Halaman

Selasa, 08 Maret 2011

Kontrol Infeksi

TUGAS MATA KULIAH KEBUTUHAN DASAR MANUSIA 1
“INFECTION CONTROL”


OLEH :
KELOMPOK IVB


1. LAKSMI WARDANI A. (092310101006)
2. SEPERZEKI Z.F (092310101022)
3. RIZA FIRMAN S. (092310101027)
4. SETYO ADI SUNANTO (092310101039)
5. YOHANDANI FRINDA P (092310101058)
6. LIELYS INAYATUL F (092310101063)
7. CLARA SINTHA RIANES (092310101067)
8. ANDRIYANI DWI W (092310101075)



PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2010

PERTANYAAN :
1. Sebutkan cara pengendalian INOS diruang perawatan anak, ruang perawatan penyakit menular, ruang perawatan khusus, ruang rawat intensif !
2. Jelaskan tindakan yang harus dilakukan perawat ketika merawat klien dengan :
a. Flu babi/H1N1
b. SARS
3. Jelaskan perbedaan antiseptik, desinfektan, dan sterilisasi serta berikan masing-masing 3 contoh produk/caranya !
JAWABAN :
1. Secara garis besar pencegahan dan pengendalian infeksi nosokomial dilakukan melalui dua cara. Yang pertama adalah dengan membunuh penyebab dan menghindari terjadinya luka yang dikenal dengan istilah tindakan aseptik- atraumatik. Cara yang kedua adalah concomitant atau tindakan –tindakan yang relevan dan perlu untuk mencegah timbul dan menularnya kuman. Berikut adalah cara pengendalian INOS untuk masing-masing ruang perawatan :
A. Ruang perawatan anak
1. Selalu menjaga daya tahan alami anak yang memang masih lemah agar selalu stabil.
2. Mencuci tangan
Oleh karena cara penularan infeksi yang utama di ruang anak adalah melalui tangan petugas (bakteri transien), maka mencuci tangan merupakan satu cara yang efektif untuk melaksanakan program pengontrol infeksi. Dengan mencuci tangan, maka mikroba yang berada di tangan petugas akan hilang. Mencuci tangan dengan memakai sabun selama 15 detik akan menghilangkan mikroba. Sedangkan untuk membersihkan bakteri residen diperlukan waktu yang lebih lama dan harus memakai detergen antibakteri.
3. Pengunjung harus dibatasi untuk masuk ke bangsal perawatan anak untuk mencegah timbulnya infeksi, terutama terhadap pengunjung yang sakit.
4. Meminimalisirkan mobilitas anak / penderita.
5. Makanan siap saji, harus dibersihkan paling lama 4 jam setelah wadah dibuka. Makanan yang disimpan di lemari pendingin harus dibuang bila sudah lebih dari 24 jam. Susu formula harus diberikan dalam wadah yang dijamin steril dengan memanaskannya pada air mendidih paling tidak selama 5 menit.
6. Melakukan tindakan invasif sesuai dengan prosedur yang ada dan dilakukan dengan tepat.
7. Mengubah perilaku dari petugas, dokter, ko.as, dan perawat dalam mengatasi INOS, seperti: menggunakan handscoon dalam melakukan tindakan, menggunakan master, menggunakan alat yang steril, melakukan tindakan sesuai dengan protap dari Rumah Sakit yang baik.
B. Ruang perawatan penyakit menular
1. Para petugas kesehatan harus aktif dalam melakukan penyuluhan kesehatan bagi penderita maupun keluarga.
2. Dalam penanganan produk infeksius, harus sesuai dengan prosedur dan dilakukan dengan tepat.
3. Alat-alat yang digunakan di ruang tempat perawatan pasien penderita penyakit menular harus dipisahkan dengan alat-alat yang digunakan di ruang perawatan lain.
4. Petugas kebersihan harus benar-benar dilatih tentang cara membersihkan yang benar.
5. Sampah yang berasal dari ruang perawatan penyakit menular sebaiknya ditempatkan pada bak sampah tersendiri.
C. Ruang perawatan khusus
1. Meminimalisirkan pasien untuk terkena penyakit penyerta.
2. Petugas kesehatan selalu melakukan tindakan perawatan sesuai dengan prosedur yang ada dan dilakukan dengan benar.
3. Membantu pasien mengurangi/ menghilangkan beban mental/ psikologinya (melakukan tindakan menghibur pasien).
4. Selalu meningkatkan atau menjaga imunitas pasien agar selalu stabil.
5. Alat medis yang digunakan untuk perawatan harus benar-benar steril.
6. Dalam satu ruangan hendaknya pasien yang dirawat tak terlalu padat/ banyak.
7. Membatasi jumlah pengunjung.
8. Meningkatkan status gizi pasien.
D. Ruangan perawatan intensif
1. Manajemen RS harus meningkatkan pengetahuan petugas kesehatan khususnya dokter dan perawat, melalui sosialisasi Standart Operating Procedure ruang rawat intensif secara terus-menerus dan berkelanjutan terutama tentang pentingnya kesehatan dan kebersihan tangan, langkah mencuci tangan dan menggosok tangan yang benar serta pembenahan fasilitas cuci yang ada.
2. Peralatan invasif yang digunakan harus sudah dipastikan benar-benar steril.
3. Prosedur invasif dilakukan dengan benar.
4. Meminimalisirkan penggunaan antibiotik yang berspektrum luas.
5. Petugas kesehatan hendaknya melakukan monitoring secara terus-menerus.
2. Tindakan yang harus dilakukan perawat ketika merawat klien :
A. Gejala flu babi seperti influensa biasa. Penderita biasanya mengalami demam 39-40 derajat celcius selama 1-2 hari, tenggorokan sakit dan pilek yang tak kunjung sembuh. Penderita diperiksa apakah memiliki riwayat kontak dengan hewan babi atau penderita yang terinveksi virus H1N1 penyebab flu babi. Untuk mendiagnosis infeksi swine influenza, dibutuhkan koleksi spesimen dari saluran nafas dalam 4-5 hari pertama. Spesimen ini kemudian diperiksakan di Laboratorium. Kemudian pasien dengan gejala flu burung akan ditempatkan di ruang karantina atau Triage. Sebelum 48 jam sejak gejala timbul, pasien biasanya diberi obat antivirus tamiflu. Setelah hasil laboratorium menunjukkan positif flu babi, pasien harus diisolasi di ruang Intensive Care Unit atau ICU. Kamar isolasi ini dilengkapi fasilitas medis seperti tempat tidur, ventilator, dan mobile X-ray. Ini penanganan standar untuk penyakit menular seperti flu babi.
Selama kontak dengan pasien, perawat harus menggunakan alat pelindung diri (APD).APD itu antara lain berupa sepatu bot, baju tiga lapis, sarung tangan, sarung tangan, kacamata google, penutup rambut. Setelah keluar dari ruangan pasien, perawat diharuskan mandi.
B. Tindakan pada pasien dengan SARS:
a. Kasus dengan gejala SARS melewati triase(petugas sudah memakai masker N95). Mempersiapkan ke ruang pemeriksaan atau bangsal yang sudah disiapkan.
b. Memberikan masker bedah pada penderita
c. Jika ada pasien SARS, pada dasarnya sama dengan merawat pasien dengan flu burung, dan ketika memasuki ruangan dan kontak dengan pasien, harus menggunakan alat pelindung diri (APD).APD itu antara lain berupa sepatu bot, baju tiga lapis, sarung tangan, sarung tangan, kacamata google, penutup rambut. Setelah keluar dari ruangan pasien, perawat diharuskan mandi.
d. Mencatat untuk mendapatkan keterangan rinci mengenai tanda klinis, riwayat perjalanan, riwayat kontak, termasuk riwayat munculnya gangguan pernafasan pada kontak sepuluh hari sebelumnya.
e. Melakukan pemeriksaan fisis.
f. Melakukan pemeriksaan foto toraks dan darah tepi lengkap.
g. Bila foto toraks normal lihat indikasi rawat atau tetap di rumah, menganjurkan untuk melakukan kebersihan diri, tidak masuk kantor/ sekolah dan hindari menggunakan angkutan umum selama belum sembuh.
h. Pengobatan di rumah, simtomatik, antibiotik bila ada indikasi, vitamin dan makanan bergizi;
i. Apabila keadaan memburuk segera hubungi dokter
j. Bila doto toraks menunjukkan gambaran infiltrat satu sisi atau dua sisi paru dengan atau tanpa infiltrat interstial lihat penatalaksanaan kasus probable.
Penatalaksanaan Kasus Probable:
a. Merawat di Rumah Sakit dalam ruang isolasi dengan kasus sejenis;
b. Pengambilan darah dengan darah tepi lengkap, fungsi hati, fosfokinase , urea, elektrolit, C reaktif protein;
c. Pengambilan sampel untuk membedakan dari kasus pneumonia tipikal/ atipikal lainnya:
1. Pemeriksaan usap hidung dan tenggorokan
2. Biakan darah, serologi
3. Urine
d. Pemantauan darah 2 hari sekali
e. Foto toraks sesuai indikasi klinis
f. Pemberiaan pengobatan lihat penatalaksanaan terapi kasus SARS.
3.A. Antiseptik (germisida) adalah senyawa kimia yang digunakan untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme khusus pada jaringan yang hidup seperti pada permukaan kulit dan membran mukosa. Penggunaan antiseptik sangat direkomendasikan ketika terjadi epidemi penyakit karena dapat memperlambat penyebaran penyakit.
Efektivitas antiseptik dalam membunuh mikroorganisme bergantung pada beberapa faktor, misalnya konsentrasi dan lama paparan.
Konsentrasi mempengaruhi adsorpsi atau penyerapan komponen antiseptik. Pada konsentrasi rendah, beberapa antiseptik menghambat fungsi biokimia membran bakteri, namun tidak akan membunuh bakteri tersebut. Ketika konsentrasi antiseptik tersebut tinggi, komponen antiseptik akan berpenetrasi ke dalam sel dan mengganggu fungsi normal seluler secara luas,termasuk menghambat biosintesis(pembuatan) makromolekul dan persipitasi protein intraseluler dan asam nukleat (DNA atau RNA}.
Sedangkan lama paparan antiseptik dengan banyaknya kerusakan pada sel mikroorganisme berbanding lurus.

Contoh:
- Triclosan, adalah antiseptik yang efektif dan populer, bisa ditemui dalam sabun, obat kumur, deodoran, dan lain-lain.Triclosan mempunyai daya antimikroba dengan spektrum luas (dapat melawan berbagai macam bakteri) dan mempunyai sifat toksisitas minim.
Mekanisme kerja triclosan adalah dengan menghambat biosintesis lipid sehingga membran mikroba kehilangan kekuatan dan fungsinya.
Contoh produknya: sabun, obat kumur, deodorant.
Cara penggunaannya: dipakai berdasarkan kegunaannya, seperti untuk mandi (sabun), dikumur(obat kumur), dioleskan ke permukaan tubuh seperti ketiak (deodorant).
- Garam merkuri, merupakan senyawa antiseptik yang paling kuat.
Merkuri klorida (HgCl) dapat digunakan untuk mencuci tangan dengan perbandingan dalam air 1:1000. Senyawa ini dapat membunuh hampir semua jenis bakteri dalam beberapa menit. Kelemahan dari senyawa ini adalah berkemungkinan besar mengiritasi jaringan karena daya kerja antimikrobanya yang sangat kuat.
Contoh produknya: bubuk tumbuh gigi, obat cacing serta obat pencahar
Cara penggunaannya: dipakai berdasarkan kegunaannya:
- Asam Borat, merupakan antiseptik lemah, tidak mengiritasi jaringan. Zat ini dapat digunakan secara optimum saat dilarutkan dalam air dengan perbandingan 1:20.
Contoh produknya: salep, bedak, larutan kompres, obat oles mulut, dan obat pencuci mata.
Cara pengunaannya: dipakai berdasarkan kegunaannya.
B. Desinfektan adalah senyawa kimia yang digunakan untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada benda mati. Banyak bahan kimia yang dapat berfungsi sebagai desinfektan, tetapi umumnya dikelompokkan ke dalam golongan aldehid atau golongan pereduksi, yaitu bahan kimia yang mengandung gugus -COH; golongan alkohol, yaitu senyawa kimia yang mengandung gugus -OH; golongan halogen atau senyawa terhalogenasi, yaitu senyawa kimia golongan halogen atau yang mengandung gugus -X; golongan fenol dan fenol terhalogenasi, golongan garam amonium kuarterner, golongan pengoksidasi, dan golongan biguanida.
Contoh dari senyawa disinfektan bermacam-macam, miasalnya:
- Senyawa halogen. Hipoklorit dan povidon-iodin adalah zat oksidasi dan melepaskan ion halide. Walaupun murah dan efektif, zat ini dapat menyebabkan karat pada logam dan cepat diinaktifkan oleh bahan organik
Contoh produknya: Chloros, Domestos, dan Betadine.
- Klorsilenol
Klorsilenol merupakan larutan yang tidak mengiritasi dan banyak digunakan sebagai antiseptik, aktifitasnya rendah terhadap banyak bakteri dan penggunaannya terbatas sebagai desinfectan.
Contoh produknya: Dettol.
- Alkohol
Etil alkohol atau propil alkohol pada air digunakan untuk mendesinfeksi kulit. Alkohol yang dicampur dengan aldehid digunakan dalam bidang kedokteran gigi unguk mendesinfeksi permukaan, namun ADA tidak menganjurkkan pemakaian alkohol untuk mendesinfeksi permukaan oleh karena cepat menguap tanpa meninggalkan efek sisa.
C. Sterilisasi adalah tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan semua mikroorganisme (bakteri, jamur, parasit dan virus) termasuk endospora bakteri pada benda mati atau instrumen dengan cara uap air panas tekanan tinggi (otoklaf), panas kering (oven), sterilan kimia atau radiasi
Sterilisasi memiliki 3 macam cara yaitu:
1. Sterilisasi Uap
- 121 ˚C , tekanan pada 106 kPa
- 20 ' untuk alat tidak terbungkus
- 30 ' untuk alat yang dibungkus
2. Sterilisasi Panas Kering (Oven)
- 170 ˚C selama 1 jam. Waktu penghitungan dimulai setelah suhu yang diinginkan tercapai.
- 160 ˚C untuk alat tajam (gunting, jarum) selama 2 jam.
3. Sterilisasi Kimia
- Glutaraldehid 2-4(cydex), Direndam sekurang-kurangnya 10 jam.
- Formaldehid 8, direndam 24 jam.
- Bilas dengan air steril sebelum digunakan kembali atau sebelum disimpan.





DAFTAR PUSTAKA

Sudoyo, Aru.2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam
Potter & Perry, 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Jakarta: EGC Penerbit Buku Kedokteran
http://www.klikpdpi.com/swine%20flu/penanganan%20flu%20babi/penanganan.htm
http://www.infeksi.com/articles.php?lng=in&pg=41
http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/15 Aplikasi Teknik Nuklir102.pdf/15AplikasiTeknikNuklir102.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar