BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di tahun 1957, sebuah pandemi flu Asia terinfeksi beberapa 45 juta orang Amerika tewas dan 70.000. Itu disebabkan sekitar 2 juta kematian secara global. Sebelas tahun kemudian, selama 1968-1969, Hong Kong pandemi flu Amerika menderita 50 juta dan 33.000 menyebabkan kematian, biaya sekitar $ 3,9 miliar. Pada tahun 1976, sekitar 500 prajurit menjadi babi terinfeksi flu selama beberapa minggu. Namun, pada akhir bulan penyidik menemukan bahwa virus itu “mysteriously hilang.” Di USA rata-rata selama satu tahun, ada sekitar 50 juta kasus “normal” yang mengarah ke flu sekitar 36.000 kematian, sebagian besar ke sangat muda, tua, atau orang lemah, dengan persentase yang besar akibat komplikasi seperti radang paru-paru. Peneliti medis di seluruh dunia, mengakui bahwa babi virus flu mungkin lagi mengubah menjadi sesuatu sebagai maut sebagai flu Spanyol, yang hati-hati menonton terbaru 2009 wabah flu babi dan membuat rencana untuk kemungkinan kemungkinan pandemi global. Beberapa negara telah mengambil langkah-langkah pencegahan untuk mengurangi kemungkinan untuk pandemi global dari penyakit.
1.2 Tujuan
1. Mengetahui konsep mengenai virus H1N1
2. Memamahami cara kerja virus H1N1 menginfeksi tubuh
3. Mengetahui dan mempu memberikan intervensi keperawatan pada penderita flu babi
1.3 Manfaat
1. Manfaat bagi masyarakat
Dapat melakukan pencegahan terinfeksinya virus H1N1
2. Manfaat bagi mahasiswa keperawatan
a. Memberikan pengetahuan tentang flu babi
b. Menentukan intervensi keperawatan yang tepat
c. Melakukan pencegahan terinfeksinya virus H1N1
BAB 2 KONSEP PENYAKIT
2.1 Definisi
Swine Influenza (flu babi) adalah penyakit saluran pernafasan akut pada babi yang disebabkan oleh virus influensa tipe A. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), secara umum penyakit ini mirip influenza dengan gejala demam, batuk, pilek, sesak nafas, nyeri tenggorokan, lesu, letih dan mungkin disertai mual, muntah dan diare. Penyakit ini dengan sangat cepat menyebar ke dalam kelompok ternak dalam waktu 1 minggu, umumnya penyakit ini dapat sembuh dengan cepat kecuali bila terjadi komplikasi dengan bronchopneumonia (radang paru-paru), akan berakibat pada kematian.
2.2 Etiologi
Penyebab influenza yang ditemukan pada babi, bersamaan dengan penyakit yang langsung menyerang manusia. Pertama kali, virus influenza babi diisolasi tahun 1930, sudah banyak aspek dari penyakit tersebut yang diungkapkan, antara lain meliputi tanda klinis, lesi (luka pada saluran pernafasan), imunitas, transmisi, adaptasi virus terhadap hewan percobaan dan hubungan antigenik dengan virus influenza lainnya serta kejadian penyakit di alam.
Flu babi merupakan penyakit yang disebabkan virus influenza Famili Orthomyxoviridae tipe A subtipe H1N1 yang dapat ditularkan oleh binatang, terutama babi, dan ada kemungkinan menular antarmanusia.
Virus ini erat kaitannya dengan penyebab swine influenza, equine influenza dan avian influenza (fowl plaque). Ukuran virus tersebut berdiameter 80- 120 nm. Selain influenza A, terdapat influenza B dan C yang juga sudah dapat diisolasi dari babi. Sedangkan 2 tipevirus influenza pada manusia adalah tipe A dan B. Kedua tipe ini diketahui sangat progresif dalam perubahan antigenik yang sangat dramatik sekali (antigenik shift).
Pergeseran antigenik tersebut sangat berhubungan dengan sifat penularan secara pandemik dan keganasan penyakit. Hal ini dapat terjadi seperti adanya genetic reassortment antara bangsa burung dan manusia.
Ketiga tipe virus yaitu influensa A, B, C adalah virus yang mempunyai bentuk yang sama dibawah mikroskop elektron dan hanya berbeda dalam hal kekebalannya saja. Ketiga tipe virus tersebut mempunyai RNA dengan sumbu protein dan permukaan virionnya diselubungi oleh semacam paku yang mengandung antigen haemagglutinin (H) dan enzim neuraminidase (N).
Peranan haemagglutinin adalah sebagai alat melekat virion pada sel dan menyebabkan terjadinya aglutinasi sel darah merah, sedangkan enzim neurominidase bertanggung jawab terhadap elusi, terlepasnyavirus dari sel darah merah dan juga mempunyai peranan dalam melepaskan virus dari sel yang terinfeksi. Antibodi terhadap haemaglutinin berperan dalam mencegah infeksi ulang oleh virus yang mengandung haemaglutinin yang sama. Antibodi juga terbentuk terhadap antigen neurominidase, tetapi tidak berperan dalam pencegahan infeksi. Influensa babi yang terjadi di Amerika Serikat disebabkan oleh influensa A H1N1, sedangkan di banyak negara Eropa termasuk Inggris, Jepang dan Asia Tenggara disebabkan oleh influensa A H3N2. Banyak isolat babi H3N2 dari Eropa yang mempunyai hubungan antigenik sangat dekat dengan A/Port Chalmers/1/73 strain asal manusia. Peristiwa rekombinan dapat terjadi, seperti H1N2 yang dilaporkan di Jepang kemungkinan berasal dari rekombinasi H1N1 dan H3N2. Peristiwa semacam ini juga dilaporkan di Italy, Jepang, Hongaria, Cekoslowakia dan Perancis. BEVERIDGE (1977) melaporkan bahwa pada tahun 1935, WILSON MITH menemukanvirus influenza yang dapat ditumbuhkan dengan cara menginokulasikannya pada telor ayam berembrio umur 10 hari. Setelah diuji dalam 2 hari, cairan alantoisnya mengandungvirus sebanyak 10.000 juta (1010) partikel karena virus tersebut dapat menyebabkan aglutinasi sel darah merah, maka dari kejadian tersebut dikembangkan uji HA dan HI. Teknik ini kemudian digunakan sebagai cara yang termudah untuk digunakan di laboratorium. Setelah penemuan tersebut banyak para peneliti tertarik untuk mempelajarivirus influenza. Oleh sebab itu, sekarang banyak ilmu pengetahuan mengenai virus influeza telah diungkapkan dibandingkan dengan virus lainnya yang menyerang manusia. Virus influenza selain dapat ditumbuhkan dalam telur berembrio juga dapat ditumbuhkan pada sejumlah biakan jaringan (sel lestari) seperti chicken embryo fibroblast (CEF), canine kidney (CK), Madin-Darby canine kidney (MDCK).
2.3 Epidemologi
Penyebaran virus influenza dari babi ke babi dapat melalui kontak moncong babi, melalui udara atau droplet. Faktor cuaca dan stres akan mempercepat penularan.Virus tidak akan tahan lama di udara terbuka. Penyakit bisa saja bertahan lama pada babi breeder atau babi anakan. Kekebalan maternal dapat terlihat sampai 4 bulan tetapi mungkin tidak dapat mencegah infeksi, kekebalan tersebut dapat menghalangi timbulnya kekebalan aktif. Transmisi inter spesies dapat terjadi, sub tipe H1N1 mempunyai kesanggupan menulari antara spesies terutama babi, bebek, kalkun dan manusia, demikian juga sub tipe H3N2 yang merupakan sub tipe lain dari influensa A. H1N1, H1N2 dan H3N2 merupakan ke 3 subtipevirus influenza yang umum ditemukan pada babi yang mewabah di Amerika Utara, tetapi pernah juga sub tipe H4N6 diisolasi dari babi yang terkena pneumonia di. Manusia dapat terkena penyakit influenza secara klinis dan menularkannya pada babi. Kasus infeksi sudah dilaporkan pada pekerja di kandang babi di Eropa dan di Amerika. Beberapa kasus infeksi juga terbukti disebabkan oleh sero tipe asal manusia. Penyakit pada manusia umumnya terjadi pada kondisi musim dingin. Transmisi kepada babi yang dikandangkan atau hampir diruangan terbuka dapat melalui udara seperti pada kejadian di Perancis dan beberapa wabah penyakit di Inggris. Babi sebagai karier penyakit klasik di Denmark, Jepang, Italy dan kemungkinan Inggris telah dilaporkan.
2.4 Patogenesis/ Patofisiologi
Pada penyakit influensa babi klasik, virus masuk melalui saluran pernafasan atas kemungkinan lewat udara. Virus menempel pada trachea dan bronchi dan berkembang secara cepat yaitu dari 2 jam dalam sel epithel bronchial hingga 24 jam pos infeksi. Hampir seluruh sel terinfeksi virus dan menimbulkan eksudat pada bronchiol. Infeksi dengan cepat menghilang pada hari ke 9 (ANON., 1991). Lesi akibat infeksi sekunder dapat terjadi pada paruparu karena aliran eksudat yang berlebihan dari bronkhi. Lesi ini akan hilang secara cepat tanpa meninggalkan adanya kerusakan. Kontradiksi ini berbeda dengan lesi pneumonia enzootica babi yang dapat bertahan lama. Pneumonia sekunder biasanya karena serbuan Pasteurella multocida, terjadi pada beberapa kasus dan merupakan penyebab kematian.
2.5 Manifestasi Klinis (tanda dan gejala)
Mulai tanpa gejala sampai ada gejala. Bila ada, gejala influenza A (H1N1) sama dengan infeksi virus influenza secara umum. Gejalanya seperti demam, batuk, nyeri tenggorok, nyeri otot, sakit kepala, menggigil dan lemas. Pada suatu outbreak dilaporkan bertambahnya gejala diare dan muntah-muntah. Gejala menurut organ yang terkena adalah:
• Sistemik : demam
• Nasofaring : hidung berlendir, nyeri tenggorokan
• Respirasi : batuk, sakit tenggorokan
• Gastrointestinal : diare, mual dan muntah
• Muskuloskeletal : nyeri sendi
• Psikologis : letargi, tidak nafsu makan
Secara klinis kasus dibagi menjadi:
Kriteria ringan:
Tanpa gejala
Demam tanpa sesak
Tanpa pneumonia
Tidak ada komorbid (misalnya asma, DM, PPOK, obesiti, kurang gizi)
Usia muda
Catatan: rawat jalan dengan KIE dan pengawasan
Kriteria sedang:
ILI dengan komorbid
Sesak napas
Pneumonia
Keluhan mengganggu: diare, muntah-muntah
Catatan: rawat di ruang isolasi
Kriteria berat:
Pneumonia luas
Gagal napas
Sepsis
Syok
Kesadaran menurun
Gagal multi organ
Catatan: rawat di ICU
2.6 Komplikasi
2.6.1 Karena penyakit
Gagal napas
Ventilator associated pneumonia (VAP)
Sepsis
ARDS
Gagal multi organ
2.6.2 Karena tindakan
Pneumotoraks
2.7 Pencegahan Primer, Sekunder, dan Tersier
1. Primer: healthy promotion dan spesifik protection.
Healthy promotion: promosi kesehatan dengan melakukan penyuluhan
Spesfik protection: melakukan Vaksin
2. Sekunder: early diagnosis trethment dan disability
Early diagnosis trethment: diagnosis lebih awal dan penangan yang tepat.
Disability: mengurangi ketidakmampuan pasien.
3. Tersier: rehabilitasi pasien yang sudah sembuh.
2.8 Penatalaksanaan
Uji laboratorium telah menemukan bahwa virus babi influenza A (H1N1) rentan terhadap obat antivirus oseltamivir dan zanamivir, dan CDC telah mengeluarkan petunjuk untuk penggunaan dari obat ini untuk mengobati dan menghambat infeksi virus flu babi.
Vaksin yang biasa digunakan untuk influenza pada permulaan flu musiman tidak efektif untuk strain virus ini. Antivirus lain (misal, amantadine, rimantadine) tidak direkomendasikan oleh karena saat ini resistensi pada influenza lainnya telah terjadi pada beberapa tahun lalu.
Terapi suportif dasar (misal, terapi cairan, analgesik, penekan batuk) perlu diberikan. Pengobatan antivirus secara empiris perlu diperhatikan untuk kasus flu babi, baik yang sudah pasti, masih dalam kemungkinan, ataupun kecurigaan terhadap kasus ini. Pengobatan pasien rawat inap dan pasien dengan resiko tinggi untuk komplikasi influenza perlu sebagai prioritas.
Penggunaan antivirus dalam 48 jam sejak onset gejala sangat penting dalam hubungannya dengan efektivitas melawan virus influenza. Pada penelitian mengenai flu musiman, bukti akan manfaat pengobatan lebih baik jika pengobatan dimulai sebelum 48 jam sejak onset penyakit. Walau begitu, beberapa penelitian mengenai pengobatan flu mengindikasikan banyak manfaat, termasuk mengurangi kematian atau durasi rawat inap, bahkan pada pasien yang mendapat pengobatan lebih dari 48 jam setelah onset penyakit. Lama pengobatan yang direkomendasikan adalah selama 5 hari.
