Halaman

Selasa, 08 Maret 2011

Sejarah Perkembangan Pendidikan Keperawatan

Sejarah perkembangan Pendidikan Keperawatan di Indonesia
Perkembangan Pendidikan Keperawatan Di luar Indonesia
Zaman Purba
Pada Zaman ini orang percaya bahwa sesuatu yang ada di bumi mempunyai suatu kekuatan mistik yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia. Kepercayaan ini biasa disebut animism. Mereka meyakini bahwa sakitnya seseorang disebabkan oleh kekuatan alam atau pengaruh kekuatan gaib seperti batu besar, gunung tinggi, pohon besar, sungai besar. Jiwa yang baik membawa kesehatan, jika yang jahat membawa kesakitan dan kematian (Calor, Taylor, Lilis & Lemone, 1997). Peran tatib dan perawat jelas berbeda, tatib adalah medicineman yang mengobati penyakit dengan jalan melantunkan nyanyian, member semangat dari ketakutan atau membuka otak untuk menhilangkan jiwa yang jahat (Dolan, Fitzpatrick & Herman, 1983). Perawat biasanya berperan sebagai ibu yang merawat familinya sewaktu sakit dengan memberikan perawatan fisik dan memberikan obat dari tumbuh-tumbuhan. Peran ini diteruskan sampai saat ini.

Zaman keagamaan
Pada zaman ini, kuuil menjadi pusat perawatan medis sebab orang percaya bahwa penyakit disebabkan oleh dosa dan kutukan Tuhan. Pemimpin agama dijunjung tinggi sebagai tabib, perawat dianggap sebagai budak dan mendapat penghargaan yang rendah karena pekerjaannya didasarkan perintah dari pemimpin agama yang berperan sebagai tabib.

Permulaan Masehi
Pada permulaan masehi, agama Kristen mulai berkembang. Pada masa ini keperawatan mengalami kemajuan yang berarti seiring dengan kepesatan perkembangan agama Kristen. Organisasi wanita pertama yang dibentuk pada saat itu dinamakan Deaconesses, mengunjungi orang-orang sakit dan anggota keagamaan laki-laki memberikan perawatan serta mengubur orang mati. Pada perang salib perawat laki-laki dan perempuan bertugas merawat orang-orang yang luka dalam peperangan tersebut.
Kemajuan profesi keperawatan pada masa ini juga terlihat jelas dengan berdirinya rumah sakit terkenal di Roma yang bernama Monastic hospital. RS ini dilengkapi dengan fasilitas perawatan berupa bangsal-bangsal perawatan untuk merawat orang cacat, miskin dan yatim piatu.
Seperti halnya di Eropa, pada pertengahan abad VI masehi keperawatan juga berkembang di benua Asia. Tepatnya di Timur Tengah seiring dengan perkembangan agama Islam. Pengaruh agama Islam terhadap perkembangan keperawatan tidak terlepas dari keberhasilan Nabi Muhammad SAW menyebarkan agama Islam ke berbagai pelosok Negara. Pada masa ini di Jazirah Arab berkembang pesat ilmu pengetahuan seperti ilmu pasti, ilmu kimia, hygiene, dan obat-obatan. Hal ini menyebabkan keperawatan juga berkembang. Prinsip dasar keperawatan seperti pentingnya menjaga kebersihan diri (personal hygiene), kebersihan makanan, air dan lingkungan berkembang pesat. Tokoh keperawatan yang terkenal dari dunia Arab pada masa ini adalah Rafidah.

Permulaan Abad XVI
Struktur dan orientasi masyarakat berubah dari orientasi keagamaan menjadi orientasi pada kekuasaan, yaitu perang, eksplorasi kekayaan alam, serta perkembangan pengetahuan. Akibatnya banyak gereja dan tempat ibadah ditutup, padahal tempat ini digunakan oleh ordo-ordo keagamaan untuk merawat orang sakit. Kondisi ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan keperawtan. Untuk memenuhi kebutuhan perawat, wanita yang pernah melakukan kejahatan dan telah bertobat dapat diterima bekerja sebagai prawat. Akibat reputasi yang jelek ini, perawat menerima gaji yang rendah dengan jam kerja lama pada kondisi yang buruk (Taylor C.,dkk, 1989)

Masa Sebelum PD II
Dasar pelayanan keperawtan dititikberatkan pada pengaduan sebagai ungkapan cinta bersama yang diinspirasikan oleh ajaran agama. Sasarannya adalah pelayanan orang yang sakit. Kegiatan pelayanan ditujukan untuk menolong orang sakit agar sembuh atau lebih sehat . Tenaga perawat yang meberi pelayanan tersebut sedikit sekali atau bahkan tanpa pendidikan formal. Yang terpenting adalah “magang” atau pengalaman praktik langsung, karena pada masa itu yang menonjol adalah “role model” atau model peran. Ruang lingkup pelayanan perawatan lebih bersifat kuratif dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar fisiologis manusia yang sakit.

Florence Nightingale (1820-1910) merupakan tokoh pembaharu perawatan pada saat itu dan bahkan sering disebut Ibu Perawatan. Pada waktu itu, Florence Nightingale sudah menyadari pentingnya suatu sekolah untuk mendidik para calon perawat, agar dapat diberikan pengetahuan, keterampilan dan pembinaan mental sehingga dihasilkan tenaga perawatan yang berbudi luhur, berpengetahuan luas dan terampil dalam melaksanakan perawatan. Beliau menetapkan struktur dasar sebagai prasyarat dalam pendidikan perawat:
a. Mendirikan sekolah
b. Menentukan tujuan pendidikan perawat
c. Menetapkan pengetahuan yang harus dimiliki para calon sebagai dasar perawatan
Disamping itu, Florence Nightingale telah berpendapat bahwa:
a. Perlu persiapan pendidikan yang berlainan bagi perawat pelaksana dan perawat administrator atau supervisor.
b. Perlu diperhatikan bahwa harus ada perubahan tentang jam kerja perawat yang waktu itu berlangsung 12 jam/hari dan 7 hari/minggu
c. Perlu diperhatikan peningkatan pendapatan perawat setiap 6 bulan, mengingat beban dan tanggung jawab mereka
Namun, secara menyeluruh perkembangan perawat dari zaman Florence Nightingale sampai pecah perang Dunia II dinilai sangat kecil atau hamper tidak ada perubahan. Oleh karena itu, masa ini sering disebut sebagai masa pemeliharaan.
Masa selama PD II
Selama perang, banyak kejadian yang merupakan “tekanan” bagi setiap bangsa di dunia. Tekanan perang ini mendorong manusia mengadakan perubahan-perubahan. Kemajuan teknologi dimaksudkan untuk berlomba menakhlukkan dunia. Penerapan teknologi modern dalam bidang pelayanan orang sakit telah mulai diperkenalkan waktu itu sebagai jawaban atas kebutuhan pelayanan kesehatan akibat penderitaan sakit selama perang. Timbulnya penyakit akibat perang, menyebabkan dibutuhkannya peningkatan pengetahuan dan keterampilan tenaga medis maupun perawat. Kemampuan satu bidang profesi tertentu tidak dapat memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan waktu itu. Inipun merupakan tantangan baru bagi perawat dalam memberikan pelayanan kesehatan bersama dengan profesi lain.

Masa Pascaperang Dunia II
Akibat PD II yang mengakibatkan banyaknya penderitan bagi penduduk dunia telah menggugah semua pihak untuk memperbaiki keadaan dunia. Perkembangan pesat di segala ilmu dan bidang kehidupan, sekaligus merupakan perubahan-perubahan untuk mewujudkan masyarakat dunia yang sejahtera. Perkembangan dalam bidang perawatan secara pesat terjadi di Amerika yang dipengaruhi oleh:
a. Kesadaran masyarakat yang meningkat di bidang kesehatan
b. Pertambahan penduduk yang relative tinggi, menimbulkan masalah baru dalam bidang pelayanan kesehatan
c. Pertumbuhan ekonomi, akan mempengaruhi pula tingkah laku
d. Perkembangan ilmu pengetahuan terutama yang menyangkut ilmu kedokteran, pertemuan-pertemuan penting dalam bidang medic, cara-cara baru dalam terapi yang semuanya sangat penting dalam proses penyembuhan penyakit
e. Upaya-upaya menjadi lebih aktif dan kreatif sehingga tidak hanya meliputi pelayanan kuratif saja melainkan juga upaya preventif dan promotif.
f. Adanya perkembangan baru dalam kebijakan pendidikan, sehingga sekolah perawat harus mengalami perubahan juga.
Dasar pemikiran semula, “The Nurse must give total patient care” dalam arti sempit telah berkembang, dalam arti luas perawat lebih menyadari atas makna totality of the individual client dari sebelumnya. Oleh karena itu terjadi perubahan dari perawat bekerja sendiri menjadi bekerja secara team.
Dalam decade ini telah dilancarkan perjuangan untuk pengakuan keperawatan sebagai profesi. Lucile brown (1948) menulis laporan tentang pengakuan perawat sebagai profesi merupakan titik tolak yang besar untuk kehidupan perawat dan profesi perawat. Ia memperhatikan penghargaan pada perawat dalam kaitannya dengan tanggung jawab sebagai penyelenggara pelayanan perawatan perawatan yang bermutu. Untuk itu disadari perlunya suatu pengelolaan pelayanan keperawatan yang baik untuk menjamin mutu dan sekaligus tersedia alat evaluasi keperawatan tersebut.

Sejak tahun 1950
Dalam mengacu proses profesionalisme, perlu pengembangan pendidikan keperawatan. Sebenarnya pendidikan keperawatan di tingkat universitas sudah ada sejak tahun 1909 di Universitas Minesota Amerika. Namun, pengakuan perawat sebagai profesi, baru terjadi 1950, inipun baru pengakuan saja, belum memenuhi karakteristik profesi.
Pendidikan perawat pada tingkat “Bachelor” dimulai tahun 1919. Pada tahun 1977 telah terdapat 3830 orang lulusan master di bidang keperawatan dan pada tahun 1972 terdapat 9 institusi yang melaksanakan program Doktor di bidang keperawatan. Di Thailand pendidikan keperawatan pada tingkat “Bachelor” dimulai tahun 1966, dan pada tingkat “master” dimulai tahun !986.
Proses keperawatan yang dimulai pada tahun 1950 dianggap sebagai stadium embrio. Pada saat itu proses keperawatan belum dipahami dan juga belum bisa diterima, tetapi sudah dilakukan sehari-hari. Baru pada tahun 1955 Lydia Hall memberikan presentasinya tentang “Perawatan adalah suatu proses”. Pada hakikatnya keperawatan menyangkut empat hal pokok, yaitu:
a. Nursing at the patient
b. Nursing to the patient
c. Nursing for the patient
d. Nursing with the patient
Fase dalam proses keperawatan diidentifikasi oleh para dosen keperawatan Universitas Katolik Amerika pada tahun 1967 meliputi: pengkajian, perencanaan, implementasi, dan evaluasi.
Pengertian keperawatan menurut International Council of Nurses (ICN) pada tahun 1973 adalah, “Fungsi yang unik dari perawat adalah menolong seseorang yang sakit atau sehat dalam usaha-usaha menjaga kesehatan atau penyembuhan atau untuk menghadapi sakaratul maut dengan tenang, yaitu usaha yang dapat dilakukan oleh pasien sendiri apabila dia cukup kuat, berkemauan atau sadar dan melakukannya sedemikian rupa sehingga si pasien dalam waktu singkat dapat mandiri-mandiri.”
Dari pengertian tersebut terungkap beberapa pokok hakikat keperawatan, antara lain:
a. Kegiatan keperawatan merupakan kegiatan member bantuan
b. Wujud bantuan tersebut pada hakikatnya merupakan kegiatan fungsi hidup sehari-hari yang normalnya dapat dilakukan sendiri oleh setiap individu yang sehat.
c. Keterbatasan atau ketidakmampuan individu untuk melaksanakan fungsi sehari-hari itu disebabkan kelemahan fisik, kurang kemauan maupun kurang pengetahuan.
Keperawatan sebagai profesi, sampai sekarang masih memerlukan perjuangan yang cukup besar. Meskipun keperawatan sudah mulai disebut sebagai suatu profesi, tetapi jika menelaah karakter profesi, keperawatan lebih tepat dianggap sebagai suatu profesi yang baru lahir atau yang sedang berkembang. Sebagaimana halnya manusia yang bergerak dari kebutuhan dasar ke kebutuhan untuk tumbuh, begitu pula dengan keperawatan yang bergerak dari okupasional ke criteria professional belum sepenuhnya mencapai status professional.
Sejarah perkembangan Pendidikan Keperawatan di Indonesia
Zaman VOC (1602-1799)
Untuk kepentingan usaha perdagangan tentara Belanda, pada 1799 didirikanBinnen Hospital di Batavia (sekarang Jakarta). Rumah sakit ini memanfaatkan tenaga perawat yang berasal dari Bumi Poetra (kaum terjajah) yang disebut dengan pembantu orang sakit (POS). setelah VOC bubar, didirikan sejumlah usaha dalam bidang kesehatan, antara lain Dinas Kesehatan Tentara (Militaire Gezondsheids Dients) dan Dinas Kesehatan Rakyat (Burgerlijke Gezondheids Dients).
Zaman penjajahan Belanda (1799-1811)
Tidak ada usaha kesehatan yang menonjol pada masa ini. Secara umum, pemerintah hanya melanjutkan apa yang telah dirintis oleh pendahulunya (VOC).
Zaman penjajahan Inggris (1811-1816)
Pada masa ini, mulai berkembang sebentuk usaha kesehatan yang dipelopori oleh raffles. Usaha ini meliputi kegiatan vaksinasi cacar secara masal, perbaikan perawatan kesehatan jiwa, dan perawatan bagi para tahanan.
Zaman penjajahan Belanda II (1816-1942)
Setelah pemerintahan diserahkan kembali kepada Belanda, usaha kesehatan di Indonesia semakin maju. Pada masa ini, pemerintah berhasil meluncurkan undang-undang kesehatan yang disusun oleh Prof. Dr. Reinwardt. Selain itu, pada tahun 1819, Residen V Pabst mendirikan sebuah rumah sakit umum yang diberi nama Rumah Sakit Stadsverband dan berkedudukan di Glodok. Rumah sakit ini kemudian berganti nama menjadi Central Burgerlijke Ziekeninrichting dan dipindahkan ke Salemba.
Pada tahun 1852, Dr. W. De Bosch mendirikan Sekolah Dokter Jawa yang kemudian berkembang menjadi STOVIA (1898). Ia juga menyelenggarakan program persiapan pendidikan kebidanan pada tahun 1852, walaupun pada akhirnya program ini ditutup pada tahun 1875. Pada tahun yang sama 91875), pemerintah mendirikan rumah sakit jiwa pertama di Bogor, diikuti dengan rumah sakit jiwa Lawang (1894) dan rumah sakit jiwa Magelang (1923). Dengan semakin banyaknya rumah sakit jiwa yang berdiri, dibukalah pendidikan perawat jiwa pada tahun 1940 di Bogor.
Selain itu rumah sakit pemerintah, di Indonesia berkembang pula sejumlah rumah sakit swasta. Di antaranya adalah rumah sakit Cikini di Jakarta, St. Carolus di Jakarta, St. Borromeus di Bandung dan Elisabeth di semarang. Seiring dengan kemajuan tersebut, pemerintah pun mulai mendirikan sekolah pendidikan bagi perawat. Sekolah pendidikan pertama didirikan di RS. Cikini pada tahun 1900.
Zaman penjajahan Jepang (1942-1945)
Pada zaman penjajahan Jepang, keperawatan di Indonesia boleh dikatakan mengalami kemunduran. Tampak kepemimpinan rumah sakit diambil alih oleh jepang dan sebagian lagi dipegang oleh bangsa Indonesia. Pada masa ini, wabah penyakit menyebar di mana-mana akibat minimnya suplai obat-obatan. Tidak hanya itu kita bahkan terpaksa menggunakan daun pisang dan pelepah batang pisang sebagai ganti balutan yang persediannya sangat tipis. Dapat dikatakan, zaman penjajahan Jepang merupakan zaman yang sungguh tidak manusiawi.
Zaman kemerdekaan sampai sekarang (1945-sekarang)
Pada awal kemerdekaan, ditemui banyak sekali kekurangan pada kondisi perumahsakitan dan perawatan di Indonesia, di antaranya adalah suplai obat-obatan yang minim. Kondisi ini lambat laun mulai mengalami perubahan, terutama dengan didirikannya sejumlah institusi pendidikan keperawatan sampai jenjang perguruan tinggi.
Dari penjelasan di atas, bisa kita simpulkan bahwa sejarah perkembangan keperawatan di Indonesia tidak hanya berlangsung di tatanan praktik-dalam hal ini layanan keperawatan, tetapi juga di dunia pendidikan keperawatan. Tidak ayal lagi, pendidikan keperawatan member pengaruh yang besar terhadap kualitas layanan keperawatan. Seperti kita ketahui, keperawatan merupakan profesi yang bersentuhan langsung dengan hidup dan kehidupan manusia. Karenanya, perawat harus terus meningkatkan kompetensi dirinya, salah satunya melalui pendidikan keperawatan yang berkelanjutan.
Pendidikan berpengaruh terhadap pola piker individu, sedangkan pola piker berpengaruh terhadap perilaku seseorang. Dengan demikian, dapat kita katakan bahwa pola piker seseorang yang berpendidikan rendah akan berbeda dengan pola piker orang yang berpendidikan tinggi. Kaitannya dengan profesi, kemajuan suatu profesi salah satunya ditentukan oleh tingkat pendidikan profesi itu sendiri. Hal yang sama berlaku pula pada profesi keperawatan. Seperti kita ketahui, sejarah perkembangan pendidikan keperawatan di luar negeri berbeda jauh dengan di Indonesia. Perbedaan ini tentunya berdampak pada profesionalisme keperawatan di luar negeri dengan di Negara kita.
Perkembangan pendidikan keperawatan di luar negeri dipelopori oleh Florence Nightingale sekitar abad ke-18 dan 19. Hasil didikan sekolah Nightingale ini mempengaruhi perkembangan keperawatan di dunia. Tidak hanya di situ, pendidikan keperawatan juga berkembang hingga jenjang pendidikan tinggi. Ini ditandai dengan berdirinya program sarjana keperawatan British Columbia di Vancouver-Canada pada tahun 1919. Lalu, pada tahun 1924-1934, muncul konsep program pendidikan spesialis keperawatan yang baru terealisasi pada tahun 1946 dengan didirikannya program spesialis keperawatan dari jemjang S1, hingga program master dan doctor.
Perkembangan pendidikan keperawatan di luar negeri yang berlangsung mulus ternyata berbeda jauh dengan perkembangan pendidikan keperawatan di Indonesia yang penuh dengan lika-liku dan tersendat-sendat. Tidak banyak literature yang mencatat sejarah perkembangan pendidikan keperawatan di Indonesia secara khusus. Tidak bisa kita pungkiri, perkembangan keperawatan tidak lepas dari perjalanan bangsa Indonesia. Pada masa VOC profesi perawat sudah ada. Saat itu perawat direkrut dari Boemi Poetra yang dipekerjakan di rumah sakit sebagai pembantu orang sakit (zieken oppaser). Ketika itu belum ada program pendidikan keperawatan. Pada tahun 1913, program pendidikan keperawatan yang pertama didirikan di rumah sakit Semarang (Depkes RI 1989). Rumah sakit tersebut membuka sejenis kursus atau pelatihan keperawatan dengan mendatangkan guru pengajar dari Belanda. Pelaksanaan layanan keperawatannya disesuaikan dengan ajaran Islam, yakni perawat perempuan merawat pasien perempuan dan perawat laki-laki merawat pasien laki-laki.
Pendidikan keperawatan kemudian berkembang setaraf dengan sekolah menengah pertama (SMP) pada masa sekarang. Program ini dilaksanakan pada tahun 1930, syaratnya peserta didik harus lulus Sekolah Rakyat (sekarang SD) terlebih dahulu. Lamanya pendidikan tiga tahun dan setelah lulus peserta didik akan mendapat sertifikat Diploma A. pada tahun 1940, dibuka sekolah Perawat jiwa di Bogor, dan lulusannya mendapat sertifikat Diploma B. pada saat yang sama, dibuka pula program Sekolah Bidan dengan syarat lulus perawatt tiga tahun ditambah pendidikan kebidanan selama 1 tahun. Lulusan program bidan ini mendapat sertifikat Diploma C. Pada tahun 1950, dibuka Sekolah Guru Perawat di bandung, dan pada tahun 1952, didirikan Sekolah Pengatur Rawat di RS Tantja Badak (sekarang RS Hasan Sadikin).
Seiring perkembangannya, Sekolah Pengatur Rawat kemudian berubah menjadi Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) yang merupakan jenjang pendidikan terendah bagi seorang perawat. Dengan perkembangan ilmu kedokteran dan ilmu kesehatan yang semakin maju, didukung dengan kesadaran masyarakat yang kian meningkat untuk memperoleh layanan keperawatan yang professional maka keperawatan harus terus meningkatkan jenjang pendidikannya hingga tingkat yang lebih tinggi. Pada 1962, didirikan pendidikan akademi keperawatan (akper) di Jakarta.
Sejak saat itu, mulai bermunculan akper-akper baru di berbagai daerah di Indonesia. Puncak perkembangannya diperkirakan terjadi pada 1944, yang ditandai oleh semakin menjamurnya akper-akper swasta di seluruh nusantara. Hingga saat ini, terdapat kurang lebih 361 akper di Indonesia, baik yang didirikan oleh Depkes (poltekes jurusan keperawatan), swasta, pemda, maupun oleh TNI-POLRI. Belum lagi jika ditambah pendidikan keperawatan setingkat SLTA, yakni Sekolah Perawat Kesehatan (SPK).
Saat ini terdapat sejumlah tantangan dan kecenderungan yang berdampak pada profesi akibat adanya perubahan global.
1. Pergeseran pola masyarakat Indonesia dari agraris ke industrialis, dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern. Perubahan ini member dampak pada berbagai bidang kehidupan termasuk kesehatan. Di antaranya adalah pergeseran pola penyakit, dari penyakit infeksi ke penyakit degenerative.
2. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang cepat saat ini membuat masyarakat Indonesia lebih kritis. Masyarakat menuntut pelayanan kesehatan yang lebih baik serta perlindungan terhadap hak-hak klien. Karenanya profesi keperawatan harus meningkatkan kualitasnya.
3. Analisis International Council of Nurses (1997 dalam Yani, 1997) yang menyatakan bahwa pada tahun 2020, di seluruh dunia akan terjadi perubahan global, di antaranya adalah peningkatan pertumbuhan populasi lansia; penurunan angka kelahiran, terutama di Negara Barat; peningkatan insidensi penyakit kronis; perkembangan kebebasan sosial; penyakit AIDS yang masih terus menjadi masalah; dan kesehatan jiwa yang akan menjadi masalah utama.


(Asmadi. 2008. Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta:EGC)
(Bastable, Susan B. 2002. Perawat Sebagai Pendidik: Prinsip-prinsip pengajaran dan pembelajaran. Jakarta: EGC)
(Gruendemann, Barbara J. 2005. Buku ajar keperawatan Perioperatif, vol. 1. Jakarta: EGC)
(Kusnanto. 2004. Pengantar Profesi dan praktik Keperawatan Profesional. Jakarta: EGC)
Notoadmodjo, Soekidjo.,dkk. 1989
Potter & Perry
Rideout, Elizabeth. 2005. Pendidikan Keperawatan Berdasarkan Problem-Based Learning. Jakarta: EGC
Simamora, Roymond H. 2009. Buku Ajar Pendidikan dalam Keperawatan. Jakarta: EGC

Pendirian Program Studi Ilmu keperawatan (PSIK) pertama sekali pada tahun 1985 di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia merupakan momentum kebangkitan profesi keperawatan di Indonesia. Pendirian ini dipelopori oleh tokoh-tokoh keperawatan Indonesia, dibantu beberapa pakar dari konsorsium ilmu kesehatan dan dari Badan Kesehatan Dunia (WHO). Tujuan pendirian PSIK ini adalah menghasilkan perawat professional, agar perawat dapat bermitra dengan dokter dan dapat bekerja secara ilmiah, tidak hanya berdasarkan instruksi dokter saja.
Secara konseptualm, pendirian PSIK bertujuan menghasilkan tenaga keperawatan professional, memantapkan peran dan fungsi perawat sebagai pendidik, pelaksana, pengelola, dan peneliti di bidang keperawatan serta menghasilkan tenaga keperawatan professional yang dapat mengimbangi kemajuan dan ilmu pengetahuan terutama di bidang kedokteran. Saat ini Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK) sudah terdapat di dua institusi di Indonesia yaitu Universitas Indonesia dan Universitas Padjadjaran.
Selain itu, PSIK yang ada hamper di setiap perguruan tinggi negeri terdapat di bawah naungan Fakultas Kedokteran kecuali PSIK Universitas Jember, yang langsung berdiri menjadi PSIK pada tahun 2005.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar