupakan larutan yang tidak mengiritasi dan banyak digunakan sebagai antiseptik, aktifitasnya rendah terhadap banyak bakteri dan penggunaannya terbatas sebagai desinfectan.
Contoh produknya: Dettol.
- Alkohol
Etil alkohol atau propil alkohol pada air digunakan untuk mendesinfeksi kulit. Alkohol yang dicampur dengan aldehid digunakan dalam bidang kedokteran gigi unguk mendesinfeksi permukaan, namun ADA tidak menganjurkkan pemakaian alkohol untuk mendesinfeksi permukaan oleh karena cepat menguap tanpa meninggalkan efek sisa.
C. Sterilisasi adalah tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan semua mikroorganisme (bakteri, jamur, parasit dan virus) termasuk endospora bakteri pada benda mati atau instrumen dengan cara uap air panas tekanan tinggi (otoklaf), panas kering (oven), sterilan kimia atau radiasi
Sterilisasi memiliki 3 macam cara yaitu:
1. Sterilisasi Uap
- 121 ˚C , tekanan pada 106 kPa
- 20 ' untuk alat tidak terbungkus
- 30 ' untuk alat yang dibungkus
2. Sterilisasi Panas Kering (Oven)
- 170 ˚C selama 1 jam. Waktu penghitungan dimulai setelah suhu yang diinginkan tercapai.
- 160 ˚C untuk alat tajam (gunting, jarum) selama 2 jam.
3. Sterilisasi Kimia
- Glutaraldehid 2-4(cydex), Direndam sekurang-kurangnya 10 jam.
- Formaldehid 8, direndam 24 jam.
- Bilas dengan air steril sebelum digunakan kembali atau sebelum disimpan.
DAFTAR PUSTAKA
Sudoyo, Aru.2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam
Potter & Perry, 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Jakarta: EGC Penerbit Buku Kedokteran
http://www.klikpdpi.com/swine%20flu/penanganan%20flu%20babi/penanganan.htm
http://www.infeksi.com/articles.php?lng=in&pg=41
http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/15 Aplikasi Teknik Nuklir102.pdf/15AplikasiTeknikNuklir102.html
“INFECTION CONTROL”
OLEH :
KELOMPOK IVB
1. LAKSMI WARDANI A. (092310101006)
2. SEPERZEKI Z.F (092310101022)
3. RIZA FIRMAN S. (092310101027)
4. SETYO ADI SUNANTO (092310101039)
5. YOHANDANI FRINDA P (092310101058)
6. LIELYS INAYATUL F (092310101063)
7. CLARA SINTHA RIANES (092310101067)
8. ANDRIYANI DWI W (092310101075)
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2010
PERTANYAAN :
1. Sebutkan cara pengendalian INOS diruang perawatan anak, ruang perawatan penyakit menular, ruang perawatan khusus, ruang rawat intensif !
2. Jelaskan tindakan yang harus dilakukan perawat ketika merawat klien dengan :
a. Flu babi/H1N1
b. SARS
3. Jelaskan perbedaan antiseptik, desinfektan, dan sterilisasi serta berikan masing-masing 3 contoh produk/caranya !
JAWABAN :
1. Secara garis besar pencegahan dan pengendalian infeksi nosokomial dilakukan melalui dua cara. Yang pertama adalah dengan membunuh penyebab dan menghindari terjadinya luka yang dikenal dengan istilah tindakan aseptik- atraumatik. Cara yang kedua adalah concomitant atau tindakan –tindakan yang relevan dan perlu untuk mencegah timbul dan menularnya kuman. Berikut adalah cara pengendalian INOS untuk masing-masing ruang perawatan :
A. Ruang perawatan anak
1. Selalu menjaga daya tahan alami anak yang memang masih lemah agar selalu stabil.
2. Mencuci tangan
Oleh karena cara penularan infeksi yang utama di ruang anak adalah melalui tangan petugas (bakteri transien), maka mencuci tangan merupakan satu cara yang efektif untuk melaksanakan program pengontrol infeksi. Dengan mencuci tangan, maka mikroba yang berada di tangan petugas akan hilang. Mencuci tangan dengan memakai sabun selama 15 detik akan menghilangkan mikroba. Sedangkan untuk membersihkan bakteri residen diperlukan waktu yang lebih lama dan harus memakai detergen antibakteri.
3. Pengunjung harus dibatasi untuk masuk ke bangsal perawatan anak untuk mencegah timbulnya infeksi, terutama terhadap pengunjung yang sakit.
4. Meminimalisirkan mobilitas anak / penderita.
5. Makanan siap saji, harus dibersihkan paling lama 4 jam setelah wadah dibuka. Makanan yang disimpan di lemari pendingin harus dibuang bila sudah lebih dari 24 jam. Susu formula harus diberikan dalam wadah yang dijamin steril dengan memanaskannya pada air mendidih paling tidak selama 5 menit.
6. Melakukan tindakan invasif sesuai dengan prosedur yang ada dan dilakukan dengan tepat.
7. Mengubah perilaku dari petugas, dokter, ko.as, dan perawat dalam mengatasi INOS, seperti: menggunakan handscoon dalam melakukan tindakan, menggunakan master, menggunakan alat yang steril, melakukan tindakan sesuai dengan protap dari Rumah Sakit yang baik.
B. Ruang perawatan penyakit menular
1. Para petugas kesehatan harus aktif dalam melakukan penyuluhan kesehatan bagi penderita maupun keluarga.
2. Dalam penanganan produk infeksius, harus sesuai dengan prosedur dan dilakukan dengan tepat.
3. Alat-alat yang digunakan di ruang tempat perawatan pasien penderita penyakit menular harus dipisahkan dengan alat-alat yang digunakan di ruang perawatan lain.
4. Petugas kebersihan harus benar-benar dilatih tentang cara membersihkan yang benar.
5. Sampah yang berasal dari ruang perawatan penyakit menular sebaiknya ditempatkan pada bak sampah tersendiri.
C. Ruang perawatan khusus
1. Meminimalisirkan pasien untuk terkena penyakit penyerta.
2. Petugas kesehatan selalu melakukan tindakan perawatan sesuai dengan prosedur yang ada dan dilakukan dengan benar.
3. Membantu pasien mengurangi/ menghilangkan beban mental/ psikologinya (melakukan tindakan menghibur pasien).
4. Selalu meningkatkan atau menjaga imunitas pasien agar selalu stabil.
5. Alat medis yang digunakan untuk perawatan harus benar-benar steril.
6. Dalam satu ruangan hendaknya pasien yang dirawat tak terlalu padat/ banyak.
7. Membatasi jumlah pengunjung.
8. Meningkatkan status gizi pasien.
D. Ruangan perawatan intensif
1. Manajemen RS harus meningkatkan pengetahuan petugas kesehatan khususnya dokter dan perawat, melalui sosialisasi Standart Operating Procedure ruang rawat intensif secara terus-menerus dan berkelanjutan terutama tentang pentingnya kesehatan dan kebersihan tangan, langkah mencuci tangan dan menggosok tangan yang benar serta pembenahan fasilitas cuci yang ada.
2. Peralatan invasif yang digunakan harus sudah dipastikan benar-benar steril.
3. Prosedur invasif dilakukan dengan benar.
4. Meminimalisirkan penggunaan antibiotik yang berspektrum luas.
5. Petugas kesehatan hendaknya melakukan monitoring secara terus-menerus.
2. Tindakan yang harus dilakukan perawat ketika merawat klien :
A. Gejala flu babi seperti influensa biasa. Penderita biasanya mengalami demam 39-40 derajat celcius selama 1-2 hari, tenggorokan sakit dan pilek yang tak kunjung sembuh. Penderita diperiksa apakah memiliki riwayat kontak dengan hewan babi atau penderita yang terinveksi virus H1N1 penyebab flu babi. Untuk mendiagnosis infeksi swine influenza, dibutuhkan koleksi spesimen dari saluran nafas dalam 4-5 hari pertama. Spesimen ini kemudian diperiksakan di Laboratorium. Kemudian pasien dengan gejala flu burung akan ditempatkan di ruang karantina atau Triage. Sebelum 48 jam sejak gejala timbul, pasien biasanya diberi obat antivirus tamiflu. Setelah hasil laboratorium menunjukkan positif flu babi, pasien harus diisolasi di ruang Intensive Care Unit atau ICU. Kamar isolasi ini dilengkapi fasilitas medis seperti tempat tidur, ventilator, dan mobile X-ray. Ini penanganan standar untuk penyakit menular seperti flu babi.
Selama kontak dengan pasien, perawat harus menggunakan alat pelindung diri (APD).APD itu antara lain berupa sepatu bot, baju tiga lapis, sarung tangan, sarung tangan, kacamata google, penutup rambut. Setelah keluar dari ruangan pasien, perawat diharuskan mandi.
B. Tindakan pada pasien dengan SARS:
a. Kasus dengan gejala SARS melewati triase(petugas sudah memakai masker N95). Mempersiapkan ke ruang pemeriksaan atau bangsal yang sudah disiapkan.
b. Memberikan masker bedah pada penderita
c. Jika ada pasien SARS, pada dasarnya sama dengan merawat pasien dengan flu burung, dan ketika memasuki ruangan dan kontak dengan pasien, harus menggunakan alat pelindung diri (APD).APD itu antara lain berupa sepatu bot, baju tiga lapis, sarung tangan, sarung tangan, kacamata google, penutup rambut. Setelah keluar dari ruangan pasien, perawat diharuskan mandi.
d. Mencatat untuk mendapatkan keterangan rinci mengenai tanda klinis, riwayat perjalanan, riwayat kontak, termasuk riwayat munculnya gangguan pernafasan pada kontak sepuluh hari sebelumnya.
e. Melakukan pemeriksaan fisis.
f. Melakukan pemeriksaan foto toraks dan darah tepi lengkap.
g. Bila foto toraks normal lihat indikasi rawat atau tetap di rumah, menganjurkan untuk melakukan kebersihan diri, tidak masuk kantor/ sekolah dan hindari menggunakan angkutan umum selama belum sembuh.
h. Pengobatan di rumah, simtomatik, antibiotik bila ada indikasi, vitamin dan makanan bergizi;
i. Apabila keadaan memburuk segera hubungi dokter
j. Bila doto toraks menunjukkan gambaran infiltrat satu sisi atau dua sisi paru dengan atau tanpa infiltrat interstial lihat penatalaksanaan kasus probable.
Penatalaksanaan Kasus Probable:
a. Merawat di Rumah Sakit dalam ruang isolasi dengan kasus sejenis;
b. Pengambilan darah dengan darah tepi lengkap, fungsi hati, fosfokinase , urea, elektrolit, C reaktif protein;
c. Pengambilan sampel untuk membedakan dari kasus pneumonia tipikal/ atipikal lainnya:
1. Pemeriksaan usap hidung dan tenggorokan
2. Biakan darah, serologi
3. Urine
d. Pemantauan darah 2 hari sekali
e. Foto toraks sesuai indikasi klinis
f. Pemberiaan pengobatan lihat penatalaksanaan terapi kasus SARS.
3.A. Antiseptik (germisida) adalah senyawa kimia yang digunakan untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme khusus pada jaringan yang hidup seperti pada permukaan kulit dan membran mukosa. Penggunaan antiseptik sangat direkomendasikan ketika terjadi epidemi penyakit karena dapat memperlambat penyebaran penyakit.
Efektivitas antiseptik dalam membunuh mikroorganisme bergantung pada beberapa faktor, misalnya konsentrasi dan lama paparan.
Konsentrasi mempengaruhi adsorpsi atau penyerapan komponen antiseptik. Pada konsentrasi rendah, beberapa antiseptik menghambat fungsi biokimia membran bakteri, namun tidak akan membunuh bakteri tersebut. Ketika konsentrasi antiseptik tersebut tinggi, komponen antiseptik akan berpenetrasi ke dalam sel dan mengganggu fungsi normal seluler secara luas,termasuk menghambat biosintesis(pembuatan) makromolekul dan persipitasi protein intraseluler dan asam nukleat (DNA atau RNA}.
Sedangkan lama paparan antiseptik dengan banyaknya kerusakan pada sel mikroorganisme berbanding lurus.
Contoh:
- Triclosan, adalah antiseptik yang efektif dan populer, bisa ditemui dalam sabun, obat kumur, deodoran, dan lain-lain.Triclosan mempunyai daya antimikroba dengan spektrum luas (dapat melawan berbagai macam bakteri) dan mempunyai sifat toksisitas minim.
Mekanisme kerja triclosan adalah dengan menghambat biosintesis lipid sehingga membran mikroba kehilangan kekuatan dan fungsinya.
Contoh produknya: sabun, obat kumur, deodorant.
Cara penggunaannya: dipakai berdasarkan kegunaannya, seperti untuk mandi (sabun), dikumur(obat kumur), dioleskan ke permukaan tubuh seperti ketiak (deodorant).
- Garam merkuri, merupakan senyawa antiseptik yang paling kuat.
Merkuri klorida (HgCl) dapat digunakan untuk mencuci tangan dengan perbandingan dalam air 1:1000. Senyawa ini dapat membunuh hampir semua jenis bakteri dalam beberapa menit. Kelemahan dari senyawa ini adalah berkemungkinan besar mengiritasi jaringan karena daya kerja antimikrobanya yang sangat kuat.
Contoh produknya: bubuk tumbuh gigi, obat cacing serta obat pencahar
Cara penggunaannya: dipakai berdasarkan kegunaannya:
- Asam Borat, merupakan antiseptik lemah, tidak mengiritasi jaringan. Zat ini dapat digunakan secara optimum saat dilarutkan dalam air dengan perbandingan 1:20.
Contoh produknya: salep, bedak, larutan kompres, obat oles mulut, dan obat pencuci mata.
Cara pengunaannya: dipakai berdasarkan kegunaannya.
B. Desinfektan adalah senyawa kimia yang digunakan untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada benda mati. Banyak bahan kimia yang dapat berfungsi sebagai desinfektan, tetapi umumnya dikelompokkan ke dalam golongan aldehid atau golongan pereduksi, yaitu bahan kimia yang mengandung gugus -COH; golongan alkohol, yaitu senyawa kimia yang mengandung gugus -OH; golongan halogen atau senyawa terhalogenasi, yaitu senyawa kimia golongan halogen atau yang mengandung gugus -X; golongan fenol dan fenol terhalogenasi, golongan garam amonium kuarterner, golongan pengoksidasi, dan golongan biguanida.
Contoh dari senyawa disinfektan bermacam-macam, miasalnya:
- Senyawa halogen. Hipoklorit dan povidon-iodin adalah zat oksidasi dan melepaskan ion halide. Walaupun murah dan efektif, zat ini dapat menyebabkan karat pada logam dan cepat diinaktifkan oleh bahan organik
Contoh produknya: Chloros, Domestos, dan Betadine.
- Klorsilenol
Klorsilenol merupakan larutan yang tidak mengiritasi dan banyak digunakan sebagai antiseptik, aktifitasnya rendah terhadap banyak bakteri dan penggunaannya terbatas sebagai desinfectan.
Contoh produknya: Dettol.
- Alkohol
Etil alkohol atau propil alkohol pada air digunakan untuk mendesinfeksi kulit. Alkohol yang dicampur dengan aldehid digunakan dalam bidang kedokteran gigi unguk mendesinfeksi permukaan, namun ADA tidak menganjurkkan pemakaian alkohol untuk mendesinfeksi permukaan oleh karena cepat menguap tanpa meninggalkan efek sisa.
C. Sterilisasi adalah tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan semua mikroorganisme (bakteri, jamur, parasit dan virus) termasuk endospora bakteri pada benda mati atau instrumen dengan cara uap air panas tekanan tinggi (otoklaf), panas kering (oven), sterilan kimia atau radiasi
Sterilisasi memiliki 3 macam cara yaitu:
1. Sterilisasi Uap
- 121 ˚C , tekanan pada 106 kPa
- 20 ' untuk alat tidak terbungkus
- 30 ' untuk alat yang dibungkus
2. Sterilisasi Panas Kering (Oven)
- 170 ˚C selama 1 jam. Waktu penghitungan dimulai setelah suhu yang diinginkan tercapai.
- 160 ˚C untuk alat tajam (gunting, jarum) selama 2 jam.
3. Sterilisasi Kimia
- Glutaraldehid 2-4(cydex), Direndam sekurang-kurangnya 10 jam.
- Formaldehid 8, direndam 24 jam.
- Bilas dengan air steril sebelum digunakan kembali atau sebelum disimpan.
DAFTAR PUSTAKA
Sudoyo, Aru.2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam
Potter & Perry, 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Jakarta: EGC Penerbit Buku Kedokteran
http://www.klikpdpi.com/swine%20flu/penanganan%20flu%20babi/penanganan.htm
http://www.infeksi.com/articles.php?lng=in&pg=41
http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/15 Aplikasi Teknik Nuklir102.pdf/15AplikasiTeknikNuklir102.html
Sejarah Perkembangan Pendidikan Keperawatan
Sejarah perkembangan Pendidikan Keperawatan di Indonesia
Perkembangan Pendidikan Keperawatan Di luar Indonesia
Zaman Purba
Pada Zaman ini orang percaya bahwa sesuatu yang ada di bumi mempunyai suatu kekuatan mistik yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia. Kepercayaan ini biasa disebut animism. Mereka meyakini bahwa sakitnya seseorang disebabkan oleh kekuatan alam atau pengaruh kekuatan gaib seperti batu besar, gunung tinggi, pohon besar, sungai besar. Jiwa yang baik membawa kesehatan, jika yang jahat membawa kesakitan dan kematian (Calor, Taylor, Lilis & Lemone, 1997). Peran tatib dan perawat jelas berbeda, tatib adalah medicineman yang mengobati penyakit dengan jalan melantunkan nyanyian, member semangat dari ketakutan atau membuka otak untuk menhilangkan jiwa yang jahat (Dolan, Fitzpatrick & Herman, 1983). Perawat biasanya berperan sebagai ibu yang merawat familinya sewaktu sakit dengan memberikan perawatan fisik dan memberikan obat dari tumbuh-tumbuhan. Peran ini diteruskan sampai saat ini.
Zaman keagamaan
Pada zaman ini, kuuil menjadi pusat perawatan medis sebab orang percaya bahwa penyakit disebabkan oleh dosa dan kutukan Tuhan. Pemimpin agama dijunjung tinggi sebagai tabib, perawat dianggap sebagai budak dan mendapat penghargaan yang rendah karena pekerjaannya didasarkan perintah dari pemimpin agama yang berperan sebagai tabib.
Permulaan Masehi
Pada permulaan masehi, agama Kristen mulai berkembang. Pada masa ini keperawatan mengalami kemajuan yang berarti seiring dengan kepesatan perkembangan agama Kristen. Organisasi wanita pertama yang dibentuk pada saat itu dinamakan Deaconesses, mengunjungi orang-orang sakit dan anggota keagamaan laki-laki memberikan perawatan serta mengubur orang mati. Pada perang salib perawat laki-laki dan perempuan bertugas merawat orang-orang yang luka dalam peperangan tersebut.
Kemajuan profesi keperawatan pada masa ini juga terlihat jelas dengan berdirinya rumah sakit terkenal di Roma yang bernama Monastic hospital. RS ini dilengkapi dengan fasilitas perawatan berupa bangsal-bangsal perawatan untuk merawat orang cacat, miskin dan yatim piatu.
Seperti halnya di Eropa, pada pertengahan abad VI masehi keperawatan juga berkembang di benua Asia. Tepatnya di Timur Tengah seiring dengan perkembangan agama Islam. Pengaruh agama Islam terhadap perkembangan keperawatan tidak terlepas dari keberhasilan Nabi Muhammad SAW menyebarkan agama Islam ke berbagai pelosok Negara. Pada masa ini di Jazirah Arab berkembang pesat ilmu pengetahuan seperti ilmu pasti, ilmu kimia, hygiene, dan obat-obatan. Hal ini menyebabkan keperawatan juga berkembang. Prinsip dasar keperawatan seperti pentingnya menjaga kebersihan diri (personal hygiene), kebersihan makanan, air dan lingkungan berkembang pesat. Tokoh keperawatan yang terkenal dari dunia Arab pada masa ini adalah Rafidah.
Permulaan Abad XVI
Struktur dan orientasi masyarakat berubah dari orientasi keagamaan menjadi orientasi pada kekuasaan, yaitu perang, eksplorasi kekayaan alam, serta perkembangan pengetahuan. Akibatnya banyak gereja dan tempat ibadah ditutup, padahal tempat ini digunakan oleh ordo-ordo keagamaan untuk merawat orang sakit. Kondisi ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan keperawtan. Untuk memenuhi kebutuhan perawat, wanita yang pernah melakukan kejahatan dan telah bertobat dapat diterima bekerja sebagai prawat. Akibat reputasi yang jelek ini, perawat menerima gaji yang rendah dengan jam kerja lama pada kondisi yang buruk (Taylor C.,dkk, 1989)
Masa Sebelum PD II
Dasar pelayanan keperawtan dititikberatkan pada pengaduan sebagai ungkapan cinta bersama yang diinspirasikan oleh ajaran agama. Sasarannya adalah pelayanan orang yang sakit. Kegiatan pelayanan ditujukan untuk menolong orang sakit agar sembuh atau lebih sehat . Tenaga perawat yang meberi pelayanan tersebut sedikit sekali atau bahkan tanpa pendidikan formal. Yang terpenting adalah “magang” atau pengalaman praktik langsung, karena pada masa itu yang menonjol adalah “role model” atau model peran. Ruang lingkup pelayanan perawatan lebih bersifat kuratif dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar fisiologis manusia yang sakit.
Florence Nightingale (1820-1910) merupakan tokoh pembaharu perawatan pada saat itu dan bahkan sering disebut Ibu Perawatan. Pada waktu itu, Florence Nightingale sudah menyadari pentingnya suatu sekolah untuk mendidik para calon perawat, agar dapat diberikan pengetahuan, keterampilan dan pembinaan mental sehingga dihasilkan tenaga perawatan yang berbudi luhur, berpengetahuan luas dan terampil dalam melaksanakan perawatan. Beliau menetapkan struktur dasar sebagai prasyarat dalam pendidikan perawat:
a. Mendirikan sekolah
b. Menentukan tujuan pendidikan perawat
c. Menetapkan pengetahuan yang harus dimiliki para calon sebagai dasar perawatan
Disamping itu, Florence Nightingale telah berpendapat bahwa:
a. Perlu persiapan pendidikan yang berlainan bagi perawat pelaksana dan perawat administrator atau supervisor.
b. Perlu diperhatikan bahwa harus ada perubahan tentang jam kerja perawat yang waktu itu berlangsung 12 jam/hari dan 7 hari/minggu
c. Perlu diperhatikan peningkatan pendapatan perawat setiap 6 bulan, mengingat beban dan tanggung jawab mereka
Namun, secara menyeluruh perkembangan perawat dari zaman Florence Nightingale sampai pecah perang Dunia II dinilai sangat kecil atau hamper tidak ada perubahan. Oleh karena itu, masa ini sering disebut sebagai masa pemeliharaan.
Masa selama PD II
Selama perang, banyak kejadian yang merupakan “tekanan” bagi setiap bangsa di dunia. Tekanan perang ini mendorong manusia mengadakan perubahan-perubahan. Kemajuan teknologi dimaksudkan untuk berlomba menakhlukkan dunia. Penerapan teknologi modern dalam bidang pelayanan orang sakit telah mulai diperkenalkan waktu itu sebagai jawaban atas kebutuhan pelayanan kesehatan akibat penderitaan sakit selama perang. Timbulnya penyakit akibat perang, menyebabkan dibutuhkannya peningkatan pengetahuan dan keterampilan tenaga medis maupun perawat. Kemampuan satu bidang profesi tertentu tidak dapat memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan waktu itu. Inipun merupakan tantangan baru bagi perawat dalam memberikan pelayanan kesehatan bersama dengan profesi lain.
Masa Pascaperang Dunia II
Akibat PD II yang mengakibatkan banyaknya penderitan bagi penduduk dunia telah menggugah semua pihak untuk memperbaiki keadaan dunia. Perkembangan pesat di segala ilmu dan bidang kehidupan, sekaligus merupakan perubahan-perubahan untuk mewujudkan masyarakat dunia yang sejahtera. Perkembangan dalam bidang perawatan secara pesat terjadi di Amerika yang dipengaruhi oleh:
a. Kesadaran masyarakat yang meningkat di bidang kesehatan
b. Pertambahan penduduk yang relative tinggi, menimbulkan masalah baru dalam bidang pelayanan kesehatan
c. Pertumbuhan ekonomi, akan mempengaruhi pula tingkah laku
d. Perkembangan ilmu pengetahuan terutama yang menyangkut ilmu kedokteran, pertemuan-pertemuan penting dalam bidang medic, cara-cara baru dalam terapi yang semuanya sangat penting dalam proses penyembuhan penyakit
e. Upaya-upaya menjadi lebih aktif dan kreatif sehingga tidak hanya meliputi pelayanan kuratif saja melainkan juga upaya preventif dan promotif.
f. Adanya perkembangan baru dalam kebijakan pendidikan, sehingga sekolah perawat harus mengalami perubahan juga.
Dasar pemikiran semula, “The Nurse must give total patient care” dalam arti sempit telah berkembang, dalam arti luas perawat lebih menyadari atas makna totality of the individual client dari sebelumnya. Oleh karena itu terjadi perubahan dari perawat bekerja sendiri menjadi bekerja secara team.
Dalam decade ini telah dilancarkan perjuangan untuk pengakuan keperawatan sebagai profesi. Lucile brown (1948) menulis laporan tentang pengakuan perawat sebagai profesi merupakan titik tolak yang besar untuk kehidupan perawat dan profesi perawat. Ia memperhatikan penghargaan pada perawat dalam kaitannya dengan tanggung jawab sebagai penyelenggara pelayanan perawatan perawatan yang bermutu. Untuk itu disadari perlunya suatu pengelolaan pelayanan keperawatan yang baik untuk menjamin mutu dan sekaligus tersedia alat evaluasi keperawatan tersebut.
Sejak tahun 1950
Dalam mengacu proses profesionalisme, perlu pengembangan pendidikan keperawatan. Sebenarnya pendidikan keperawatan di tingkat universitas sudah ada sejak tahun 1909 di Universitas Minesota Amerika. Namun, pengakuan perawat sebagai profesi, baru terjadi 1950, inipun baru pengakuan saja, belum memenuhi karakteristik profesi.
Pendidikan perawat pada tingkat “Bachelor” dimulai tahun 1919. Pada tahun 1977 telah terdapat 3830 orang lulusan master di bidang keperawatan dan pada tahun 1972 terdapat 9 institusi yang melaksanakan program Doktor di bidang keperawatan. Di Thailand pendidikan keperawatan pada tingkat “Bachelor” dimulai tahun 1966, dan pada tingkat “master” dimulai tahun !986.
Proses keperawatan yang dimulai pada tahun 1950 dianggap sebagai stadium embrio. Pada saat itu proses keperawatan belum dipahami dan juga belum bisa diterima, tetapi sudah dilakukan sehari-hari. Baru pada tahun 1955 Lydia Hall memberikan presentasinya tentang “Perawatan adalah suatu proses”. Pada hakikatnya keperawatan menyangkut empat hal pokok, yaitu:
a. Nursing at the patient
b. Nursing to the patient
c. Nursing for the patient
d. Nursing with the patient
Fase dalam proses keperawatan diidentifikasi oleh para dosen keperawatan Universitas Katolik Amerika pada tahun 1967 meliputi: pengkajian, perencanaan, implementasi, dan evaluasi.
Pengertian keperawatan menurut International Council of Nurses (ICN) pada tahun 1973 adalah, “Fungsi yang unik dari perawat adalah menolong seseorang yang sakit atau sehat dalam usaha-usaha menjaga kesehatan atau penyembuhan atau untuk menghadapi sakaratul maut dengan tenang, yaitu usaha yang dapat dilakukan oleh pasien sendiri apabila dia cukup kuat, berkemauan atau sadar dan melakukannya sedemikian rupa sehingga si pasien dalam waktu singkat dapat mandiri-mandiri.”
Dari pengertian tersebut terungkap beberapa pokok hakikat keperawatan, antara lain:
a. Kegiatan keperawatan merupakan kegiatan member bantuan
b. Wujud bantuan tersebut pada hakikatnya merupakan kegiatan fungsi hidup sehari-hari yang normalnya dapat dilakukan sendiri oleh setiap individu yang sehat.
c. Keterbatasan atau ketidakmampuan individu untuk melaksanakan fungsi sehari-hari itu disebabkan kelemahan fisik, kurang kemauan maupun kurang pengetahuan.
Keperawatan sebagai profesi, sampai sekarang masih memerlukan perjuangan yang cukup besar. Meskipun keperawatan sudah mulai disebut sebagai suatu profesi, tetapi jika menelaah karakter profesi, keperawatan lebih tepat dianggap sebagai suatu profesi yang baru lahir atau yang sedang berkembang. Sebagaimana halnya manusia yang bergerak dari kebutuhan dasar ke kebutuhan untuk tumbuh, begitu pula dengan keperawatan yang bergerak dari okupasional ke criteria professional belum sepenuhnya mencapai status professional.
Sejarah perkembangan Pendidikan Keperawatan di Indonesia
Zaman VOC (1602-1799)
Untuk kepentingan usaha perdagangan tentara Belanda, pada 1799 didirikanBinnen Hospital di Batavia (sekarang Jakarta). Rumah sakit ini memanfaatkan tenaga perawat yang berasal dari Bumi Poetra (kaum terjajah) yang disebut dengan pembantu orang sakit (POS). setelah VOC bubar, didirikan sejumlah usaha dalam bidang kesehatan, antara lain Dinas Kesehatan Tentara (Militaire Gezondsheids Dients) dan Dinas Kesehatan Rakyat (Burgerlijke Gezondheids Dients).
Zaman penjajahan Belanda (1799-1811)
Tidak ada usaha kesehatan yang menonjol pada masa ini. Secara umum, pemerintah hanya melanjutkan apa yang telah dirintis oleh pendahulunya (VOC).
Zaman penjajahan Inggris (1811-1816)
Pada masa ini, mulai berkembang sebentuk usaha kesehatan yang dipelopori oleh raffles. Usaha ini meliputi kegiatan vaksinasi cacar secara masal, perbaikan perawatan kesehatan jiwa, dan perawatan bagi para tahanan.
Zaman penjajahan Belanda II (1816-1942)
Setelah pemerintahan diserahkan kembali kepada Belanda, usaha kesehatan di Indonesia semakin maju. Pada masa ini, pemerintah berhasil meluncurkan undang-undang kesehatan yang disusun oleh Prof. Dr. Reinwardt. Selain itu, pada tahun 1819, Residen V Pabst mendirikan sebuah rumah sakit umum yang diberi nama Rumah Sakit Stadsverband dan berkedudukan di Glodok. Rumah sakit ini kemudian berganti nama menjadi Central Burgerlijke Ziekeninrichting dan dipindahkan ke Salemba.
Pada tahun 1852, Dr. W. De Bosch mendirikan Sekolah Dokter Jawa yang kemudian berkembang menjadi STOVIA (1898). Ia juga menyelenggarakan program persiapan pendidikan kebidanan pada tahun 1852, walaupun pada akhirnya program ini ditutup pada tahun 1875. Pada tahun yang sama 91875), pemerintah mendirikan rumah sakit jiwa pertama di Bogor, diikuti dengan rumah sakit jiwa Lawang (1894) dan rumah sakit jiwa Magelang (1923). Dengan semakin banyaknya rumah sakit jiwa yang berdiri, dibukalah pendidikan perawat jiwa pada tahun 1940 di Bogor.
Selain itu rumah sakit pemerintah, di Indonesia berkembang pula sejumlah rumah sakit swasta. Di antaranya adalah rumah sakit Cikini di Jakarta, St. Carolus di Jakarta, St. Borromeus di Bandung dan Elisabeth di semarang. Seiring dengan kemajuan tersebut, pemerintah pun mulai mendirikan sekolah pendidikan bagi perawat. Sekolah pendidikan pertama didirikan di RS. Cikini pada tahun 1900.
Zaman penjajahan Jepang (1942-1945)
Pada zaman penjajahan Jepang, keperawatan di Indonesia boleh dikatakan mengalami kemunduran. Tampak kepemimpinan rumah sakit diambil alih oleh jepang dan sebagian lagi dipegang oleh bangsa Indonesia. Pada masa ini, wabah penyakit menyebar di mana-mana akibat minimnya suplai obat-obatan. Tidak hanya itu kita bahkan terpaksa menggunakan daun pisang dan pelepah batang pisang sebagai ganti balutan yang persediannya sangat tipis. Dapat dikatakan, zaman penjajahan Jepang merupakan zaman yang sungguh tidak manusiawi.
Zaman kemerdekaan sampai sekarang (1945-sekarang)
Pada awal kemerdekaan, ditemui banyak sekali kekurangan pada kondisi perumahsakitan dan perawatan di Indonesia, di antaranya adalah suplai obat-obatan yang minim. Kondisi ini lambat laun mulai mengalami perubahan, terutama dengan didirikannya sejumlah institusi pendidikan keperawatan sampai jenjang perguruan tinggi.