Oseltamivir (Tamiflu) dan Zanamivir (Relenza) bekerja dengan menghambat neuraminidase, suatu glikoprotein pada permukaan virus influenza yang merusak reseptor sel terinfeksi untuk hemagglutinin virus. Dengan menghambat neuraminidase virus, pelepasan virus dari sel terinfeksi dan penyebaran virus akan berkurang. Oseltamivir dan Zanamivir merupakan terapi yang efektif untuk influenzavirus A atau B dan diminum dalam 48 jam sejak onset gejala.
2.9 Prognosis
Penjelasan di bawah masih merupakan spekulasi dalam hal prognosis flu babi karena penyakit ini hanya baru saja telah terdiagnosa dan data pada April 2009 akan berubah setiap harinya. Bagian ini didasarkan pada informasi terbaru yang tersedia.
Pada umumnya, mayoritas (sekitar 90%-95%) orang yang menderita penyakit ini merasa ngeri (lihat gejala) tetapi sembuh dengan tanpa masalah, seperti yang tampak pada pasien baik di Meksiko dan USA. Peringatan harus dilakukan karena flu babi (H1N1) masih menyebar dan mungkin akan menjadi pandemi. Sejauh ini, kaum dewasa muda tidak melakukannya dengan baik, dan di Meksiko, kelompok ini saat ini mempunyai angka kematian yang paling tinggi, tetapi data ini dapat berubah dengan cepat. Kasus pertama di Meksiko yang dapat ditelusuri, diistilahkan dengan “patient zero” adalah anak usia 5 tahun di Veracruz yang sembuh total. Para peneliti mencatat bahwa peternakan babi yang luas terletak di dekat rumah anak itu. Pasien pertama di USA yang meninggal terjadi pada anak usia 23 bulan yang berkunjung ke Texas dari Mexico tetapi tampaknya mendapatkan penyakitnya di Mexico.
Orang dengan sistem imun yang menurun akan mengalami keadaan yang lebih jelek dibandingkan individu dengan sistem imun yang baik; para peneliti menduga flu babi menyebar dan angka kematian meningkat dan tinggi pada populasi ini. Sayangnya, masalah prognosis masih tetap belum jelas. Jika angka kematiannya seperti flu biasa yang menyebabkan angka kematian sekitar 0,1%, hasilnya akan sekitar 35.000 kematian per tahun karena besarnya jumlah orang yang terinfeksi. Jika flu babi di Mexico berakhir dengan angka kematian sekitar 6% dan menginfeksi dengan jumlah yang sama atas jutaan orang seperti virus flu biasa, proyeksi jumlah dapat cukup tinggi yaitu 2 juta kematian hanya di USA saja. Ini merupakan prognosis yang buruk untuk 2 juta orang dan keluarganya; angka potensial kematian ini lah yang merupakan alasan utama departemen kesehatan menaruh perhatian besar terhadap penyebaran virus baru ini.
Masalah lain yang membingungkan tentang prognosis flu babi (H1N1) adalah bahwa penyakit ini terjadi dan menyebar dalam jumlah besar pada akhir musim flu biasa. Kebanyakan flu terjadi antara Nopember sampai April (di USA), dengan puncaknya antara Desember sampai Maret. Kemunculan wabah flu babi tidak mengikuti pola flu biasa. Beberapa ilmuwan menduga bahwa flu babi (H1N1) akan dengan cepat mati pada musim panas dan mungkin tidak akan pernah kembali, ilmuwan lain menduga mungkin akan mati tapi akan kembali lagi dengan kasus lebih banyak lagi pada musim gugur, dan masih ada spekulasi lain akan terjadinya pandemi yang akan menyerupai keadaan pandemi influenza tahun 1918. Beberapa menduga akan menyerupai wabah SARS (severe acute respiratory syndrome disebabkan oleh strain coronavirus) pada tahun 2002-2003 dimana penyakit ini menyebar ke sekitar 10 negara dengan lebih dari 7.000 kasus, dan lebih dari 700 orang meninggal, dengan angka kematian 10%. Isolasi yang efektif terhadap pasien telah dilakukan pada kasus ini, dan banyak peneliti menduga wabah berhenti karena cara ini. Karena flu babi (H1N1) merupakan suatu virus baru dan tidak tampak mengikuti pola penyakit flu biasa, banyak terdapat spekulasi prognosis.
BAB 3 PATHWAY
BAB 4 IMPLIKASI DALAM BIDANG KEPERAWATAN
4.1 Implikasi Patofisiologi Penyakit dalam Bidang Keperawatan
Identifikasi Kasus
Tn. A (35 tahun) masuk rumah sakit dengan keluhan suhu tubuhnya meningkat disertai batuk dan nyeri tenggorokan 2 hari sebelum masuk rumah sakit. Dari hasil pengkajian Perawat X didapatkan suhu tubuh 390, tekanan darah 110/80 mmHg, RR 24x/menit dan pasien mengeluh myalgia, rinorhea, muntah-muntah, lemas dan diare. Dari hasil pemeriksaan laboratorium dari apus tenggorokan PCR dinyatakan (+) flu babi. Hasil foto rontgen didapatkan adanya pneumonia. Terapi :(-) oselatamivir (tamiflu) icapsul (75 mg) x3 perhari. Riwayat kesehatan : pasien 5 hari yang lalu pergi ke luar negeri untuk menengok teman bisnisnya yang dirawat di rumah sakit karena menderita flu.
a. Pengkajian
Pengumpulan Data
Biodata
Nama : Tn. A
Usia : 35 tahun
Alamat : Jl. Werkudara 9T Jakarta
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pendidikan : Sarjana Ekonomi
Agama : Islam
Suku Bangsa : Jawa
Tanggal pengkajian : 20 Nopember 2010
Diagnosa Medis : Flu Babi
Riwayat Kesehatan
1) Keluhan Utama : Suhu tubuh meningkat
2) Riwayat Kesehatan Sekarang (PQRST)
P :
Q :
R :
S :
T :
3) Riwayat Kesehatan Dahulu : Pasien 5 hari yang lalu pergi ke luar negeri untuk menengok teman bisnisnya yang di rawat di RS karena menderita flu.
4) Obat-Obatan : Tamiflu (1kapsulx3kali/hari)
Tanda-tanda vital
Suhu : 39oC
RR : 24x/menit
TD : 110/80 mmHg
Keluhan : suhu tubuh meningkat, batuk, nyeri tenggorokan, myalgia, rhinorhea, muntahmuntah, lemas, diare.
b. Diagnosa Keperawatan
1. Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan inflamasi ditandai dengan rhinorhea
2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan tidak seimbangnya cairan tubuh dengan kebutuhan ditandai dengan diare
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan inadekuat absorbs nutrient oleh tubuh akibat reaksi inflamasi ditandai dengan anoreksia, sulit menelan
4. Hipertermi berhubungan dengan perubahan pada regulasi temperatur ditandai dengan peningkatan temperatur tubuh
5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakmampuan melaksanankan aktivitas sehari-hari ditandai dengan adanya nyeri
6. Resiko pola napas tak efektif berhubungan dengan penurunan kapasitas pembawa oksigen
c. Intervensi Keperawatan
Diagnosa Keperawatan Tujuan Intervensi Rasional
Bersihan jalan
napas tak efektif
berhubungan
dengan inflamasi
ditandai dengan
rhinorhea Jalan nafas efektif Bebaskan jalan nafas
dengan mengatur posisi
kepala ekstensi
Pemeriksaan fisik
dengan cara auskultasi
mendengarkan suara
nafas (adakah ronchi)
Bersihkan saluran nafas
dari sekret dan lendir Secara anatomi posisi
kepala ekstensi
merupakan cara untuk
meluruskan rongga
pernafasan sehingga
proses respiransi tetap
berjalan lancar dengan
menyingkirkan
pembuntuan jalan nafas
Ronchi menunjukkan
adanya gangguan
pernafasan akibat atas
cairan atau sekret yang
menutupi sebagian dari
saluran pernafasan
sehingga perlu
dikeluarkan untuk
mengoptimalkan jalan
nafas
Tindakan bantuan
untuk mengeluarkan
sekret, sehingga
mempermudah proses
respirasi
Kekurangan
volume cairan
berhubungan
dengan tidak
seimbangnya cairan tubuh
dengan kebutuhan
ditandai dengan
diare Volume cairan
seimbang dengan
kebutuhan tubuh
klien Rencanakan target
Pemberian asupan cairan
Kaji pemahaman klien tentang alasan
mempertahankan hidrasi
yang adekuat
Catat intake dan output cairan
Pantau intake per oral
Pantau output cairan Mempermudah
memantauan kondisi
klien
Pemahaman tentang alasan tersebut
membantu klien dalam
mengatasi gangguan
Mengetahui
perkembangan status cairan klien
Mengontrol
intake cairan klien
Mengetahui perkembangan status cairan klien
Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan
berhubungan
dengan inadekuat
absorbsi nutrient
oleh tubuh akibat
reaksi inflamasi
ditandai dengan
