Prinsip Belajar dan Konsep Pembelajaran dalam Keperawatan
MAKALAH
diajukan guna melengkapi tugas Mata Ajar Pendidikan dalam Keperawatan
oleh
Yohandani Frinda Pamungkas
NIM. 092310101058
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2011
MOTO
Hari ini harus lebih baik dari kemarin
(Sabda Rasulullah SAW.)
Kalian adalah busur,
Dan anak-anak itu adalah panah yang meluncur,
Sang pemanah maha tahu sasaran bidikan keabadian,
Dia merentangkanmu dengan kekuatan-Nya,
Sehingga anak panah itu melesat cepat dan jauh,
(Kahlil Gibran, 1883-1931)
Berpijak di bumi, Belajar menyentuh pelangi
(Yesus bin Sirach)
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas ke hadirat Allah Swt. atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Prinsip Belajar dan Konspe Pembelajaran dalam Keperawatan”. Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas Mata Ajar Pendidikan dalam Keperawatan pada jurusan Ilmu Keperawatan Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Jember.
Penyusunan makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1. Ns. Roymond H. Simamora, M.Kep., selaku Penanggung Jawab Mata Ajar Pendidikan dalam Keperawatan yang senantiasa memberikan pengarahan dalam penulisan makalah ini;
2. Ns. Retno Purwandari, S.Kep., selaku dosen pengajar Pendidikan dalam Keperawatan yang telah meluangkan waktu, pikiran, dan perhatian dalam penulisan makalah ini;
3. Bapak/Ibu Joseph Sudarsono sekeluarga yang telah memberikan dorongan dan doanya demi terselesaikan makalah ini;
4. Rekan kuliahku Hermastuti Retno, Tetty Pradika Prima, dan Debby Mustika Rini yang telah meluangkan waktu, perhatian, dan pikirannya demi terselesaikan makalah ini;
5. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per Satu
Jember, 10 Maret 2011
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL
HALAMAN MOTO
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan
1.4 Manfaat
BAB 2. PEMBAHASAN
2.1 Teori Belajar
2.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar
2.3 Sistem Pembelajaran dalam Pendidikan Tinggi Keperawatan
BAB 3. PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dunia berkembang begitu pesatnya. Segala sesuatu yang semula tidak bisa dikerjakan, mendadak dikejutkan oleh orang lain yang bisa mengerjakan hal tersebut. Agar kita tidak tertinggal dan tidak ditinggalkan oleh era yang berubah cepat, maka kita sadar bahwa pendidikan itu sangat penting.
Banyak negara yang mengakui bahwa persoalan pendidikan merupakan persoalan yang pelik. Namun semuanya merasakan bahwa pendidikan merupakan salah satu tugas negara yang amat penting. Bangsa yang ingin maju, membangun, dan berusaha memperbaiki keadaan masyarakat dan dunia tentu mengatakan bahwa pendidikan merupakan kunci keberhasilan suatu bangsa.
Pengemasan pendidikan, pembelajaran, dan pengajaran sekarang ini belum optimal seperti yang diharapkan. Hal ini terlihat dengan kekacauan-kekacauan yang muncul di masyarakat bangsa ini, diduga bermula dari apa yang dihasilkan oleh dunia pendidikan. Pendidikan yang sesungguhnya paling besar memberikan kontribusi terhadap kekacauan ini. Tantangan dunia pendidikan ke depan adalah mewujudkan proses demokratisasi belajar. Pembelajaran yang mengakui hak anak untuk melakukan tindakan belajar sesuai karakteristiknya. Hal penting yang perlu ada dalam lingkungan belajar yang demokratis adalah reallness. Sadar bahwa anak memiliki kekuatan disamping kelemahan, memiliki keberanian di samping rasa takut dan kecemasan, bisa marah di samping juga bisa gembira (Budiningsih, 2005:7).
Apa adanya bukan hanya harus dimiliki oleh anak, tetapi juga orang yang terlibat dalam proses pembelajaran. Lingkungan belajar yang bebas dan didasari oleh realness dari semua pihak yang telibat dalam proses pembelajaran akan dapat menumbuhkan sikap dan persepsi yang positif terhadap belajar.
Dari uraian di atas maka dipandang perlu bagi seorang pendidik untuk memahami tentang pengertian, prinsip, dan perkembangan teori pembelajaran.
1.2. Rumusan Masalah
1.2.1. Apa yang dimaksud dengan teori belajar?
1.2.2. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar?
1.2.3. Bagaimana system pembelajaran dalam pendidikan tinggi keperawatan?
1.3. Tujuan
1.3.1. Memahami tentang teori belajar.
1.3.2. Mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi proses belajar.
1.3.3. Memahami system pembelajaran dalam pendidikan tinggi keperawatan.
1.4. Manfaat
1.4.1. Bagi mahasiswa keperawatan
Mahasiswa keperawatan mampu memanajemen diri sendiri guna mendapatkan kegiatan atau proses belajar yang baik.
1.4.2. Bagi pengajar
Pengajar mampu memberikan suatu system pembelajaran yang sesuai dengan apa yang diharapkan mahasiswa.
1.4.3. Bagi orang tua mahasiswa keperawatan
Orang tua dapat meningkatkan pengawasan serta memotivasi putra-putrinya dalam kegiatan belajar.
BAB 2. PEMBAHASAN
2.1. Teori Belajar
Pengertian Belajar
Dampak dari setiap perbuatan belajar adalah terjadinya perubahan dalam aspek fisiologis dan psikologis. Perubahan dalam aspek fisiologis, misalnya dapat berjalan, berlari, dan mengendarai kendaraan, sedangkan dalam aspek psikologis berupa diperolehnya pemahaman, pengertian tentang ilmu pengetahuan, nilai-nilai yang berlaku di masyarakat.
Dalam kegiatan belajar melibatkan aspek fisiologis atau struktur, yaitu otak dan aspek psikologis atau fungsi (berpikir). Beberapa pengertian tentang belajar dapat diketengahkan sebagai berikut.
a. Pengertian tradisional, “Belajar adalah menambah dan mengumpulkan sejumlah pengetahuan” (Nasution, 1980)
b. Mengutip pendapat Ernest H.Hilgard, “Belajar adalah dapat melakukan sesuatu yang dilakukannya sebelum ia belajar atau bila kelakuannya berubah sehingga lain caranya menghadapi sesuatu situasi daripada sebelum itu” (Sumadi S., 1984)
c. Dalam pengertian singkat belajar adalah “A change behavior” atau perubahan perilaku (Sumadi S., 1984)
d. Mengutip pendapat Cronbach, “Belajar sebaik-baiknya adalah dengan mengalami dan dalam mengalami itu menggunakan pancaindranya” (Sumadi S., 1984)
e. Belajar adalah “Bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara berperilaku yang baru berkat pengalaman dan latihan” (Oemar H., 1983)
f. Belajar adalah “Proses perubahan dalam diri manusia” (Ahmadi A., 1999)
g. Belajar adalah “Usaha untuk menguasai segala sesuatu yang berguna untuk hidup” (Notoatmodjo, 1997)
Teori belajar atau konsep belajar, yaitu suatu konsep pemikiran yang dirumuskan mengenai bagaimana proses belajar itu terjadi. Menurut Notoatmodjo (1997) bahwa teori belajar dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu:
a. Teori yang hanya memperhitungkan factor yang dating dari luar individu (factor eksternal), dikenal dengan teori stimulus dan respons
b. Teori yang memperhitungkan factor yang berasal dari dalam individu (faktor internal), maupun yang berasal dari luar individu (faktor ekstern), dikenal dengan teori transformasi.
Teori belajar yang termasuk ke dalam teori stimulus dan respons adalah teori asosiasi. Dalam teori ini belajar tidak lain adalah mengambil dan menggabungkan tanggapan (respons) karena rangsangan (stimulus), dengan jalan mengulang-ulang. Semakin banyak stimulus yang diberikan, makin banyak stimulus yang diperoleh.
Teori belajar yang termasuk ke dalam teori transformasi, yaitu:
a. Teori transformasi yang berlandaskan psikologi kognitif. Menurut Neisser (Notoatmodjo, 1997) bahwa proses belajar merupakan transformasi dari input, reduksi input, analisis input, disimpan, ditemukan kembali, dan dimanfaatkan.
b. Awal individu belajar adalah interaksi individu dengan dunia luar, masukan sensoris, diseleksi, masuk dalam memori, dan menyangkut domain kognitif, afektif, dan psikomotor.
Beberapa teori belajar yang banyak dikemukakan para ahli, yaitu:
Konsepsi Spekulasi
Teori yang dikelompokkan ke dalam konsepsi ini semata-mata hanya pendapat para ahli, tanpa dibuktikan melalui penelitian atau percobaan. Teori yang masuk ke dalam konsepsi ini adalah:
a. Pendapat ahli scholastic
Bahwa belajar itu pada intinya adalah ulangan, artinya bahwa belajar hakikatnya mengulang-ulang materi yang harus dipelajari, semakin sering diulang maka materi tersebut makin diingat dan dikuasai
b. Kontrareformasi
Proses belajar yang menjadi pokok atau induk adalah “mengulangi”. Semboyan yang terkenal adalah “repetitio est mater studiorum”.
c. Konsep psikologi daya atau faculty psychology
Pelopornya adalah Christian Van Volf. Menurut konsepsi ini, belajar tidak lain adalah usaha untuk melatih daya jiwa yang terdapat pada otak agar berkembang sehingga kita dapat berpikir, mengingat dengan cara menghafal, memecahkan soal, dan bermacam-macam kegiatan lainnya.