Dari penjelasan di atas, bisa kita simpulkan bahwa sejarah perkembangan keperawatan di Indonesia tidak hanya berlangsung di tatanan praktik-dalam hal ini layanan keperawatan, tetapi juga di dunia pendidikan keperawatan. Tidak ayal lagi, pendidikan keperawatan member pengaruh yang besar terhadap kualitas layanan keperawatan. Seperti kita ketahui, keperawatan merupakan profesi yang bersentuhan langsung dengan hidup dan kehidupan manusia. Karenanya, perawat harus terus meningkatkan kompetensi dirinya, salah satunya melalui pendidikan keperawatan yang berkelanjutan.
Pendidikan berpengaruh terhadap pola piker individu, sedangkan pola piker berpengaruh terhadap perilaku seseorang. Dengan demikian, dapat kita katakan bahwa pola piker seseorang yang berpendidikan rendah akan berbeda dengan pola piker orang yang berpendidikan tinggi. Kaitannya dengan profesi, kemajuan suatu profesi salah satunya ditentukan oleh tingkat pendidikan profesi itu sendiri. Hal yang sama berlaku pula pada profesi keperawatan. Seperti kita ketahui, sejarah perkembangan pendidikan keperawatan di luar negeri berbeda jauh dengan di Indonesia. Perbedaan ini tentunya berdampak pada profesionalisme keperawatan di luar negeri dengan di Negara kita.
Perkembangan pendidikan keperawatan di luar negeri dipelopori oleh Florence Nightingale sekitar abad ke-18 dan 19. Hasil didikan sekolah Nightingale ini mempengaruhi perkembangan keperawatan di dunia. Tidak hanya di situ, pendidikan keperawatan juga berkembang hingga jenjang pendidikan tinggi. Ini ditandai dengan berdirinya program sarjana keperawatan British Columbia di Vancouver-Canada pada tahun 1919. Lalu, pada tahun 1924-1934, muncul konsep program pendidikan spesialis keperawatan yang baru terealisasi pada tahun 1946 dengan didirikannya program spesialis keperawatan dari jemjang S1, hingga program master dan doctor.
Perkembangan pendidikan keperawatan di luar negeri yang berlangsung mulus ternyata berbeda jauh dengan perkembangan pendidikan keperawatan di Indonesia yang penuh dengan lika-liku dan tersendat-sendat. Tidak banyak literature yang mencatat sejarah perkembangan pendidikan keperawatan di Indonesia secara khusus. Tidak bisa kita pungkiri, perkembangan keperawatan tidak lepas dari perjalanan bangsa Indonesia. Pada masa VOC profesi perawat sudah ada. Saat itu perawat direkrut dari Boemi Poetra yang dipekerjakan di rumah sakit sebagai pembantu orang sakit (zieken oppaser). Ketika itu belum ada program pendidikan keperawatan. Pada tahun 1913, program pendidikan keperawatan yang pertama didirikan di rumah sakit Semarang (Depkes RI 1989). Rumah sakit tersebut membuka sejenis kursus atau pelatihan keperawatan dengan mendatangkan guru pengajar dari Belanda. Pelaksanaan layanan keperawatannya disesuaikan dengan ajaran Islam, yakni perawat perempuan merawat pasien perempuan dan perawat laki-laki merawat pasien laki-laki.
Pendidikan keperawatan kemudian berkembang setaraf dengan sekolah menengah pertama (SMP) pada masa sekarang. Program ini dilaksanakan pada tahun 1930, syaratnya peserta didik harus lulus Sekolah Rakyat (sekarang SD) terlebih dahulu. Lamanya pendidikan tiga tahun dan setelah lulus peserta didik akan mendapat sertifikat Diploma A. pada tahun 1940, dibuka sekolah Perawat jiwa di Bogor, dan lulusannya mendapat sertifikat Diploma B. pada saat yang sama, dibuka pula program Sekolah Bidan dengan syarat lulus perawatt tiga tahun ditambah pendidikan kebidanan selama 1 tahun. Lulusan program bidan ini mendapat sertifikat Diploma C. Pada tahun 1950, dibuka Sekolah Guru Perawat di bandung, dan pada tahun 1952, didirikan Sekolah Pengatur Rawat di RS Tantja Badak (sekarang RS Hasan Sadikin).
Seiring perkembangannya, Sekolah Pengatur Rawat kemudian berubah menjadi Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) yang merupakan jenjang pendidikan terendah bagi seorang perawat. Dengan perkembangan ilmu kedokteran dan ilmu kesehatan yang semakin maju, didukung dengan kesadaran masyarakat yang kian meningkat untuk memperoleh layanan keperawatan yang professional maka keperawatan harus terus meningkatkan jenjang pendidikannya hingga tingkat yang lebih tinggi. Pada 1962, didirikan pendidikan akademi keperawatan (akper) di Jakarta.
Sejak saat itu, mulai bermunculan akper-akper baru di berbagai daerah di Indonesia. Puncak perkembangannya diperkirakan terjadi pada 1944, yang ditandai oleh semakin menjamurnya akper-akper swasta di seluruh nusantara. Hingga saat ini, terdapat kurang lebih 361 akper di Indonesia, baik yang didirikan oleh Depkes (poltekes jurusan keperawatan), swasta, pemda, maupun oleh TNI-POLRI. Belum lagi jika ditambah pendidikan keperawatan setingkat SLTA, yakni Sekolah Perawat Kesehatan (SPK).
Saat ini terdapat sejumlah tantangan dan kecenderungan yang berdampak pada profesi akibat adanya perubahan global.
1. Pergeseran pola masyarakat Indonesia dari agraris ke industrialis, dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern. Perubahan ini member dampak pada berbagai bidang kehidupan termasuk kesehatan. Di antaranya adalah pergeseran pola penyakit, dari penyakit infeksi ke penyakit degenerative.
2. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang cepat saat ini membuat masyarakat Indonesia lebih kritis. Masyarakat menuntut pelayanan kesehatan yang lebih baik serta perlindungan terhadap hak-hak klien. Karenanya profesi keperawatan harus meningkatkan kualitasnya.
3. Analisis International Council of Nurses (1997 dalam Yani, 1997) yang menyatakan bahwa pada tahun 2020, di seluruh dunia akan terjadi perubahan global, di antaranya adalah peningkatan pertumbuhan populasi lansia; penurunan angka kelahiran, terutama di Negara Barat; peningkatan insidensi penyakit kronis; perkembangan kebebasan sosial; penyakit AIDS yang masih terus menjadi masalah; dan kesehatan jiwa yang akan menjadi masalah utama.
(Asmadi. 2008. Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta:EGC)
(Bastable, Susan B. 2002. Perawat Sebagai Pendidik: Prinsip-prinsip pengajaran dan pembelajaran. Jakarta: EGC)
(Gruendemann, Barbara J. 2005. Buku ajar keperawatan Perioperatif, vol. 1. Jakarta: EGC)
(Kusnanto. 2004. Pengantar Profesi dan praktik Keperawatan Profesional. Jakarta: EGC)
Notoadmodjo, Soekidjo.,dkk. 1989
Potter & Perry
Rideout, Elizabeth. 2005. Pendidikan Keperawatan Berdasarkan Problem-Based Learning. Jakarta: EGC
Simamora, Roymond H. 2009. Buku Ajar Pendidikan dalam Keperawatan. Jakarta: EGC
Pendirian Program Studi Ilmu keperawatan (PSIK) pertama sekali pada tahun 1985 di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia merupakan momentum kebangkitan profesi keperawatan di Indonesia. Pendirian ini dipelopori oleh tokoh-tokoh keperawatan Indonesia, dibantu beberapa pakar dari konsorsium ilmu kesehatan dan dari Badan Kesehatan Dunia (WHO). Tujuan pendirian PSIK ini adalah menghasilkan perawat professional, agar perawat dapat bermitra dengan dokter dan dapat bekerja secara ilmiah, tidak hanya berdasarkan instruksi dokter saja.
Secara konseptualm, pendirian PSIK bertujuan menghasilkan tenaga keperawatan professional, memantapkan peran dan fungsi perawat sebagai pendidik, pelaksana, pengelola, dan peneliti di bidang keperawatan serta menghasilkan tenaga keperawatan professional yang dapat mengimbangi kemajuan dan ilmu pengetahuan terutama di bidang kedokteran. Saat ini Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK) sudah terdapat di dua institusi di Indonesia yaitu Universitas Indonesia dan Universitas Padjadjaran.
Selain itu, PSIK yang ada hamper di setiap perguruan tinggi negeri terdapat di bawah naungan Fakultas Kedokteran kecuali PSIK Universitas Jember, yang langsung berdiri menjadi PSIK pada tahun 2005.
Perkembangan Pendidikan Keperawatan Di luar Indonesia
Zaman Purba
Pada Zaman ini orang percaya bahwa sesuatu yang ada di bumi mempunyai suatu kekuatan mistik yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia. Kepercayaan ini biasa disebut animism. Mereka meyakini bahwa sakitnya seseorang disebabkan oleh kekuatan alam atau pengaruh kekuatan gaib seperti batu besar, gunung tinggi, pohon besar, sungai besar. Jiwa yang baik membawa kesehatan, jika yang jahat membawa kesakitan dan kematian (Calor, Taylor, Lilis & Lemone, 1997). Peran tatib dan perawat jelas berbeda, tatib adalah medicineman yang mengobati penyakit dengan jalan melantunkan nyanyian, member semangat dari ketakutan atau membuka otak untuk menhilangkan jiwa yang jahat (Dolan, Fitzpatrick & Herman, 1983). Perawat biasanya berperan sebagai ibu yang merawat familinya sewaktu sakit dengan memberikan perawatan fisik dan memberikan obat dari tumbuh-tumbuhan. Peran ini diteruskan sampai saat ini.
Zaman keagamaan
Pada zaman ini, kuuil menjadi pusat perawatan medis sebab orang percaya bahwa penyakit disebabkan oleh dosa dan kutukan Tuhan. Pemimpin agama dijunjung tinggi sebagai tabib, perawat dianggap sebagai budak dan mendapat penghargaan yang rendah karena pekerjaannya didasarkan perintah dari pemimpin agama yang berperan sebagai tabib.
Permulaan Masehi
Pada permulaan masehi, agama Kristen mulai berkembang. Pada masa ini keperawatan mengalami kemajuan yang berarti seiring dengan kepesatan perkembangan agama Kristen. Organisasi wanita pertama yang dibentuk pada saat itu dinamakan Deaconesses, mengunjungi orang-orang sakit dan anggota keagamaan laki-laki memberikan perawatan serta mengubur orang mati. Pada perang salib perawat laki-laki dan perempuan bertugas merawat orang-orang yang luka dalam peperangan tersebut.
Kemajuan profesi keperawatan pada masa ini juga terlihat jelas dengan berdirinya rumah sakit terkenal di Roma yang bernama Monastic hospital. RS ini dilengkapi dengan fasilitas perawatan berupa bangsal-bangsal perawatan untuk merawat orang cacat, miskin dan yatim piatu.
Seperti halnya di Eropa, pada pertengahan abad VI masehi keperawatan juga berkembang di benua Asia. Tepatnya di Timur Tengah seiring dengan perkembangan agama Islam. Pengaruh agama Islam terhadap perkembangan keperawatan tidak terlepas dari keberhasilan Nabi Muhammad SAW menyebarkan agama Islam ke berbagai pelosok Negara. Pada masa ini di Jazirah Arab berkembang pesat ilmu pengetahuan seperti ilmu pasti, ilmu kimia, hygiene, dan obat-obatan. Hal ini menyebabkan keperawatan juga berkembang. Prinsip dasar keperawatan seperti pentingnya menjaga kebersihan diri (personal hygiene), kebersihan makanan, air dan lingkungan berkembang pesat. Tokoh keperawatan yang terkenal dari dunia Arab pada masa ini adalah Rafidah.
Permulaan Abad XVI
Struktur dan orientasi masyarakat berubah dari orientasi keagamaan menjadi orientasi pada kekuasaan, yaitu perang, eksplorasi kekayaan alam, serta perkembangan pengetahuan. Akibatnya banyak gereja dan tempat ibadah ditutup, padahal tempat ini digunakan oleh ordo-ordo keagamaan untuk merawat orang sakit. Kondisi ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan keperawtan. Untuk memenuhi kebutuhan perawat, wanita yang pernah melakukan kejahatan dan telah bertobat dapat diterima bekerja sebagai prawat. Akibat reputasi yang jelek ini, perawat menerima gaji yang rendah dengan jam kerja lama pada kondisi yang buruk (Taylor C.,dkk, 1989)
Masa Sebelum PD II
Dasar pelayanan keperawtan dititikberatkan pada pengaduan sebagai ungkapan cinta bersama yang diinspirasikan oleh ajaran agama. Sasarannya adalah pelayanan orang yang sakit. Kegiatan pelayanan ditujukan untuk menolong orang sakit agar sembuh atau lebih sehat . Tenaga perawat yang meberi pelayanan tersebut sedikit sekali atau bahkan tanpa pendidikan formal. Yang terpenting adalah “magang” atau pengalaman praktik langsung, karena pada masa itu yang menonjol adalah “role model” atau model peran. Ruang lingkup pelayanan perawatan lebih bersifat kuratif dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar fisiologis manusia yang sakit.
Florence Nightingale (1820-1910) merupakan tokoh pembaharu perawatan pada saat itu dan bahkan sering disebut Ibu Perawatan. Pada waktu itu, Florence Nightingale sudah menyadari pentingnya suatu sekolah untuk mendidik para calon perawat, agar dapat diberikan pengetahuan, keterampilan dan pembinaan mental sehingga dihasilkan tenaga perawatan yang berbudi luhur, berpengetahuan luas dan terampil dalam melaksanakan perawatan. Beliau menetapkan struktur dasar sebagai prasyarat dalam pendidikan perawat:
a. Mendirikan sekolah
b. Menentukan tujuan pendidikan perawat
c. Menetapkan pengetahuan yang harus dimiliki para calon sebagai dasar perawatan
Disamping itu, Florence Nightingale telah berpendapat bahwa:
a. Perlu persiapan pendidikan yang berlainan bagi perawat pelaksana dan perawat administrator atau supervisor.
b. Perlu diperhatikan bahwa harus ada perubahan tentang jam kerja perawat yang waktu itu berlangsung 12 jam/hari dan 7 hari/minggu
c. Perlu diperhatikan peningkatan pendapatan perawat setiap 6 bulan, mengingat beban dan tanggung jawab mereka
Namun, secara menyeluruh perkembangan perawat dari zaman Florence Nightingale sampai pecah perang Dunia II dinilai sangat kecil atau hamper tidak ada perubahan. Oleh karena itu, masa ini sering disebut sebagai masa pemeliharaan.
Masa selama PD II
Selama perang, banyak kejadian yang merupakan “tekanan” bagi setiap bangsa di dunia. Tekanan perang ini mendorong manusia mengadakan perubahan-perubahan. Kemajuan teknologi dimaksudkan untuk berlomba menakhlukkan dunia. Penerapan teknologi modern dalam bidang pelayanan orang sakit telah mulai diperkenalkan waktu itu sebagai jawaban atas kebutuhan pelayanan kesehatan akibat penderitaan sakit selama perang. Timbulnya penyakit akibat perang, menyebabkan dibutuhkannya peningkatan pengetahuan dan keterampilan tenaga medis maupun perawat. Kemampuan satu bidang profesi tertentu tidak dapat memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan waktu itu. Inipun merupakan tantangan baru bagi perawat dalam memberikan pelayanan kesehatan bersama dengan profesi lain.
Masa Pascaperang Dunia II
Akibat PD II yang mengakibatkan banyaknya penderitan bagi penduduk dunia telah menggugah semua pihak untuk memperbaiki keadaan dunia. Perkembangan pesat di segala ilmu dan bidang kehidupan, sekaligus merupakan perubahan-perubahan untuk mewujudkan masyarakat dunia yang sejahtera. Perkembangan dalam bidang perawatan secara pesat terjadi di Amerika yang dipengaruhi oleh:
a. Kesadaran masyarakat yang meningkat di bidang kesehatan
b. Pertambahan penduduk yang relative tinggi, menimbulkan masalah baru dalam bidang pelayanan kesehatan
c. Pertumbuhan ekonomi, akan mempengaruhi pula tingkah laku
d. Perkembangan ilmu pengetahuan terutama yang menyangkut ilmu kedokteran, pertemuan-pertemuan penting dalam bidang medic, cara-cara baru dalam terapi yang semuanya sangat penting dalam proses penyembuhan penyakit
e. Upaya-upaya menjadi lebih aktif dan kreatif sehingga tidak hanya meliputi pelayanan kuratif saja melainkan juga upaya preventif dan promotif.
f. Adanya perkembangan baru dalam kebijakan pendidikan, sehingga sekolah perawat harus mengalami perubahan juga.
Dasar pemikiran semula, “The Nurse must give total patient care” dalam arti sempit telah berkembang, dalam arti luas perawat lebih menyadari atas makna totality of the individual client dari sebelumnya. Oleh karena itu terjadi perubahan dari perawat bekerja sendiri menjadi bekerja secara team.
Dalam decade ini telah dilancarkan perjuangan untuk pengakuan keperawatan sebagai profesi. Lucile brown (1948) menulis laporan tentang pengakuan perawat sebagai profesi merupakan titik tolak yang besar untuk kehidupan perawat dan profesi perawat. Ia memperhatikan penghargaan pada perawat dalam kaitannya dengan tanggung jawab sebagai penyelenggara pelayanan perawatan perawatan yang bermutu. Untuk itu disadari perlunya suatu pengelolaan pelayanan keperawatan yang baik untuk menjamin mutu dan sekaligus tersedia alat evaluasi keperawatan tersebut.
Sejak tahun 1950
Dalam mengacu proses profesionalisme, perlu pengembangan pendidikan keperawatan. Sebenarnya pendidikan keperawatan di tingkat universitas sudah ada sejak tahun 1909 di Universitas Minesota Amerika. Namun, pengakuan perawat sebagai profesi, baru terjadi 1950, inipun baru pengakuan saja, belum memenuhi karakteristik profesi.
Pendidikan perawat pada tingkat “Bachelor” dimulai tahun 1919. Pada tahun 1977 telah terdapat 3830 orang lulusan master di bidang keperawatan dan pada tahun 1972 terdapat 9 institusi yang melaksanakan program Doktor di bidang keperawatan. Di Thailand pendidikan keperawatan pada tingkat “Bachelor” dimulai tahun 1966, dan pada tingkat “master” dimulai tahun !986.
Proses keperawatan yang dimulai pada tahun 1950 dianggap sebagai stadium embrio. Pada saat itu proses keperawatan belum dipahami dan juga belum bisa diterima, tetapi sudah dilakukan sehari-hari. Baru pada tahun 1955 Lydia Hall memberikan presentasinya tentang “Perawatan adalah suatu proses”. Pada hakikatnya keperawatan menyangkut empat hal pokok, yaitu:
a. Nursing at the patient
b. Nursing to the patient
c. Nursing for the patient
d. Nursing with the patient
Fase dalam proses keperawatan diidentifikasi oleh para dosen keperawatan Universitas Katolik Amerika pada tahun 1967 meliputi: pengkajian, perencanaan, implementasi, dan evaluasi.
Pengertian keperawatan menurut International Council of Nurses (ICN) pada tahun 1973 adalah, “Fungsi yang unik dari perawat adalah menolong seseorang yang sakit atau sehat dalam usaha-usaha menjaga kesehatan atau penyembuhan atau untuk menghadapi sakaratul maut dengan tenang, yaitu usaha yang dapat dilakukan oleh pasien sendiri apabila dia cukup kuat, berkemauan atau sadar dan melakukannya sedemikian rupa sehingga si pasien dalam waktu singkat dapat mandiri-mandiri.”
Dari pengertian tersebut terungkap beberapa pokok hakikat keperawatan, antara lain:
a. Kegiatan keperawatan merupakan kegiatan member bantuan
b. Wujud bantuan tersebut pada hakikatnya merupakan kegiatan fungsi hidup sehari-hari yang normalnya dapat dilakukan sendiri oleh setiap individu yang sehat.
c. Keterbatasan atau ketidakmampuan individu untuk melaksanakan fungsi sehari-hari itu disebabkan kelemahan fisik, kurang kemauan maupun kurang pengetahuan.
Keperawatan sebagai profesi, sampai sekarang masih memerlukan perjuangan yang cukup besar. Meskipun keperawatan sudah mulai disebut sebagai suatu profesi, tetapi jika menelaah karakter profesi, keperawatan lebih tepat dianggap sebagai suatu profesi yang baru lahir atau yang sedang berkembang. Sebagaimana halnya manusia yang bergerak dari kebutuhan dasar ke kebutuhan untuk tumbuh, begitu pula dengan keperawatan yang bergerak dari okupasional ke criteria professional belum sepenuhnya mencapai status professional.
Sejarah perkembangan Pendidikan Keperawatan di Indonesia
Zaman VOC (1602-1799)
Untuk kepentingan usaha perdagangan tentara Belanda, pada 1799 didirikanBinnen Hospital di Batavia (sekarang Jakarta). Rumah sakit ini memanfaatkan tenaga perawat yang berasal dari Bumi Poetra (kaum terjajah) yang disebut dengan pembantu orang sakit (POS). setelah VOC bubar, didirikan sejumlah usaha dalam bidang kesehatan, antara lain Dinas Kesehatan Tentara (Militaire Gezondsheids Dients) dan Dinas Kesehatan Rakyat (Burgerlijke Gezondheids Dients).
Zaman penjajahan Belanda (1799-1811)
Tidak ada usaha kesehatan yang menonjol pada masa ini. Secara umum, pemerintah hanya melanjutkan apa yang telah dirintis oleh pendahulunya (VOC).
Zaman penjajahan Inggris (1811-1816)
Pada masa ini, mulai berkembang sebentuk usaha kesehatan yang dipelopori oleh raffles. Usaha ini meliputi kegiatan vaksinasi cacar secara masal, perbaikan perawatan kesehatan jiwa, dan perawatan bagi para tahanan.
Zaman penjajahan Belanda II (1816-1942)
Setelah pemerintahan diserahkan kembali kepada Belanda, usaha kesehatan di Indonesia semakin maju. Pada masa ini, pemerintah berhasil meluncurkan undang-undang kesehatan yang disusun oleh Prof. Dr. Reinwardt. Selain itu, pada tahun 1819, Residen V Pabst mendirikan sebuah rumah sakit umum yang diberi nama Rumah Sakit Stadsverband dan berkedudukan di Glodok. Rumah sakit ini kemudian berganti nama menjadi Central Burgerlijke Ziekeninrichting dan dipindahkan ke Salemba.
Pada tahun 1852, Dr. W. De Bosch mendirikan Sekolah Dokter Jawa yang kemudian berkembang menjadi STOVIA (1898). Ia juga menyelenggarakan program persiapan pendidikan kebidanan pada tahun 1852, walaupun pada akhirnya program ini ditutup pada tahun 1875. Pada tahun yang sama 91875), pemerintah mendirikan rumah sakit jiwa pertama di Bogor, diikuti dengan rumah sakit jiwa Lawang (1894) dan rumah sakit jiwa Magelang (1923). Dengan semakin banyaknya rumah sakit jiwa yang berdiri, dibukalah pendidikan perawat jiwa pada tahun 1940 di Bogor.
Selain itu rumah sakit pemerintah, di Indonesia berkembang pula sejumlah rumah sakit swasta. Di antaranya adalah rumah sakit Cikini di Jakarta, St. Carolus di Jakarta, St. Borromeus di Bandung dan Elisabeth di semarang. Seiring dengan kemajuan tersebut, pemerintah pun mulai mendirikan sekolah pendidikan bagi perawat. Sekolah pendidikan pertama didirikan di RS. Cikini pada tahun 1900.
Zaman penjajahan Jepang (1942-1945)
Pada zaman penjajahan Jepang, keperawatan di Indonesia boleh dikatakan mengalami kemunduran. Tampak kepemimpinan rumah sakit diambil alih oleh jepang dan sebagian lagi dipegang oleh bangsa Indonesia. Pada masa ini, wabah penyakit menyebar di mana-mana akibat minimnya suplai obat-obatan. Tidak hanya itu kita bahkan terpaksa menggunakan daun pisang dan pelepah batang pisang sebagai ganti balutan yang persediannya sangat tipis. Dapat dikatakan, zaman penjajahan Jepang merupakan zaman yang sungguh tidak manusiawi.
Zaman kemerdekaan sampai sekarang (1945-sekarang)
Pada awal kemerdekaan, ditemui banyak sekali kekurangan pada kondisi perumahsakitan dan perawatan di Indonesia, di antaranya adalah suplai obat-obatan yang minim. Kondisi ini lambat laun mulai mengalami perubahan, terutama dengan didirikannya sejumlah institusi pendidikan keperawatan sampai jenjang perguruan tinggi.
Dari penjelasan di atas, bisa kita simpulkan bahwa sejarah perkembangan keperawatan di Indonesia tidak hanya berlangsung di tatanan praktik-dalam hal ini layanan keperawatan, tetapi juga di dunia pendidikan keperawatan. Tidak ayal lagi, pendidikan keperawatan member pengaruh yang besar terhadap kualitas layanan keperawatan. Seperti kita ketahui, keperawatan merupakan profesi yang bersentuhan langsung dengan hidup dan kehidupan manusia. Karenanya, perawat harus terus meningkatkan kompetensi dirinya, salah satunya melalui pendidikan keperawatan yang berkelanjutan.
Pendidikan berpengaruh terhadap pola piker individu, sedangkan pola piker berpengaruh terhadap perilaku seseorang. Dengan demikian, dapat kita katakan bahwa pola piker seseorang yang berpendidikan rendah akan berbeda dengan pola piker orang yang berpendidikan tinggi. Kaitannya dengan profesi, kemajuan suatu profesi salah satunya ditentukan oleh tingkat pendidikan profesi itu sendiri. Hal yang sama berlaku pula pada profesi keperawatan. Seperti kita ketahui, sejarah perkembangan pendidikan keperawatan di luar negeri berbeda jauh dengan di Indonesia. Perbedaan ini tentunya berdampak pada profesionalisme keperawatan di luar negeri dengan di Negara kita.
Perkembangan pendidikan keperawatan di luar negeri dipelopori oleh Florence Nightingale sekitar abad ke-18 dan 19. Hasil didikan sekolah Nightingale ini mempengaruhi perkembangan keperawatan di dunia. Tidak hanya di situ, pendidikan keperawatan juga berkembang hingga jenjang pendidikan tinggi. Ini ditandai dengan berdirinya program sarjana keperawatan British Columbia di Vancouver-Canada pada tahun 1919. Lalu, pada tahun 1924-1934, muncul konsep program pendidikan spesialis keperawatan yang baru terealisasi pada tahun 1946 dengan didirikannya program spesialis keperawatan dari jemjang S1, hingga program master dan doctor.
Perkembangan pendidikan keperawatan di luar negeri yang berlangsung mulus ternyata berbeda jauh dengan perkembangan pendidikan keperawatan di Indonesia yang penuh dengan lika-liku dan tersendat-sendat. Tidak banyak literature yang mencatat sejarah perkembangan pendidikan keperawatan di Indonesia secara khusus. Tidak bisa kita pungkiri, perkembangan keperawatan tidak lepas dari perjalanan bangsa Indonesia. Pada masa VOC profesi perawat sudah ada. Saat itu perawat direkrut dari Boemi Poetra yang dipekerjakan di rumah sakit sebagai pembantu orang sakit (zieken oppaser). Ketika itu belum ada program pendidikan keperawatan. Pada tahun 1913, program pendidikan keperawatan yang pertama didirikan di rumah sakit Semarang (Depkes RI 1989). Rumah sakit tersebut membuka sejenis kursus atau pelatihan keperawatan dengan mendatangkan guru pengajar dari Belanda. Pelaksanaan layanan keperawatannya disesuaikan dengan ajaran Islam, yakni perawat perempuan merawat pasien perempuan dan perawat laki-laki merawat pasien laki-laki.
Pendidikan keperawatan kemudian berkembang setaraf dengan sekolah menengah pertama (SMP) pada masa sekarang. Program ini dilaksanakan pada tahun 1930, syaratnya peserta didik harus lulus Sekolah Rakyat (sekarang SD) terlebih dahulu. Lamanya pendidikan tiga tahun dan setelah lulus peserta didik akan mendapat sertifikat Diploma A. pada tahun 1940, dibuka sekolah Perawat jiwa di Bogor, dan lulusannya mendapat sertifikat Diploma B. pada saat yang sama, dibuka pula program Sekolah Bidan dengan syarat lulus perawatt tiga tahun ditambah pendidikan kebidanan selama 1 tahun. Lulusan program bidan ini mendapat sertifikat Diploma C. Pada tahun 1950, dibuka Sekolah Guru Perawat di bandung, dan pada tahun 1952, didirikan Sekolah Pengatur Rawat di RS Tantja Badak (sekarang RS Hasan Sadikin).
Seiring perkembangannya, Sekolah Pengatur Rawat kemudian berubah menjadi Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) yang merupakan jenjang pendidikan terendah bagi seorang perawat. Dengan perkembangan ilmu kedokteran dan ilmu kesehatan yang semakin maju, didukung dengan kesadaran masyarakat yang kian meningkat untuk memperoleh layanan keperawatan yang professional maka keperawatan harus terus meningkatkan jenjang pendidikannya hingga tingkat yang lebih tinggi. Pada 1962, didirikan pendidikan akademi keperawatan (akper) di Jakarta.
Sejak saat itu, mulai bermunculan akper-akper baru di berbagai daerah di Indonesia. Puncak perkembangannya diperkirakan terjadi pada 1944, yang ditandai oleh semakin menjamurnya akper-akper swasta di seluruh nusantara. Hingga saat ini, terdapat kurang lebih 361 akper di Indonesia, baik yang didirikan oleh Depkes (poltekes jurusan keperawatan), swasta, pemda, maupun oleh TNI-POLRI. Belum lagi jika ditambah pendidikan keperawatan setingkat SLTA, yakni Sekolah Perawat Kesehatan (SPK).
Saat ini terdapat sejumlah tantangan dan kecenderungan yang berdampak pada profesi akibat adanya perubahan global.
1. Pergeseran pola masyarakat Indonesia dari agraris ke industrialis, dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern. Perubahan ini member dampak pada berbagai bidang kehidupan termasuk kesehatan. Di antaranya adalah pergeseran pola penyakit, dari penyakit infeksi ke penyakit degenerative.
2. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang cepat saat ini membuat masyarakat Indonesia lebih kritis. Masyarakat menuntut pelayanan kesehatan yang lebih baik serta perlindungan terhadap hak-hak klien. Karenanya profesi keperawatan harus meningkatkan kualitasnya.
3. Analisis International Council of Nurses (1997 dalam Yani, 1997) yang menyatakan bahwa pada tahun 2020, di seluruh dunia akan terjadi perubahan global, di antaranya adalah peningkatan pertumbuhan populasi lansia; penurunan angka kelahiran, terutama di Negara Barat; peningkatan insidensi penyakit kronis; perkembangan kebebasan sosial; penyakit AIDS yang masih terus menjadi masalah; dan kesehatan jiwa yang akan menjadi masalah utama.
(Asmadi. 2008. Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta:EGC)
(Bastable, Susan B. 2002. Perawat Sebagai Pendidik: Prinsip-prinsip pengajaran dan pembelajaran. Jakarta: EGC)
(Gruendemann, Barbara J. 2005. Buku ajar keperawatan Perioperatif, vol. 1. Jakarta: EGC)
(Kusnanto. 2004. Pengantar Profesi dan praktik Keperawatan Profesional. Jakarta: EGC)
Notoadmodjo, Soekidjo.,dkk. 1989
Potter & Perry
Rideout, Elizabeth. 2005. Pendidikan Keperawatan Berdasarkan Problem-Based Learning. Jakarta: EGC
Simamora, Roymond H. 2009. Buku Ajar Pendidikan dalam Keperawatan. Jakarta: EGC
Pendirian Program Studi Ilmu keperawatan (PSIK) pertama sekali pada tahun 1985 di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia merupakan momentum kebangkitan profesi keperawatan di Indonesia. Pendirian ini dipelopori oleh tokoh-tokoh keperawatan Indonesia, dibantu beberapa pakar dari konsorsium ilmu kesehatan dan dari Badan Kesehatan Dunia (WHO). Tujuan pendirian PSIK ini adalah menghasilkan perawat professional, agar perawat dapat bermitra dengan dokter dan dapat bekerja secara ilmiah, tidak hanya berdasarkan instruksi dokter saja.
Secara konseptualm, pendirian PSIK bertujuan menghasilkan tenaga keperawatan professional, memantapkan peran dan fungsi perawat sebagai pendidik, pelaksana, pengelola, dan peneliti di bidang keperawatan serta menghasilkan tenaga keperawatan professional yang dapat mengimbangi kemajuan dan ilmu pengetahuan terutama di bidang kedokteran. Saat ini Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK) sudah terdapat di dua institusi di Indonesia yaitu Universitas Indonesia dan Universitas Padjadjaran.
Selain itu, PSIK yang ada hamper di setiap perguruan tinggi negeri terdapat di bawah naungan Fakultas Kedokteran kecuali PSIK Universitas Jember, yang langsung berdiri menjadi PSIK pada tahun 2005.
Langganan:
Komentar (Atom)