Nama : Yohandani Frinda Pamungkas
NIM : 092310101058
MA : Kebutuhan Dasar Manusia II
Pengampu : Ns. Nurfika Asmaningrum, M. Kep
1. Jelaskan dari tinjauan farmakodinamik dan farmakokinetik berbagai rute obat oral, sublingual, dan bukal!
Jawab :
a. Per Oral
Rute oral adalah rute yang paling mudah dan paling umum digunakan. Obat diberikan melalui mulut dan ditelan. Obat yang diberikan per oral lebih murah daripada banyak preparat lain. Awitan kerja obat oral lebih lambat dan efeknya lebih lama. Pasien umumnya lebih memilih rute oral.
b. Sublingual
Obat sublingual dirancang supaya setelah diletakkan di bawah lidah dan kemudian larut, mudah diabsorbsi. Obat yang diberikan di bawah lidah tidak boleh ditelan. Bila ditelan, efek yang diharapkan tidak akan dicapai. Nitroglisera umumnya diberikan secara sublingual. Pasien tidak boleh minum sampai seluruh obat larut.
c. Bukal
Dilakukan dengan menempatkan obat padat di membran mukosa pipi sampai obat larut. Pasien harus dianjurkan untuk menempatkan dosis obat secara bergantian di pipi kanan dan kiri supaya mukosa tidak iritasi. Pasien juga diperingatkan untuk tidak (Potter dan Perry, 2005).
• Farmakokinetik dan Farmakodinamik dari pemberian obat rute oral (per oral, sublingual, bukal)
Absorpsi
Absorpsi adalah pergerakan partikel-partikel obat dari saluran gastrointestinal ke dalam cairan tubuh melalui absorpsi pasif, absorpsi aktif, atau pinositosis. Kebanyakan obat oral diabsorpsi di usus halus melalui kerja permukaan vili mukosayang luas. Jika sebagain dari vili ini berkurang, karena pengangkatan sebagian dariusus halus, maka absorpsi juga berkurang. Obat-obat yang mempunyai dasar protein,seperti insulin dan hormon pertumbuhan, dirusak di dalam usus halus oleh enzim-enzim pencernaan. Absorpsi pasif umumnya terjadi melalui difusi (pergerakan darikonsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah). Dengan proses difusi, obat tidak memerlukan energi untuk menembus membran. Absorpsi aktif membutuhkan karier (pembawa) untuk bergerak melawan perbedaan konsentrasi. Sebuah enzim atauprotein dapat membawa obat-obat menembus membran. Pinositosis berarti membawaobat menembus membran dengan proses menelanMembran gastrointestinal terutama terdiri dari lipid (lemak) dan protein,sehingga obat-obat yang larut dalam lemak cepat menembus membrangastrointestinal. Obat-obat yang larut dalam air membutuhkan karier, baik berupaenzim maupun protein, untuk melalui membran. Partikel-partikel besar menembusmembran jika telah menjadi tidak bermuatan (nonionized, tidak bermuatan positif atau negatif). Obat-obat asam lemah, seperti aspirin, menjadi kurang bermuatan didalam lambung, dan aspirin melewati lambung dengan mudah dan cepat. Asamhidroklorida merusak beberapa obat, seperti penisilin G; oleh karena itu, penisilin oral diperlukan dalam dosis besar karena sebagian hilang akibat cairan lambung.Absorpsi obat dipengaruhi oleh aliran darah, rasa nyeri, stres, kelaparan,makanan dan pH. Sirkulasi yang buruk akibat syok, obat-obat vasokonstriktor, ataupenyakit yang merintangi absorpsi. Rasa nyeri, stres, dan makanan yang padat, pedas,dan berlemak dapat memperlambat masa pengosongan lambung, sehingga obat lebihlama berada di dalam lambung. Latihan dapat mengurangi aliran darah denganmengalihkan darah lebih banyak mengalir ke otot, sehingga menurunkan sirkulasi kesaluran gastrointestinal.Obat-obat yang diberikan secara intramuskular dapat diabsorpsi lebih cepat diotot-otot yang memiliki lebih banyak pembuluh darah, seperti deltoid, daripada otot-otot yang memiliki lebih sedikit pembuluh darah, sehingga absorpsi lebih lambatpada jaringan yang demikian. Beberapa obat tidak langsung masuk ke dalam sirkulasisistemik setelah absorpsi tetapi melewati lumen usus masuk ke dalam hati, melaluivena porta. Di dalam hati, kebanyakan obat dimetabolisasi menjadi bentuk yang tidak aktif untuk diekskresikan, sehingga mengurangi jumlah obat yang aktif Proses ini dimana obat melewati hati terlebih dahulu disebut sebagai efek first-pass, atau first-pass hepatik. Contoh-contoh obat-obat dengan metabolisme first-pass adalahwarfarin (Coumadin) dan morfm. Lidokain dan nitrogliserin tidak diberikan secaraoral, karena kedua obat ini mengalami metabolisme first-pass yang luas, sehinggasebagian besar dar dosis yang diberikan akan dihancurkan.