anoreksia, sulit
menelan Kebutuhan nutrisi
terpenuhi secara
adekuat Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai
Observasi dan catat masukan makanan pasien
Berikan makan sedikit dan frekuensi sering
dan/atau makan di antara waktu makan
Berikan dan bantu higiene mulut yang baik;
sebelum dan sesudah makan, gunakan sikat
gigi halus untuk
penyikatan yang lembut
Kolaborasi
Konsul pada ahli gizi
Pantau pemeriksaan
laboratorium seperti Hb, Hct, BUN, Albumin,
Protein,Transferin, Besi Serim, B12, Asam Folat, TIBC, Elektrolit Serum Mengidentifikasi
defisiensi, menduga
kemungkinan intervensi
Mengawasi masukan
kalori atau kualitas
kekurangan konsumsi
makanan
Makan sedikit dapat
menurunkan kelemahan
dan meningkatkan
pemasukan
Meningkatkan nafsu makan dan pemasukan oral, menurunkan
Pertumbuhan bakteri,
meminimalkan
kemampuan infeksi
Membantu dalam
membuat rencana diet untuk memenuhi
kebutuhan individual
Meningkatkan
efektivitas program
pengobatan, termasuk
sumber diet nutrisi yang dibutuhkan
Hipertermi
berhubungan
dengan perubahan
pada regulasi
temperatur ditandai
dengan
peningkatan
temperatur tubuh Hipertermi dapat
Teratasi Observasi tanda-tanda vital terutama suhu
Tubuh
Pantau suhu lingkungan
Jelaskan kepada klien pentingnya
mempertahankan intake cairan adekuat
Pantau intake dan output cairan
Kolaborasi
Berikan antipireutik
seperti aspirin atau
asetaminoven Menentukan langkah intervensi selanjutnya
Suhu ruangan harus diubah untuk mempertahankan suhu normal
Pemahaman tentang alasan tersebut
membantu klien dalam mengatasi gangguan
Mengetahui
perkembangan status cairan klien
Digunakan untuk
mengurangi demam dengan aksisentralnya
pada hipotalamus
meskipun demam dapat berguna untuk mengatasi
pertumbuhan
organisme dan
meningkatkan
autoimun dari sel-sel yang terinfeksi
Intoleransi aktivitas
Berhubungan dengan
ketidakmampuan
melaksanankan
aktivitas sehari-hari
ditandai dengan
adanya nyeri Setelah dilakukan
perawatan klien dapat melakukan
aktivitas
maksimal sesuai
kemampuan Kaji kemampuan pasien untuk melakukan tugas
normal, catat laporan kelelahan, keletihan, dan
kesulitan menyelesaikan
tugas
Berikan lingkungan tenang. Pertahankan
tirah baring bila
diindikasikan. Pantau dan batasi pengunjung,
telepon, dan gangguan
berulang tindakan yang
tak direncanakan
Prioritaskan jadwal asuhan keperawatan untuk meningkatkan
istirahat. Pilih periode istirahat dengan periode
aktivitas
Berikan bantuan dalam aktivitas bila perlu,
memungkinkan pasien untuk melakukannya
sebanyak mungkin
Rencanakan
kemampuan aktivitas dengan pasien, termasuk aktivitas yang pasien pandang perlu. Tingkatkan tingkat aktivitas sesuai toleransi
Gunakan teknik
penghematan energy
Anjurkan pasien untuk menghentikan aktivitas bila palpitasi, nyeri dada, napas pendek, kelemahan, atau pusing terjadi
Kaji kesiapan untuk
meningkatkan aktivitas, contoh: penurunan kelemahan/ kelelahan, TD stabil, frekuensi
nadi, peningkatan
perhatian pada
aktivitas dan perawatan diri Mempengaruhi pilihan
intervensi/ bantuan
Meningkatkan istirahat untuk menurunkan
kebutuhan oksigen tubuh dan menurunkan
regangan jantung dan paru
Mempertahankan
tingkat energy dan
meningkatkan regangan
pada sistem jantung dan
pernapasan
Membantu bila perlu, harga diri ditingkatkan
bila pasien melakukan
sesuatu sendiri
Meningkatkan secara
bertahap tingkat
aktivitas sampai normal
dan memperbaiki
stamina tanpa
kelemahan
Mendorong pasien melakukan banyak dengan membatasi penyimpangan energy dan mencegah
Kelemahan
Regangan/stres
kardiopulmonal
berlebihan/stres dapat menimbulkan
dekompensasi
/kegagalan
Stabilitas fisiologis pada istirahat penting untuk memajukan tingkat aktivitas individual
Resiko pola napas tak efektif
berhubungan
dengan penurunan
kapasitas pembawa
oksigen Meningkatkan efektivitas pola napas Evaluasi frekuensi pernapasan, catat upaya pernapasan, catat adanya dispnea
Auskultasi bunyi napas, catat area yang menurun, ada tidaknya
bunyi napas, dan adanya bunyi tambahan
Tinggikan kepala tempat
tidur, letakkan posisi duduk semi fowler,
bantu peningkatan
waktu tidur
Catat respon pada pelatihan napas dalam
atau pengobatan
pernapasan lain, catat
bunyi napas sebelum atau sesudah pengobatan Kecepatan upaya mungkin meningkatkan
nyeri, takut, demam,
menurunkan volume respirasi, akumulasi secret dan hipoksia,
penurunan kecepatan
dapat terjadi dri
penggunaan analgesic
berlebihan
Bunyi napas sering menurun pada dasar paru berhubungan dengan terjadinya
atelektasis. Bunyi tambahan seperti crackels/ ronchi dapat
menunjukkan
akumulasi cairan atau
obstruksi jalan napas parsial
Merangsang fungsi
pernapasan atau ekspansi paru, efektif
pada pencegahan dan kongesti paru
Catat keefektifan terapi atas kebutuhan untuk
pemilihan intervensi
lebih agresif
d. Implementasi
Membebaskan jalan nafas dengan mengatur posisi kepala ekstensi
Melakukan pemeriksaan fisik dengan cara auskultasi mendengarkan suara nafas (adakah ronchi)
Membersihkan saluran nafas dari sekret dan lendir.
Merencanakan target pemberian asupan cairan
Mengkaji pemahaman klien tentang alasan mempertahankan hidrasi yang adekuat
Mencatat intake dan output cairan
Memantau intake per oral
Memantau output cairan
Mengkaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai
Mengobservasi dan catat masukan makanan pasien
Memberikan makan sedikit dan frekuensi sering dan/atau makan di antara waktu makan
Berikan dan bantu higiene mulut yang baik; sebelum dan sesudah makan, gunakan sikat gigi halus untuk penyikatan yang lembut
Pantau pemeriksaan laboratorium seperti Hb, Hct, BUN, Albumin Protein,Transferin, Besi Serim, B12, Asam Folat, TIBC, Elektrolit Serum
Mengobservasi tanda-tanda vital terutama suhu tubuh
Memantau suhu lingkungan
Menjelaskan kepada klien pentingnya mempertahankan intake cairan adekuat
Memantau intake dan output cairan
Memberikan antipireutik seperti aspirin atau asetaminoven
Mengkaji kemampuan pasien untuk melakukan tugas normal, catat laporan kelelahan, keletihan, dan kesulitan menyelesaikan tugas
Memberikan lingkungan tenang. Pertahankan tirah baring bila diindikasikan. Pantau dan batasi pengunjung, telepon, dan gangguan berulang tindakan yang tak direncanakan
Memprioritaskan jadwal asuhan keperawatan untuk meningkatkan istirahat. Pilih periode istirahat dengan periode aktivitas
Memberikan bantuan dalam aktivitas bila perlu, memungkinkan pasien untuk melakukannya sebanyak mungkin
Merencanakan kemampuan aktivitas dengan pasien, termasuk aktivitas yang pasien pandang perlu. Tingkatkan tingkat aktivitas sesuai toleransi
Menggunakan teknik penghematan energy
Anjurkan pasien untuk menghentikan aktivitas bila palpitasi, nyeri dada, napas pendek, kelemahan, atau pusing terjadi
Mengkaji kesiapan untuk meningkatkan aktivitas, contoh: penurunan kelemahan/ kelelahan, TD stabil, frekuensi nadi, peningkatan perhatian pada aktivitas dan perawatan diri
Mengevaluasi frekuensi pernapasan, mencatat upaya pernapasan, mencatat adanya dispnea
Auskultasi bunyi napas, mencatat area yang menurun, ada tidaknya bunyi napas, dan adanya bunyi tambahan
Tinggikan kepala tempat tidur, letakkan posisi duduk semi fowler, bantu peningkatan waktu tidur
Mencatat respon pada pelatihan napas dalam atau pengobatan pernapasan lain, mencatat bunyi napas sebelum atau sesudah pengobatan
e. Evaluasi
S : “Saya sudah mulai bisa bernapas tanpa alat bantu, makan juga mulai banyak”
O : Suhu pasien belum turun
A : Tindakan telah dilaksanakan, dan pasien terlihat kooperatif, sehingga memudahkan perawat untuk melakukan tindakan
P : Melakukan pengkajian ulang, agar dapat menentukan intervensi selanjutnya terkait dengan suhu pasien
4.2 Peran Keperawatan
1. Pemberi Perawatan
Perawat membantu pasien mendapatkan kembali kesehatannya melalui proses kesembuhan.
2. Pembuat Keputusan Klinis
Perawat sebelum melakukan tindakan, terlebih dahulu menentukan intervensi yang terbaik untuk pasien dengan flu babi berdasarkan diagnose yang ada.
3. Pelindung dan Advokat Pasien
Perawat mempertahankan lingkungan yang aman bagi pasien, menghargai hak-hak pasien, memberikan informasi tambahan kepada pasien.
4. Manager Kasus
Perawat mengkoordinasikan dan mendelegasikan tanggung jawab asuhan dan mengawasi tenaga kesehatan lainnya.
5. Pemberi Kenyamanan
Selama melakukan tindakan keperawatan, perawat mempertahankan kenyamanan pasien, mengurangi nyeri yang dirasakan pasien
6. Komunikator
Perawat dalam menjalankan proses keperawatan tidak terlepas dari adanya komunikasi, baik komunikasi dengan pasien, keluarga pasien, antar perawat ataupun dengan tenaga medis lainnya.
7. Penyuluh
Perawat menjelaskan kepada pasien konsep dan data-data tentang kesehatan, mendemontrasikan prosedur seperti aktivitas perawatan diri. Perawat memberikan pengetahuan kepada pasien dan keluarga pasien tentang perawatan penderita flu babi, penularan, beserta pencegahannya. Perawat menggunakan metode pengajaran yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan pasien.
BAB 5 PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Flu babi adalah penyakit saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus influenza tipe A termasuk family orthomyxoviridae. Penyakit ini menyerang saluran pernapasan atas manusia. Meskipun gejalanya tidak separah virus flu babi namun penyakit ini mempunyai tingkat kematian yang tinggi.
Virus ini pertama kali muncul dan diisolasi dari seekot babi pada tahun 1930 di amerika serikat. Pada perkemangannya penyakit ini berpindah kemanusia terutama menyerang mereka yang kontak dengan babi. Lama tak terdengar, virus ini muncul kembali ditahun 2009 dan sudah sampai di Indonesia. Sebenarnya untuk penanganan penyakit ini hanya terletak pada pencegahannya. Apabila upaya pencegahan yang dilakukan para petugas kesehatan di Indonesia ini dapat dilakukan dengan maksimal, virus ini dapat diminimalisir penularannya.
Diagnosa keperawatan yang muncul pada penderita swine influenza ini antara lain:
a. Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan inflamasi ditandai dengan rhinorhea.
b. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan tidak seimbangnya cairan tubuh dengan kebutuhan ditandai dengan diare.
c. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan inadekuat absorbs nutrient oleh tubuh akibat reaksi inflamasi ditandai dengan anoreksia, sulit menelan.
d. Hipertermi berhubungan dengan perubahan pada regulasi temperatur ditandai dengan peningkatan temperatur tubuh.
e. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakmampuan melaksanankan aktivitas sehari-hari ditandai dengan adanya nyeri.
f. Resiko pola napas tak efektif berhubungan dengan penurunan kapasitas pembawa oksigen.
5.2 Saran
Untuk Masyarakat
Menggunakan masker ketika berada di tempat umum
Untuk Perawat
Selalu menggunakan APD ketika kontak dengan pasien
Untuk Tenaga Kesehatan Lain
Melakukan penyuluhan kesehatan, mendemonstrasikan vaksinasi
Untuk Pasien
Bersikap kooperatif, sehingga tindakan dapat berjalan lancer sesuai yang diharapkan
Untuk Keluarga Pasien
Menggunakan masker ketika kontak dengan pasien
Tidak ada komentar:
Posting Komentar