Dasar teori ini adalah adanya anggapan bahwa jiwa manusia terdiri dari berbagai daya, seperti daya piker, mengenal, mengingat, mengamati, daya khayal, dan daya merasakan. Daya ini dapat berkembang dan berfungsi dengan baik apabila dilatih secara berulang kali.
Contoh :
• Daya berpikir akan berkembang apabila pikiran digunakan untuk memecahkan soal.
• Daya mengingat akan berkembang apabila mengulang-ulang hal yang sama.
Pendekatan Eksperimental
Pelopornya adalah Ebbinghaus. Teori ini tidak bersifat spekulatif belaka dalam mengemukakan pendapatnya, tetapi sudah melalui penelitian dan percobaan-percobaan.
Dari penelitian dan percobaan tersebut, disimpulkan bahwa inti belajar adalah ulangan
Teori Belajar Asosiasi
Pelopornya adalah Thorndike. Teori ini mengatakan bahwa jiwa manusia terdiri dari asosiasi bermacam-macam tanggapan yang masuk, yang terbentuk Karena hubungan stimulus-respons.
Proses belajar pada intinya adalah penguatan antara stimulus-respons. Sifat belajar menurut teori ini adalah “Trial and error learning”.
Classical Conditioning
Dinamakan juga Pavlonisme karena peletak teori ini adalah Pavlov. Inti penelitiannya sebagai berikut:
a. Eksperimennya menggunakan anjing yang telah dioperasi kelenjar lidahnya (glandula salivase) sehingga air liur yang keluar dapat ditampung dan diukur. Apabila ada makanan, keluarlah air liur sebagai respons.
b. Percobaan selanjutnya adalah membunyikan bel terlebih dahulu sebelum diberikan makanan.
c. Percobaan dilakukan berulang kali dan ternyata hasilnya bunyi bel saja tanpa memberikan makanan sudah dapat menimbulkan keluarnya air liur secara refleks.
Dari percobaan tersebut, terjadi:
a. Bunyi bel= conditioning stimulus (CS)= perangsang bersyarat.
Makanan= unconditioning stimulus (US)= perangsang tak bersyarat.
b. Keluarnya air liur karena bunyi bel disebut conditioning refleks (CR).
c. Keluarnya air liur karena makanan disebut unconditioning Refleks.
Kesimpulan teori ini adalah segala sesuatu yang dipelajari dapat dikembalikan kepada stimulus dan respons. Mendidik pada dasarnya adalah memberikan stimulus tertentu yang menimbulkan respons yang kita inginkan. Hal ini hendaknya dilakukan berulang-ulang agar hubungan stimulus dan respons semakin kuat.
Behaviorism
Pelopornya adalah Watson. Pendapat yang dikemukakan, yaitu:
a. Teori stimulus dan respons
Apabila kita menganalisis tingkah laku yang kompleks, akan ditemukan rangkaian unit stimulus dan respons yang disebut refleks. Stimulus merupakan situasi objektif (suara dan sinar) dan respons adalah reaksi subjektif individu terhadap stimulus (mengambil makan karena lapar atau menutup pintu karena ada angin kencang).
b. Pengamatan dan kesan
Adanya kesan motoris ditujukan terhadap berbagai stimulus.
c. Perasaan, tingkah laku, dan afektif
Ditemukan tiga reaksi emosional yang dibawa sejak lahir, yaitu: takut, marah, dan cinta. Perasaan senang dan tidak senang adalah reaksi senso-motoris.
d. Teori berpikir
Berpikir harus merupakan tingkah laku senso-motoris dan berbicara dalam hati adalah tingkah laku berpikir.
e. Pengaruh lingkungan terhadap perkembangan individu.
Reaksi instinktif atau kodrati yang dibawa sejak lahir jumlahnya sedikit sekali, sedangkan kebiasaan-kebiasaan yang terbentuk dalam perkembangan disebabkan oleh latihan dan belajar.
Operant Conditioning
Pelopornya adalah Skinner. Dalam teori ini disebutkan bahwa ada dua macam respons, yaitu:
a. Respondent response (reflexive response atau respondense behavior)
Response ini ditimbulkan oleh perangsang-perangsang tertentu yang disebut electing stimuli yang sifatnya relative tetap dan terbatas serta hubungan antara stimulus dan respons sudah pasti sehingga kemungkinan untuk dimodifikasi kecil, misalnya makanan yang menimbulkan keluarnya air liur.
b. Operant response (instrumental response atau instrumental behavior)
Respons yang timbul dan berkembangnya diikuti oleh perangsang-perangsang tertentu, yang biasa disebut reinforcing stimuli atau reinforce. Perangsang tersebut memperkuat respons yang telah dilakukan oleh organisme sehingga sifatnya mengikuti; Misalnya, seorang anak belajar, kemudian memperoleh hadiah sehingga ia akan lebih giat lagi belajar, berarti responsnya menjadi lebih kuat/intensif.
Respons ini merupakan bagian yang terbesar daripada tingkah laku manusia dan kemungkinannya untuk dimodifikasi tak terbatas. Titik berat teori Skinner terletak pada respons kedua ini.
Teori Gestalt atau Organis
Teori ini menyebutkan bahwa jiwa manusia merupakan suatu kesatuan yang bulat (holistic) bukan tanggapan. Jiwa manusia bersifat hidup dan dinamis atau aktif berinteraksi dengan lingkungan. Oleh karena itu, belajar berarti bereaksi, mengalami, berbuat, berpikir secara kritis.
Dari teori ini dapat dikemukakan adanya beberapa asas belajar, yaitu:
a. Keseluruhan lebih dari jumlah bagian-bagian
b. Belajar tidak adalah proses perkembangan
c. Belajar adalah reorganisasi pengalaman
d. Belajar akan lebih berhasil apabila ada minat atau keinginan dan bertujuan
e. Belajar merupakan proses yang berlangsung terus-menerus
Teori Daya
Aristoteles menyatakan bahwa jiwa terdiri atas berbagai kekuatan (daya). Belajar merupakan upaya melatih daya-daya itu. Pelatihan daya berpikir dengan memperbanyak mengerjakan soal-soal hitungan dan menjadi kuat daya piker, seperti halnya pelatihan otot tangan yang terus-menerus akan kuat mengangkat barang-barang yang besar
Teori Koneksionisme
Berdasarkan pendapat bahwa belajar merupakan kegiatan mendapatkan ikatan hubungan kuat antara stimulus (S) dengan respons ®. Rumus teorinya Sarbond SR (S dan R) dikaithubungkan. Teori ini mengakibatkan cara belajar dengan melimpahkan berbagai pelatihan soal berjawab yang tak terbantah.
Teori Belajar Bermaksud
Edward Tolman mengemukakan bahwa belajar merupakan pengorganisasian perbuatan (kelakuan)untuk meraih maksud. Maksud itu menjadi keperluan utama yang terendap pada nurani kejiwaan (psycho) pada diri mereka yang sedang belajar. Teori belajar sebagai pengalaman. Teori ini dikenal dengan learning by doing atau belajar sambil berbuat, sejalan dengan ungkapan pengalaman adalah guru yang paling baik. Artinya, kita harus mengalami sendiri, melakukan berbagai pemecahan persoalan.
Teori Andragogi
Malcolm Knowles menulis teori andragogi berdasarkan teori humanistic. Model andragogis dari Knowles (1984) didasarkan pada beberapa anggapan:
• Kebutuhan untuk mengetahui. Orang dewasa perlu mengetahui mengapa mereka harus mempelajari sesuatu sebelum mereka mempelajarinya.
• Konsep diri peserta didik. Orang dewasa mempunyai konsep diri untuk bertanggungjawab terhadap keputusan mereka sendiri selama kehidupannya. Mereka harus dipandang sebagai orang yang mampu mengatur diri sendiri.
• Peran pengalaman yang dimiliki peserta didik. Orang dewasa yang menjalankan aktivitas pendidikan mempunyai beban yang lebih besar dan mutu pengalaman yang berbeda dibandingkan anak muda.
• Kesiapan untuk belajar. Orang dewasa mempunyai kesiapan untuk mempelajari sesuatu yang harus mereka ketahui supaya mampu mengatasi situasi kehidupan nyata mereka secara efektif.
• Orientasi untuk pembelajaran. Berbeda dengan orientasi anak-anak dan anak muda yang berpusat pada subyek untuk pembelajaran, orientasi orang dewasa berpusat pada kehidupan. Orang dewasa termotivasi untuk mencurahkan energy dalam mempelajari sesuatu guna memperluas wawasan mereka. Dengan demikian mereka dapat melakukan tugas-tugas atau mengatasi masalah yang dihadapinya dalam kehidupan.
• Motivasi. Ketika orang dewasa responsive terhadap beberapa motivator eksternal (pekerjaan yang lebih baik, promosi jabatan, gaji yang lebih tinggi), motivator yang paling potensial adalah tekanan internal (contoh, keinginan untuk meningkatkan kepuasan kerja, harga diri, kualitas hidup).
Cross (1981) percaya bahwa individu mempunyai “kecenderungan alami untuk belajar dan pembelajaran dapat menumbuhsuburkan lingkungan yang sehat”. Menurut teori humanism, pendidik preoperative sebaiknya menyadari bahwa motivasi internal orang dewasa dan pengaturan diri dapat mempengaruhi proses belajar. Hal ini dilakukan dengan mencari kesempatan tambahan untuk belajar, meskipun tidak diarahkan secara spesifik oleh pendidik.
2.2. Faktor yang mempengaruhi Belajar
Terdapat tiga persoalan yang fundamental dalam setiap kegiatan belajar. Kegiatan belajar adalah suatu system yang terdiri dari input, process, dan output.
a. Input, berupa subyek belajar, sasaran belajar, atau individu itu sendiri yang memiliki latar belakang bermacam-macam
b. Process, di dalam proses belajar terjadi interaksi timbale balik dari berbagai faktor, yitu: subyek belajar (peserta didik), pengajar atau fasilitator (guru, dosen, atau pembimbing), metode, alat bantu belajar mengajar (ABBM), dan materi atau bahan yang dipelajari
c. Output, keluaran berupa hasil belajar yang terdiri kemampuan baru atau perubahan baru pada diri subyek belajar, dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak dapat menjadi dapat, dan dari tidak terampil menjadi terampil
Secara bagan dapat digambarkan sebagai berikut
Menurut Notoatmodjo (1997) sesuai pendapat J. Guilbert bahwa faktor-faktor yang memengaruhi proses belajar meliputi:
a. Materi yang dipelajari, materi di sini adalah bahan pelajaran yang digunakan untuk membentuk sikap, memberikan keterampilan atau pengetahuan. Materi untuk ketiga aspek tersebut substansinya akan berbeda
b. Lingkungan, terdiri dari faktor fisik (suhu, cuaca, kondisi tempat belajar, ventilassi, penerangan, dan kursi belajar) dan faktor sosial (manusia dengan segala interaksinya, status, dan kedudukannya).
c. Instrumental, terdiri dari perangkat keras/hardware (perlengkapan belajar dan alat bantu belajar mengajar) dan perangkat lunak/software (kurikulum, fasilitator, dan metode belajar)
d. Kondisi individu atau subyek belajar, terdiri dari kondisi fisiologis (keadaan fisik, pancaindra, kekurangan gizi, dan kesehatan) dan kondisi psikologis (inteligensi, bakat, sikap, daya kreativitas, persepsi, daya tangkap, ingatan, dan motivasi)
Faktor-faktor yang memengaruhi belajar juga dapat dikelompokkan menjadi faktor internal dan eksternal serta faktor teknik pendekatan belajar
Faktor Internal atau endogen
a. Faktor fisiologis
• Kematangan fisik, fisik yang sudah matang atau siap untuk belajar akan mempermudah dan memperlancar proses belajar atau sebaliknya
• Keadaan indra, keadaan indra yang sehat atau normal, terutama penglihatan dan pendengaran akan memperlancar dan mendukung proses belajar atau sebaliknya
• Keadaan kesehatan, kondisi badan yang tidak sehat termasuk kecacatan ataupun kelemahan, misalnya: kurang gizi, sakit-sakitan, kurang vitamin, gangguan bicara, atau cacat badan lain, akan menjadi kendala dan menghambat proses belajar atau sebaliknya
b. Faktor psikologis
• Motifasi, belajar yang dilandasi motivasi yang kuat dan berasal dari dalam diri individu akan memperlancar proses belajar atau sebaliknya
• Emosi, emosi yang stabil, terkendali, dan tidak emosional akan mendukung proses belajar. Sebagai contoh mahasiswa yang IQ-nya di atas rata-rata, tetapi emosinya labil sehingga menghadapi permasalahan kecil mudah marah, mudah putus asa, tidak tekun sehingga akan menghambat proses belajar atau sebaliknya.
• Sikap, sikap negative terhadap mata pelajaran, fasilitator, kondisi fisik, dan dalam menerima pelajaran, dapat menghambat atau kendala dalam proses belajar atau sebaliknya.
• Minat, bahan pelajaran yang menarik minat akan mempermudah individu untuk mempelajari dengan sebaik-baiknya atau sebaliknya
• Bakat, seseorang yang tidak berbakat pada bidang tertentu, apabila memasuki jurusan atau mengikuti pelajaran yang tidak sesuai bakatnya akan menimbulkan hambatan dalam proses belajar atau sebaliknya
• Inteligensi, di antara berbagai faktor yang dapat memengaruhi belajar, faktor intelegensi sangat besar pengaruhnya dalam proses dan kemajuan belajar individu. Apabila individu memiliki inteligensi rendah, sulit untuk memperoleh hasil belajar yang baik atau sebaliknya
• Kreativitas, individu yang memiliki kreativitas ada usaha untuk memperbaiki kegagalan sehingga akan merasa aman bila menghadapi pelajaran
Faktor eksternal atau eksogen
Faktor ini berasal dari luar diri individu, terdiri dari:
a. Faktor sosial, yaitu faktor manusia lain yang berada di luar diri subyek yang sedang belajar
• Orang tua, orang tua yang mampu mendidik dengan baik, mampu berkomunikasi dengan baik, penuh perhatian terhadap anak, tahu kebutuhan dan kesulitan yang dihadapi anak, dan mampu menciptakan hubungan baik dengan anak-anaknya, akan berpengaruh besar terhadap keberhasilan belajar anak tersebut atau sebaliknya.
• Manusia yang hadir, manusia yang hadir pada saat seseorang sedang belajar dapat mengganggu proses belajar, misalnya: suasana rumah yang gaduh, sekitar kelas banyak anak bermain, atau suasana di sekitar ruang kelas yang berisik.
• Bukan manusia yang hadir, dapat berupa film, video, VCD, atau kaset yang diputar sehingga dapat mengganggu individu yang sedang belajar
b. Faktor nonsosial:
• Alat bantu belajar mengajar (ABBM) yang lengkap akan membantu proses belajar atau sebaliknya
• Metode mengajar yang memadai akan membantu proses belajar atau sebaliknya
• Faktor udara, cuaca, waktu, tempat, sarana, dan prasarana, dapat memengaruhi proses belajar
Faktor Teknik Pendekatan
Teknik-teknik belajar yang umum di antaranya adalah metode partial, metoda global, dan metode gabungan.
a. Metode partial, yaitu belajar dengan cara sebagian demi sebagian, setahap demi setahap berturut-turut
b. Metode global, yaitu belajar dengan cara mempelajari keseluruhan dahulu secara umum, baru kemudian sebagian-sebagian, setahap demi setahap sehingga bagian-bagian renik menampak dengan jelas
c. Metode gabungan, yaitu dengan cara belajar dengan dimulai menyeluruh, kemudian sebagian demi sebagian, lalu menyeluruh lagi dengan penuh kecermatan, kemudian mempelajari lagi bagian demi bagian secara mendalam.
Prinsip Belajar Efektif
a. Belajar harus mempunyai tujuan yang jelas dan terarah
b. Tujuan belajar merupakan kebutuhan bukan paksaan orang lain
c. Belajar harus disertai niat, hasrat, dan kemauan yang kuat untuk mencapai tujuan
d. Dalam mencapai tujuan belajar, pasti akan menghadapi bermacam-macam hambatan atau kendala sehingga perlu ketekunan berusaha
e. Bukti bahwa seseorang sudah belajar ditandai adanya perubahan perilaku dari tidak tahu menjadi tahu dan dari tidak mengerti menjadi mengerti
f. Belajar akan memperoleh civil effect, di samping dari tujuan pokok
g. Belajar adalah proses aktif sehingga perlu interaksi antara individu dan lingkungan
h. Belajar akan lebih berhasil apabila berbuat atau melakukan sesuatu (learning by doing)
i. Belajar harus mencakup aspek knowledge, affective, dan psychomotor
j. Belajar perlu ada bimbingan dan bantuan orang lain
k. Belajar perlu “insight” atau “tilikan” atau pemahaman tentang hal-hal yang dipelajari sehingga diperoleh pengertian
l. Belajar dapat dikatakan berhasil apabila dapat menerapkan dalam bidang praktik sehari-hari.
2.3. Sistem Pembelajaran dalam Pendidikan Tinggi Keperawatan
Sistem pembelajaran adalah suatu kombinasi terorganisasi yang meliputi unsure-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan (Hamalik, 2003). Unsure manusiawi dalam system pembelajaran terdiri atas siswa, guru/pengajar, serta orang-orang yang mendukung terhadap keberhasilan proses pembelajaran termasuk pustakawan. Laboran, tenaga administrasi bahkan mungkin penjaga kantin. Material adalah berbagai bahan pembelajaran yang dapat disajikan sebagai sumber belajar, misalnya buku-buku, film, slide suara, foto, CD, dan lain sebagainya. Fasilitas dan perlengkapan adalah segala sesuatu yang dapat mendukung terhadap jalannya proses pembelajaran, misalnya ruang kelas, penerangan, perlengkapan computer, audio-visual dan lain sebagainya.
Sebagai suatu system seluruh unsure yang mebentuk system itu memiliki cirri saling ketergantungan yang diarahkan untuk mencapai suatu tujuan. Keberhasilan system pembelajaran adalah keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran. Selanjutnya, siapa yang diharapkan dapat mencapai tujuan tersebut? Yang harus mencapai tujuan adalah siswa sebagai subyek belajar. Maka dengan demikian, tujuan utama system pembelajaran adalah keberhasilan siswa/mahasiswa mencapai tujuan.
Dari uraian tersebut, maka jelas tugas seorang desainer pembelajaran meliputi tiga hal pokok, yaitu: pertama, sebagai perencana, yakni mengorganisasikan semua unsure yang ada agar berfungsi dengan baik, sebab manakala salah satu unsure tidak bekerja dengan baik maka akan merusak system itu sendiri. Kedua, sebagai pengelola implementasi sesuai dengan prosedur dan jadwal yang direncanakan; dan ketiga, mengevaluasi keberhasilan siswa/mahasiswa dalam mencapai tujuan untuk menentukan efektivitas dan efisiensi system pembelajaran.
Banyak teori belajar yang mengembangkan berbagai cara pendekatan atau system pengajaran dalam keperawatan, di antaranya:
1. Enquiry-discovery learning (belajar mencari dan menemukan sendiri)
System ini peserta didik diberi peluang untuk mencari dan menemukan sendiri dengan mempergunakan tekhnik pendekatan pemecahan masalah dengan langkah sebagai berikut:
a. Stimulasi
Peserta didik membaca atau mendengarkan uraian yang memuat permasalahan
b. Problem statement
Memberi kesempatan pada peserta didik untuk mengidentifikasi berbagai permasalahan kemudian dianjurkan untuk memilih yang dipandang fleksibel atau menarik untuk dipecahkan selanjutnya dirumuskan dalam bentuk hipotesis.
c. Data collection
Peserta didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan berbagai informasi yang relevan dengan jelas, membaca literature, mewawancarai sumber, menguji coba guna menjawab dan membuktikan benar tidaknya hipotesa
d. Data processing
Semua informasi akan diproses (diolah, diacak, diklasifikasi, ditabulasi)
e. Verification
Kemampuan mengecek apakah hipotesis terbukti atau tidak berdasarkan hasil pengolahan atau tafsiran.
f. Generalizaton
Tahap penarikan kesimpulan berdasarkan hasil verifikasi.
System ini mempunyai kelebihan di antaranya mudah dihafal dan diingat, mudah ditransfer, dapat menimbulkan motif intrinsic oleh karena peserta didik merasa puas atau penggunaan kemampuan dan sangat cocok pada materi yang bersifat kognitif, sedang kekurangannya memakan waktu yang banyak kalau kurang terpimpin atau terarah atau menjurus kepada kekacauan atau kekaburan atas materi yang dipelajarinya.
2. Expository learning
Model ini peserta didik sudah tinggal menyimak atau mencernanya saja secara teratur dan tertib oleh karena guru atau dosen telah menyajikan bahasan secara sistematis dan lengkap, model ini mempunyai langkah sebagai berikut:
a. Preparasi
Guru menyiapkan materi secara sistematis dan lengkap
b. Apersepsi
Guru bertanya atau memberikan uraian singkat untuk mengarahkan perhatian tentang materi yang akan diajarkan
c. Presentasi
Guru menyajikan bahan dengan ceramah, peserta didik membaca bahan yang telah dipersiapkan dari guru.
d. Resitasi
Guru bertanya peserta didik menjawab dengan kata-katanya sendiri
3. Mastery Learning (Belajar Tuntas)
Model ini dimulai dengan penguasaan (mastery) yaitu bagian terkecil hingga yang lebih besar, materi harus terinci dan terorganisasi ke dalam satu-satuan (unit) tertentu hingga satuan terkecil yang bermakna dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari system yang lebih besar. Satuan bahan yang terkecil disebut dengan modul. Pada model ini peserta didik diberi kesempatan belajar dengan mempergunakan waktu yang sesuai dengan taraf penguasaan, maka untuk mencapai kebutuhan belajar dengan mastery learning perlu dipersiapkan bahayanya, instrument dan evaluasi.
4. Humanistic Education
Model ini menitikberatkan pada upaya membantu peserta didik agar sanggup mencapai perwujudan dirinya sesuai dengan kemampuan dasar dan keutuhan, cara pendekatan masih bersifat enquiry discovery based approaches, dengan cirri tidak membuat jarak antara peserta didik dengan pengajar, tujuan akhir adanya aktualisasi diri dengan optimal dari setiap peserta didik.
5. Berpikir Kritis
Berpikirkritis adalah proses penalaran (proses kognitif internal) dari pengalaman eksternal melalui analisis masalah dan informasi. “Kritis” berasal dari bahasa Yunani yang berarti “menilai”. Orang dewasa menggunakan proses berpikir kritis dan mencari alternative yang berbeda supaya pemahaman mereka terhadap situasi atau masalah lebih baik. Kemudian mereka menguji alternative tersebut dalam lingkungan mereka. Semua ini menjadi alas an bahwa berpikir kritis muncul baik dalam proses internal maupun eksternal.
6. Pembelajaran Mandiri (Self-Directed Learning)
Pembelajaran mandiri (self-directed learning {SDL}) telah mendapat perhatian lebih dari sekedar konsep pendidikan lain. Istilah ini dapat membingungkan, bergantung pada cara penggunaannya. “self-directed” dapat berkaitan dengan keinginan untuk belajar, cara mengatur instruksi, atau atribut pribadi. Penjelasan paling umum mengenai SDL adalah bukti adanya control pribadi terhadap pengalaman belajar seseorang. Garrison (1992) merasa tujuan akhir dari SDL bukan pada persoalan otonomi total, tetapi lebih pada tingkatannya. Brookfield, seperti dikutip oleh Garrison, menyatakan: Jika self-direction diartikan bahwa peserta didik telah mampu mengontrol secara penuh pemilihan isi, tujuan, criteria evaluasi, dan metode pembelajaran, peran pendidik berhenti secara harfiahnya”.
SDL bergantung pada kesempatan dan kemampuan untuk membuat keputusan pembelajaran dan harus dipandang sebagai proses kolaboratif di antara guru dan peserta didik.
7. Praktik Reflektif
Berpikir kritis dan SDL pada dasarnya telah mengarah pada identifikasi tentang fenomena baru dalam pendidikan yang dinamakan praktik reflektif oleh Donald Schon dalam bukunya yang berjudul The Reflective Practitioner (1983). Konsep ini menempatkan tanggung jawab pembelajaran untuk peserta didik, apakah karyawan baru atau anggota staf tetap. Konsep ini sangat cocok dengan perkembangan manajemen kualitas saat ini. Praktik reflektif adalah pembelajaran berkelanjutan dan sebaiknya dikembangkan dalam program pendidikan melalui analisis, pertanyaan, sintesis, pemecahan masalah, dan diskusi filosofis sehingga terjadi perbaikan yang berkelanjutan. Konsep ini hanya bberlaku pada perawatan kesehatan sehingga menjadi tantangan bagi kita untuk memahami kembali cara kerja kita. Konsep ini adalah tantangan nyata bagi pendidik yang telah ahli dan terlatih selama bertahun-tahun di kelas dan dalam format perkuliahan. Praktik reflektif merupakan bentuk kolaborasi kelompok yang dilakukan dengan cara dialog terbuka. Sekarang, pendidik harus lebih memahami dinamika kelompok dan harapan serta kebutuhan individu dalam kelompok (MArsick dan Watkins, 1992).
BAB 3. PENUTUP
3.1. Kesimpulan
3.2. Saran
DAFTAR PUSTAKA
Gagne, Robert M., 2004. Prinsip-prinsip Belajar untuk Pengajaran. Surabaya: Usaha Nasional
Ganda, Yahya. Petunjuk Praktis Cara Mahasiswa Belajar di Perguruan Tinggi. Semarang: Grasindo
Gruendemann, Barbara J. Buku Ajar Keperawatan Perioperatif, vol. 1. 2005. Jakarta: EGC
Kusnanto. 2004. Pengantar Profesi dan Praktik Keperawatan Profesional. Jakarta: EGC
Sanjaya, H. Wina. 2010. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Kencana
Simamora, Roymond H. 2009. Buku Ajar Pendidikan dalam Keperawatan. Jakarta: EGC
Sunaryo. 2004. Psikologi untuk Keperawatan. Jakarta: EGC
Kak , aku nindya . Aku mahasiswi keperawatan di kalimantan selatan .
BalasHapusAku ngebaca nama Debby Mustika Rini di ucapan terimakasih pada kata pengantar . Apa boleh saya meminta contact pensonnya ? Saya ingin bertanya lebih lanjut mengenai penelitian yang dia bua mengenai atraumatic care . Terimakasih mohon dibalas :)