Distribusi
Distribusi adalah proses di mana obat menjadi berada dalam cairan tubuh danjaringan tubuh. Distribusi obat dipengaruhi oleh aliran darah, afinitas (kekuatanpenggabungan) terhadap jaringan,dan efek pengikatan dengan protein.Ketika obat didistribusi di dalam plasma, kebanyakan berikatan denganprotein (terutama albumin) dalam derajat (persentase) yang berbeda-beda. Obat-Obatyang lebih besar dari 80% berikatan dengan protein dikenal sebagai obat-obat yangberikatan dengan tinggi protein. Salah satu contoh obat yang berikatan tinggi denganprotein adalah diazepam (Valium): yaitu 98% berikatan dengan protein. Aspirin 49% berikatan dengan protein clan termasuk obat yang berikatan sedang dengan protein.Bagian obat yang berikatan bersifat inaktif, dan bagian obat selebihnya yang tidak berikatan dapat bekerja bebas. Hanya obat-obat yang bebas atau yang tidak berikatandengan protein yang bersifat aktif dan dapat menimbulkan respons farmakologik.Dengan menurunnya kadar obat bebas dalam jaringan, maka lebih banyak obat yangberada dalam ikatan dibebaskan dari ikatannya dengan protein untuk menjagakeseimbangan dari obat yang dalam bentuk bebas.Jika ada dua obat yang berikatan tinggi dengan protein diberikan bersama-sama maka terjadi persaingan untuk mendapatkan tempat pengikatan dengan protein,sehingga lebih banyak obat bebas yang dilepaskan ke dalam sirkulasi. Demikianpula, kadar protein yang rendah menurunkan jumlah tempat pengikatan denganprotein, sehingga meningkatkan jumlah obat bebas dalam plasma. Dengan demikian dalam hal ini dapat terjadi kelebihan dosis, karena dosis obat yang diresepkan dibuatberdasarkan persentase di mana obat itu berikatan dengan protein.Jadi penting sekah untuk memeriksa persentase pengikatan dengan protein darisemua obat-obat yang diberikan kepada klien untuk menghindari kemungkinantoksisitas obat. Seorang perawat juga harus memeriksa kadar protein plasma danalbumin plasma klien karena penurunan protein (albumin) plasma akan menurunkantempat pengikatan dengan protein, sehingga memungkinkan lebih banyak obat bebasdalam sirkulasi. Tergantung dari obat (obat-obat) yang diberikan, akibat dari hal inidapat mengancam nyawa.Abses, eksudat, kelenjar dan tumor juga mengganggu distribusi obat.Antibiotika tidak dapat didistribusi dengan baik pada tempat abses dan eksudat.Selain itu, beberapa obat dapat menumpuk dalam jaringan tertentu, seperti lemak,tulang, hati, mata, dan otot.
Ekskresi, atau Eliminasi
Rute utama dari eliminasi obat adalah melalui ginjal, rute-rute lain meliputiempedu, feses, paru-paru, saliva, keringat, dan air susu ibu. Obat bebas, yang tidak berikatan, yang larut dalam air, dan obat-obat yang tidak diubah, difiltrasi oleh ginjal.Obat-obat yang berikatan dengan protein tidak dapat difiltrasi oleh ginjal. Sekali obatdilepaskan ikatannya dengan protein, maka obat menjadi bebas dan akhirnya akandiekskresikan melalui urin.pH urin mempengaruhi ekskresi obat. pH urin bervariasi dari 4,5 sampai 8.Urin yang asam meningkatkan eliminasi obat-obat yang bersifat basa lemah. Aspirin,suatu asam lemah, dieksresi dengan cepat dalam urin yang basa. Jika seseorangmeminum aspirin dalam dosis berlebih, natrium bikarbonat dapat diberikan untuk mengubah pH urin menjadi basa. Juice cranberry dalam jumlah yang banyak dapatmenurunkan pH urin, sehingga terbentuk urin yang asam.
Efek
Obat oral dapat mengiritasi lapisan saluran cerna, mengubah warna gigi, atau mengecap rasa yang tidak enak.
2. Jelaskan prinsip penghitungan dosis obat untuk dewasa dan anak!
Jawab :
Dosis atau takaran obat adalah banyaknya suatu obat yang dapat dipergunakan atau diberikan kepada seorang penderita, baik untuk obat dalam maupun obat luar.
Ketentuan umum FI. Ed. III tentang dosis
1. Dosis maksimum (DM)
Dosis ini berlaku untuk pemakaian satu kali dan satu hari. Penyerahan obat yang dosisnya melebihi dosis maksimum dapat dilakukan dengan cara membubuhkan tanda seru dan paraf dokter penulis resep; memberi garis bawah nama obat tersebut; dan menuliskan banyak obat dengan huruf secara lengkap.
2. Dosis Lazim
Dosis ini merupakan petunjuk yang tidak mengikat, tetapi digunakan sebagai pedoman umum. Misalnya, obat CTM (4mg/tablet) disebutkan dosis lazimnya 6-16 mg/hari dan dosis maksimumnya 40 mg/hari; bila seseorang minum 3x sehari 2 tablet, berarti dosis maksimumnya belum dilampaui. Akan tetapi, ini dianggap tidak lazim karena hanya dengan 3x sehari 1 tablet sudah dapat mencapai efek terapi yang optimal.
Macaam-macam dosis
Selain dosis lazim, juga dikenal macam-macam istilah dosis yang lain, yaitu
1. Dosis terapi, takaran obat yang diberikan dalam keadaan biasa dan dapat menyembuhkan penderita.
2. Dosis minimum, takaran obat terkecil yang diberikan yang masih dapat menyembuhkan dan tidak menimbulkan resistensi pada penderita.
3. Dosis maksimum, takaran obat terbesar yang diberikan yang masih dapat menyembuhkan dan tidak menimbulkan keracunan pada penderita
4. Dosis toksik, takaran obat dalam keadaan biasa yang dapat menyebabkan keracunan pada penderita.
5. Dosis letalis, takaran obat dalam keadaan biasa yang dapat menyebabkan kematian pada penderita. Dosis letalis terdiri atas
a. L.D 50: takaran yang menyebabkan kematian pada 50% hewan percobaan.
b. L.D 100: takaran yang menyebabkan kematian pada 100% hewan percobaan.
Dosis Maksimum
Daftar dosis maksimum menurut FI ed. III digunakan untuk orang dewasa yang berumur 20-60 tahun dengan bobot badan 58-60 kg. Ada beberapa ketentuan untuk dosis maksimum, yaitu
1. Untuk orang lanjut usia yang keadaan fisiknya sudah mulai menurun, dosis yang diberikan harus lebih kecil daripada dosis maksimum, seperti aturan di bawah ini.
a. 60-70 tahun 4/5 dosis dewasa
b. 70-80 tahun ¾ dosis dewasa
c. 80-90 tahun 2/3 dosis dewasa
d. 90 tahun ke atas ½ dosis dewasa
2. Untuk wanita hamil yang peka terhadap obat-obatan, sebaiknya obat diberikan dalam jumlah yang lebih kecil. Bahkan, beberapa obat yang dapat mengakibatkan abortus dan kelainan janin dilarang penggunaannya. Wanita menyusui juga tidak boleh menggunakan obat-obat tersebut karena obat dapat diserap oleh bayinya melalui air susu ibu (ASI).
3. Pemberian obat untuk anak-anak di bawah 20 tahun membutuhkan perhitungan khusus karena respons tubuh anak atau bayi terhadap obat tidak dapat disamakan dengan orang dewasa.
4. Ada tiga macam bahan obat luar yang memiliki dosis maksimum, yaitu naftol, guaiakol, dan kreosot untuk kulit; sublimat untuk mata; serta iodoform untuk obat kompres.
Perhitungan dosis
Pemilihan dan penetapan dosis memang tidak mudah karena harus memerhatikan beberapa faktor, yaitu
1. Faktor penderita; meliputi umur, bobot badan, jenis kelamin, luas permukaan tubuh, toleransi, habituasi, adiksi dan sensitivitas, serta kondisi penderita
2. Faktor obat; meliputi sifat kimia dan fisika obat, sifat farmakokinetik (ADME), dan jenis obat;
3. Faktor penyakit; meliputi sifat dan jenis penyakit serta kasus penyakit
Oleh karena aturan pokok perhitungan dosis untuk anak tidak ada, para pakar mencoba untuk membuat perhitungan berdasarkan umur, bobot badan, dan luas permukaan tubuh (body surface area). Berikut adalah beberapa rumus perhitungan dosis.
Berdasarkan usia
Rumus Young: usia anak/ usia anak+12 X dosis dewasa
Rumus Fried: usia anak dalam bulan/150 bulan X dosis dewasa
Berdasarkan BB
Rumus Thremich-Fier (Jerman): BB anak (kg)/70 X dosis dewasa
Rumus Black (Belanda): BB anak (kg)/62 X dosis dewasa
Rumus Juncker & Glaubius (paduan umur dan bobot badan): % x dosis dewasa
Berdasarkan luas permukaan tubuh
Kumpulan kuliah farmakologi UI th 1968: luas permukaan badan anak/1,75 X dosis dewasa
Rumus Catzel: luas permukaan tubuuh anak/luas permukaan tubuh dewasa X 100 X doseis dewasa
Dengan pemakaian berdasarkan jam
Menurut FI ed. III
Satu hari dihitung 24 jam sehingga untuk pemakaian sehari dihitung
24/n x ; n= selang waktu pemberian
Menurut Van Duin
Pemakaian sehari dihitung untuk 16 jam, kecuali antibiotic dihitung sehari semalam 24 jam. Untuk contoh yang sama, pemakaian sehari dihitung sebagai berikut.
16/3 + 1x= 5,3 +1= 6,3 ; dibulatkan 7x sehari semalam
Dosis maksimum gabungan harus dihitung apabila dalam satu resep terdapat dua obat atau lebih yang kerjanya searah dan tidak boleh melampaui jumlah dosis obat-obat tersebut, baik untuk sekali pakai maupun untuk pemakaian sehari. Misalnya, atropine sulfat dengan ekstrak beladona; pulvis opium dengan pulvis doveri; kafein dengan aminofilin; arsen trioksida dengan natrium arsenat.
Untuk dosis maksimum larutan yang mengandung sirop dalam jumlah besar (lebih dari 16,67% atau 1/6 bagian), bobot jenis (BJ) larutan tersebut dihitung 1,3 sehingga berat lartan tidak sama dengan volume larutan.
Volume= Berat/BJ
3. Jelaskan peran perawat dalam medikasi!
Jawab : Perawat merupakan tenaga perawatan kesehatan yang paling tepat untuk memberikan obat dan meluangkan sebagian besar bersama pasien. Hal ini membuat perawat berada pada posisi yang ideal untuk memantau respons pasien terhadap pengobatan, memberikan pendidikan untuk pasien dan keluarga tentang program pengobatan dan menginformasikan dokter kapan obat efektif, tidak efektif, atau tidak lagi dibutuhkan. Peran perawat bukan sekedar memberikan obat kepada pasien. Perawat harus menentukan apakah seorang pasien harus menerima obat pada waktunya dan mengkaji kemampuan pasien untuk menggunakan obat secara mandiri. Perawat menggunakan proses keperawatan untuk mengintergrasi terapi obat ke dalam perawatan.
4. Jelaskan hal-hal yang perlu dikaji perawat sebelum memberikan obat peroral!
Jawab :
a. Macam penggunaan/tipe obat
Obat dapat diberikan melalui beberapa cara antara lain oral, parenteral, dan sebagainya.
b. Kondisi pasien terkini
Status fisik dan mental pasien yang berkesinambungan dapat menentukan apakah obat sebaiknya diberikan dan cara pemberian obat.
c. Pengkajian pasien terhadap efek obat
d. Kemampuan pasien menelan obat
5. Jelaskan 2 diagnosa keperawatan dan 5 intervensi yang bisa muncul pada klien dengan pemberian obat peroral!
a. Diare b.d efek samping obat
Intervensi :
o Hentikan makanan padat
o Hindari produk susu, lemak, serat tinggi (tepung beras, buah-buahan segar dan sayuran)
o Secara bertahap tambahkan makanan semipadat dan padat (krakers, yogurt, nasi, pisang, jus apel).
o Perbanyak cairan tinggi kalium dan natrium (jus jeruk dan buah anggur, air daging)
o Jelaskan cara mencegah penyebaran infeksi
b. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b.d iritasi pada saluran cerna
Intervensi :
o Timbang berat badan setiap hari, pantau hasil pemeriksaan laboratorium
o Jelaskan pentingnya nutrisi yang adekuat. Negosiasikan dengan pasien tujuan asupan untuk setiap kali makan dan makan makanan kecil.
o Ajarkan individu menggunakan penyedap rasa untuk membantu meningkatkan rasa dan aroma makanan.
o Atur rencana perawatan untuk mengurangi atau menhilangkan bau yang menyebabkan ingin muntah atau prosedur yang dilakukan mendekati waktu makan
o Tawarkan makanan porsi kecil tapi sering.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar